Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ibu Pejuang Sabar

Hanif PP • Selasa, 23 Desember 2025 | 09:04 WIB
Ma
Ma

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

IBU adalah sebutan mulia, mulia bukan sebatas peran dan fungsi yang disandang, tapi cinta kasih tulus yang tidak bisa diungkap meski seluruh hidup digunakan untuk menulis, mengukir jasanya. Dia tidak menuntut balas akan jasanya. Justru bahagia anak adalah kebahagiaan ibu, sengsara anak adalah kesengsaraan ibu. Pilu anak adalah kepiluan ibu, rindu anak adalah rindu Ibu, meski hari ini ibu jauh atau ibu telah wafat.

Bunda, ummi juga sebutan yang jamak dipikul oleh bahunya. Betapa gerangan ummi berarti yang dituju. Bukti bayi yang menangis, akan reda tangisan bila dipeluk ibu. Pelukan ibu adalah keramat, doanya kabul, sebagaimana laknatnya mustajab. Sejak berbentuk gumpalan darah ('alaqah), sampai proses sempurna di dalam rahim, bersama ibu. Sehingga ibu adalah pengasuh terdekat anak. Pendidikan sebelum kelahiran (pranatal) merupakan jenis pendidikan kodrati terbaik di muka bumi. Sebab pelayanan kasih tanpa pamrih, dimanja tanpa meminta imbalan jasa. Karena pendidikan pranatal tidak sedang berdagang!

Sebab ibu merupakan sekolah pertama bagi anak (al-ummu madrasatul ula). Ibu menjalankan tugas suci kenabian (profetik) dan peran kerasulan (apostolik). Begitu berat beban yang ibu tanggung, dia sangat menginginkan keselamatan, kesuksesan, kebahagiaan anaknya. Meski dirinya harus berhutang dan berkorban. Hari ini berapa banyak ibu terhutang dan tergadai, hanya ingin melihat kebahagiaan anak. Pesta pernikahan yang menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan juta, tidak sedikit ibu berhutang. Ingin melihat anak kuliah hingga meraih kesarjanaan, banyak ibu yang rela bekerja keras, siang- malam. Tubuh lelah tidak dia rasakan, sudahkah sang sarjana memeluk erat tubuh ibunya? Mencium kakinya, dan tidak menyalahi, menyakiti hati ibu.

Rasa sakit dia tahan, supaya kelihatan sehat di depan anaknya. Demi Allah, ibu memiliki kemampuan penyamaran yang luar biasa. Sulit dideteksi, kecuali dari anak yang memiliki rasa mendalam tentang kepatuhan. Ibu pemilik rasa penyantun lagi penyayang yang sangat halus. Lebih lembut daripada sutera, lebih ringan daripada angin, lebih dingin daripada tanah, lebih menyatu daripada air.

Demi cita dan cintanya, ibu rela berprofesi ganda, di rumah dan di tanah. Meski agama tidak mewajibkan seorang perempuan bekerja, tapi rasa kepedulian yang didorong atau dipaksa untuk sekadar ikut mengisi beras, garam dapur, gula pasir dan minyak makan. Esensi kehidupan saudari perempuan, dinafkahi oleh saudara laki-lakinya. Semua keperluan istri ditanggung oleh suaminya. Biaya hidup bibi, ditanggung oleh paman dan keponakan laki-lakinya. Kebutuhan anak gadis dilunasi oleh ayahnya.

Konsekuensi logis, wilayah kerja seorang laki-laki, seluas daratan bumi yang terhampar dan sedalam samudera arung yang terbentang. Sedang ibu dalam bahasa kehormatan adalah rumah sebagai mahligai jihad (fibuyutikunna). Dari rumah akan lahir presiden yang peduli, akan lahir pemimpin dunia yang adil, akan lahir kesejahteraan di negeri. Untuk memastikan sungguh perempuan adalah tiang negara (annisa 'imadul bilad).

Dihadapkan dengan realita, sungguh banyak para suami telah memberi beban ganda kepada istrinya. Menuntut istri menunaikan profesi dalam dan luar rumah secara tunai. Andai tidak terucap, karena konstruk sosial ikut membentuk keparahan yang dialami para ibu. Zaman primitif menempatkan perempuan pada posisi yang hina, dia dapat dilemahkan oleh regulasi yang dibuat oleh mesin penindas. Industrialisasi lebih senang mempekerjakan perempuan daripada laki-laki, disamping gajinya rendah dan tidak sedikit menjadi budak dari majikan. Mengapa ini terjadi, karena tanggungjawab saudara laki-laki tidak maksimal dalam melindungi saudari perempuan.

Zaman telah berubah, tapi watak manusia semakin melindas, menindas dengan melihat sosok perempuan sebagai objek, bukan subjek yang harus dihormati. Kaum termulia adalah yang sanggup memuliakan kaum perempuan. Terhina suatu negeri, karena mereka mengkhianati kaum perempuan. Bukti negeri Sodom yang dibinasakan Tuhan karena perilaku sodomi, penyimpangan seksual, LGBT. Sodom, negeri yang melecehkan kaum perempuan, karena kaum Nabi Luth mengawini lelaki sejenis (lanang karo lanang). Mereka tidak tertarik dengan kaum perempuan. Padahal Nabi Luth mempunyai gadis yang salehah dan cantik.

Diangkat dari sejarah kerasulan serta belajar darinya. Dengan catatan, negeri akan terus jaya selama mereka menghormati dan memberikan hak-hak kaum perempuan, terutama negara wajib menafkahi kaum perempuan renta mereka. Ironis, ketika perempuan menjadi pekerja tambang, kuli buruh bangunan, menjadi petani miskin di lahan sawit, atau bekerja dibawah tekanan atasan dan target perusahaan. Abai tentang cuti melahirkan, cuti menstruasi, dan tidak memaklumi beberapa keterbatasan umumnya kaum hawa.

Perusahaan yang berorientasi profit ansih, mereka tidak memberdayakan potensi karyawan. Namun, membonsai jiwa mereka ala penjajahan koloni Belanda, tunduk pada mesin regulasi  pembonsai. Atau lebih halus dengan cara memberi jabatan (tugas) di luar kesanggupan. Pelimpahan tanggungjawab di luar batas kewajaran. Lalu memberlakukan disiplin ketat, berpandangan kacamata kuda.

Negara wajib hadir membela rakyat yang tertindas di luar negeri. Sebab di dalam negeri, negara belum berkemampuan menyejahterakan rakyat lahir-batin. Akibat salah kelola, ibarat pepatah "ayam mati di lumbung padi." Bukti rakyat sengsara ialah mereka tidak menikmati hasil bumi, tambang batu bara, emas, uranium, nikel, aluminium. Rakyat tidak menikmati hasil laut seperti ikan, udang dan seluruh permata dan biota kekayaan bahari.

Sementara kuliah merogoh kocek untuk uang kuliah tinggi dan biaya tak terduga. Sungguh nasib miris yang dialami mahasiswa di luar negeri, mereka harus berhemat dengan beasiswa,  sementara keluarga ditinggal, harga kebahagiaan yang sengaja ditebus mahal. Akankah selama ini, beasiswa kurs mata uang rupiah kalah bersaing saat dikonversi ke ringgit, riyal, dan dolar? Bila tidak, pasti menyulitkan ekonomi para penimba ilmu.

Evaluasi diri bahwa peringatan hari ibu tidak sekadar seremoni. Mampukah semua anak negeri memuliakan para ibu. Ketika ditanya, siapakah anak yang tidak memuliakan ibu? Anak yang tidak memuliakan para ibu, meskipun tidak terlahir dari rahimnya. Jawaban bernas yang mengajak pada kepatuhan semesta. Ibu semua adalah sama, ibu kita. Cerewetnya merupakan bentuk kepedulian, cemburunya menciri bahwa dia sangat perhatian, "jangan-jangan" engkau keliru arah. Sudahkah ini dipahami sang-anak dengan tuntas, ternyata belum pas dan belum sepenuh hati memahami rahasianya.

Jadikan seumur hidup untuk berbakti kepada ibu. Melayani makan dan minumnya dari tangan kita sendiri. Jangan alihkan bakti suci kepada asisten rumah tangga (ART). ART melayani dengan motif gaji, honor, sangat pamrih oriented. Sedang anak melayani dengan kasih, sayang, cinta dan perhatian. Sebuah sentuhan rasa khusus yang sulit dikisahkan. Peluk tubuh ringkih dan cium mata yang sudah rabun menatapmu. Temani saat sepi, ajak tertawa riang bersama sambil mengenang masa kecil dahulu yang lucu-lucu. Jangan potong pembicaraannya, jangan akhiri dan jangan tutup kisahnya. Kecuali ibu menyudahinya!

Pernah viral, Rhoma Irama dalam lirik lagunya, menguatkan bakti anak untuk fokus memuliakan ibu. Pelajaran bagi gen-z bila mengasihi kekasih (istri), ibu lebih berhak untuk mendapat kasih dan sayang tulus anaknya. Bila rakyat mematuhi rajanya, ibu lebih berhak untuk dipatuhi.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#seumur hidup #pengorbanan #tanpa pamrih #ibu #cinta tulus