Oleh: Mohamad Rif’at
Setiap program pendidikan mengajak siswa agar menyelidiki kehidupan, segala aspek fisik, material, dan komponen teknologi dari lingkungan, serta menerimanya dalam cara yang logis dan kreatif. Belajar adalah memahami dunia kehidupan dan dunia kerja. Dengan belajar akan dapat membantu seseorang menjelaskan gagasan, mengajukan pertanyaan, dan menguji penjelasan melalui berbagai kegiatan. Oleh karena itu, program pendidikan haruslah menyediakan kerangka kerja belajar bagi semua siswa.
Program pendidikan perlu dirancang guna mendorong semua siswa ikut serta dan melampaui syarat sekolah. Banyak siswa dengan kemampuan dan minat pada suatu mata pelajaran akan meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Beberapa di antara mereka akan meneruskan mempelajari suatu mata pelajaran sebagai subjek yang terpadu, ada juga yang ingin menjadi spesialis dalam mata pelajaran atau budaya tertentu, dan mungkin yang lain lagi menginginkan keduanya.
Program pendidikan menuju pertumbuhan dan perkembangan semua siswa, baik sebagai individu, sebagai anggota masyarakat yang punya tanggung jawab, maupun sebagai sosok yang perlu mendapatkan informasi yang diperlukan. Tujuannya adalah: (1) membantu siswa mengembangkan pengetahuan dan pemahaman yang koheren; (2) menyediakan atau memberikan arah bagi kegiatan belajar; dan (3) meningkatkan kegiatan belajar siswa. Program pendidikan perlu pula mengenali dan mendorong siswa yang berbakat, termasuk siswa yang belum lancar berbicara atau berbahasa (ragam tuna).
Dalam program pendidikan perlu dikenali bagian belajar yang merupakan bagian isinya. Bagian belajar merupakan cara pengelompokan hasil pendidikan di sekolah. Pengelompokkan tidak berarti bahwa belajar dalam setiap bagian dikembangkan secara bebas dari belajar dalam bagian yang lain. Sebagai contoh, pengembangan keterampilan dan sikap ilmiah tidak dapat lepas terhadap pengembangan gagasan dalam mata pelajaran. Setiap bagian dibagi dalam level-level menurut jenjang dan tingkat satuan pendidikan yang menggambarkan kemajuan program pendidikan dari SD hingga SMA. Penyusunan seperti itu merupakan kegiatan belajar yang diharapkan, terpasang dalam seperangkat tujuan pencapaian yang bersusun terurut dalam rangka memberikan arah kepada peningkatan keterampilan, sikap, dan pengetahuan.
Belajar digambarkan pada setiap level yang didasarkan pada keputusan dari pengalaman guru dan pada temuan dari penelitian terbaru ke dalam kegiatan belajar. Hal ini tidak berarti bahwa penggambaran ke dalam level atau tingkat satuan pendidikan dapat dengan mudah didefinisikan bagi siswa guna dapat memahami pengembangan kemampuan ilmiah dalam mata pelajaran. Kepentingannya adalah adanya pengakuan kepada siswa sebagai individu yang belajar dengan kecepatan berbeda-beda dan dalam cara berbeda. Tidaklah diharapkan bahwa siswa yang sama umurnya akan mencapai level yang sama pada waktu yang sama, tidak juga bahwa setiap individu siswa akan perlu mencapai level yang sama dalam semua bagian isi program pendidikan.
Maksud pencapaian adalah menetapkan tujuan setiap bagian belajar dan menyediakan tema yang dikaitkan dengan tujuan pencapaian pada suatu level dengan level bersesuaian lainnya. Struktur tematik dari tujuan pencapaian akan membantu guru dengan keputusan merencanakan program pendidikan. Juga akan membantu guru mengembangkan skema mata pelajaran yang kohesif, dari keseluruhan sekolah kepada level kelas secara individu. Struktur tersebut membantu mencapai kesinambungan belajar melalui level dan menyediakan rencana program pendidikan karena siswa dalam masing-masing kelas bekerja pada level berbeda dari kegiatan belajar.
Dalam merencanakan program pendidikan, guru didorong mengaitkan tujuan pencapaian dari berbagai bagian berbeda untuk menyediakan pengalaman belajar terpadu. Guru diharapkan menurunkan hasil belajar khusus dari tujuan pencapaian dan tempat hasil itu dalam konteks yang sesuai dengan kebutuhan belajar dari siswa mereka. Hasil dari belajar khusus tersebut menyediakan kriteria dalam menghadapi pencapaian siswa yang dapat dinilai oleh guru dan siswa, menggunakan suatu rentang prosedur penilaian. Informasi yang diperoleh dari penilaian ini harus digunakan guna memantau masing-masing kegiatan belajar siswa dan, pada waktu yang tepat adalah membuat keputusan tentang pencapaian siswa dikaitkan kesesuaiannya dengan tujuan pencapaian.
Sementara, siswa akan belajar secara efektif dan melihat kesesuaian belajar apabila mereka mempunyai kesempatan mengembangkan dan menggunakan gagasan dan keterampilan mereka. Sebagai contoh, sewaktu membicarakan lingkungan hidup, guru dapat mengembangkan materi itu pada masalah banjir, longsor, lahan subur, dan lain-lain. Rentangan contoh konteks belajar seperti itu agar diusulkan pada setiap level.
Siswa perlu berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang luas untuk menjamin bahwa mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang diuraikan dalam tujuan pencapaian. Untuk menyiapkan beberapa gagasan awal, rentang pengalaman belajar yang mungkin perlu diberikan pada setiap level dalam semua bagian belajar. Apabila pengalaman belajar dipertimbangkan secara kolektif, ia memberikan bimbingan tentang konsep, bahasa, pendekatan, teknik, bahan, dan peralatan yang sesuai pada level itu. Ia juga memuat cakupan dan kedalaman kegiatan belajar yang diharapkan.
Penilaian untuk program pendidikan adalah tentang peningkatan kegiatan belajar siswa dan mutu program belajar. Contoh tugas penilaian adalah pada semua level dari bagian belajar. Informasi penilaian diakumulasikan secara sistematik sehingga memungkinkan keputusan yang dibuat tentang perolehan setiap siswa dari semua rentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap tergambarkan berdasarkan tujuan pencapaian.
Hal ini akan memerlukan penggunaan tugas penilaian yang dikaitkan dengan rentang prosedur penilaian. Dalam memilih tugas penilaian, guru harus menjadi peka terhadap kegiatan belajar yang berbeda-beda dan gaya komunikasi siswa mereka. Inilah alasan lanjut bagi dunia pendidikan dalam rangka menggunakan rentang tugas-tugas dan prosedur penilaian yang lebih luas.
Guru harus mencatat bahwa beberapa tujuan pencapaian adalah luas, dan mungkin memetakan gabungan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Akibat logisnya, pencapaian siswa dari setiap tujuan khusus sering kali bergantung pada lebih dari satu unit belajar yang berdasarkan pada beberapa bagian belajar. Akan tetapi, pencapaian tujuan yang lebih luas dan lebih kompleks mensyaratkan periode waktu yang lebih lama dan melibatkan rentang pengalaman belajar yang lebih luas.
Bagi siswa berkemampuan rata-rata, pencapaian akan memerlukan waktu lebih lama pada setiap level. Namun, diharapkan bahwa skema program pendidikan di sekolah dikaitkan dengan unit lainnya. Integrasi seringkali meluas kepada bidang subjek lain dan perlu didorong. Apabila dilakukan, tujuan program pendidikan harus dikhususkan, dan perolehan siswa dipantau. Hasilnya, dalam setiap sekolah memiliki program pendidikan yang unik. Bahkan, menjadi efektif bagi sumber-sumber setempat, serta yang sesuai dengan keputusan lain yang berhubungan dengan keseluruhan kurikulum sekolah.
Maksudnya adalah bahwa siswa akan menggunakan pengembangan pengetahuan ilmiah, keterampilan, dan sikap mereka agar: (1) secara kritis dapat menilai gagasan dan proses yang berkaitan dengan program pedidikan; (2) menggali hubungan antara aplikasi program pendidikan dan pengembangannya dalam mata pelajaran tertentu; dan (3) mendapatkan pemahaman tentang pribadi, masyarakat, dan implikasi global dari aplikasi mata pelajaran pada bidang lain.
Siswa pun haruslah menghargai bahwa kerangka kerja sosial dan budaya mempengaruhi cara ilmuwan bekerja dan bahwa pemahaman dalam mata pelajaran berubah atau dapat berubah. Siswa perlu menggali kewajaran suatu ilmu pengetahuan, hubungannya dengan ilmu lain, dan berbagai implikasinya pada manusia dan lingkungan. Gagasan tersebut dapat dijelaskan dan diperluas melalui pengalaman belajar melalui penyelidikan dan proses pada setiap level. Belajar juga ditingkatkan melalui studi tentang pengembangan gagasan dan konsep ilmiah. Keduanya secara historis ada dalam masyarakat.
Pengalaman belajar dapat dilakukan dengan cara: (1) menggambarkan cara berpikir tentang suatu konsep atau informasi; (2) menggali bagaimana penggunaan ilmu pengetahuan yang dikenal; (3) menyelidiki perkembangan pengetahuan; dan (4) menggunakan berbagai temuan dari suatu pemikiran dan penyelidikan untuk membenarkan dan memberikan alasan berkenaan dengan pemilihan suatu konsep. Terima kasih. (*)
*Penulis adalah dosen FKIP Untan
Editor : Hanif