Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Merekayasa dengan Rekayasa

Hanif PP • Rabu, 24 Desember 2025 | 14:03 WIB
Abdul Hamid.
Abdul Hamid.

Oleh: Abdul Hamid*

Beberapa tahun ke belakang, kata ini: rekayasa, masih terdengar asing, jarang dipergunakan dalam percakapan sehari-hari, terkecuali di lingkungan perguruan tinggi (PT), dan instansi terkait,  terutama pada fakultas/instansi yang ada hubungannya dengan sains dan teknologi. Kini, setelah kian terus bertambahnya jumlah telepon genggam/handphone(hp), dan  kian terus bertambahnya media sosial(medsos)/media online, anak-anak sekolah dasar pun mulai mengakrabinya dalam percakapan sehari-hari, meskipun banyak juga yang belum memahami artinya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) mendefinisikan kata rekayasa dalam dua makna, yaitu sebagai kata benda, dan sebagai kiasan. Sebagai kata benda, kata ini diartikan penerapan kaidah-kaidah ilmu dalam pelaksanaan (seperti perancangan, pembuatan konstruksi, serta pengoperasian kerangka, peralatan, dan sistem yang ekonomis dan efisien).

Sebagai makna kiasan, rekayasa adalah  rencana jahat atau persekongkolan untuk merugikan, dan sebagainya pihak lain. Makna dalam kiasan ini yang tampaknya lebih dipahami daripada makna sebagai kata benda. Kasus ijazah Pak Joko Widodo, mantan Presiden RI ke-7, yang berkepanjangan, dan sejumlah kasus-kasus lain yang sempat viral dalam medsos, apalagi yang kasusnya “masih digantung”,  mempercepat kata ini dipahami, menjadi kian memasyarakat.

Di dalam lingkungan PT sendiri tampaknya mata kuliah Mekanika Rekayasa lebih susah dihafal dibandingkan kata Ilmu Mekanika Teknik, atau Rekayasa Gempa lebih sulit dihafal diingat/disebut daripada Ilmu Gempa Bumi. Rekayasa Gempa (Earthquake Engineering) lebih menunjukkan kekhususan dibandungkan Ilmu Gempa Bumi, Rekayasa Struktur lebih khusus dibandingkan dengan Mekanika Rekayasa.

Dua mata kuliah yang disebutkan ini pernah diampu ketika masih menjadi tenaga pendidik di Program Studi Teknik Sipil pada Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (UNTAN). Namun, seiring dengan perjalanan waktu, dan kemajuan dalam berbagai bidang teknologi pembangunan infrastruktur khususnya, kata rekayasa tentu akan kian mudah dihafal, disebut, atau diingat.

Kata rekayasa diterjemahkan dari bahasa inggeris engineering, sedangkan kata engineering itu sendiri berasal dari kata bahasa Latin ingenium yang berarti kecerdasan atau bakat alami. Mereka yang bergelut dalam dunia rekayasa, para insinyur, perekayasa,  sesuai keahliannya, umumnya menjunjung tinggi kejujuran, integritas, berkomitmen terhadap keselamatan,  dan kesejahteraan masyarakat.

Kian berkembangnya penggunaan software(perangkat lunak) dalam analisis berbagai bidang ilmu, tidak hanya teknologi, mendorongan kata rekayasa akan kian memasyarakat. Kini kian populer juga umpamanya:  rekayasa sejarah, rekayasa sosial, dan rekayasa ekonomi, yang kesemuanya itu sudah menggunakan perangkat lunak, dan tentu saja tak menunggu waktu terlalu lama untuk melihat hasilnya. Pekerjaan atau proses yang dulunya menyita waktu, dan biaya kini bisa diselesaikan jauh lesai cepat dalam hitungan menit/jam/hari, dengan  menggunakan rekayasa yang relevan.

Rekayasa merupakan penerapan praktis dari ilmu pengetahuan, matematika, perancangan sistem, proses, produk dalam menyelesaikan masalah praktis manusia.

Dulu diperlukan waktu cukup lama, umpamanya dalam merencanakan bangunan gedung bertingkat tinggi, apalagi kalau bentuknya tidak simetris. Skripsi analisis struktur bangunan diselesaikan berbulan-bulan bahkan bisa lebih dari setahun.

Kini, dengan adanya perangkat lunak yang relevan, semuanya dapat dikerjakan dengan cepat, termasuk gambar detailnya. Dulu, perubahan bentuk model sepeda motor, sangat lambat. Kini Anda malahan bisa memesan model sepeda motor yang sesuai dengan keinginan, menggunakan rekayasa yang sesuai. Hal ini dimungkinkan karena dalam rekayasa terkandung sains, matematika-penggunakan perhitungan dan model-proses desain.

Namun, yang harus disadari, dalam sains, matematika,  terkandung sejumlah asumsi-asumsi, analisis, simulasi, sehingga kegagalan produk dapat saja terjadi. Jadi rekayasa yang dilakukan masih tetap bisa menghadapi masalah, dan pemahaman mendasar tentang ilmu terkait tetap diperlukan. 

Rekayasa dalam arti kiasan,  rencana jahat atau persekongkolan yang banyak bentuk, jenis, dan modusnya, yang merugikan orang lain, kini tampaknya banyak juga digunakan dengan memanfaatkan rekayasa yang sesuai.  Berkembangnya teknologi informasi, dan komunikasi, menjadikan rekayasa ini juga ikut berkembang, tak akan kenal mentok, berhenti.

Tugas tiga tif : eksekutif, legislatif, judikatif pun kian berat jika benar-benar amanah, jujur, dan fatanah. Hoaks, fitnah pun kian berkembang, jika tak mau dikatakan kian menggila. Contoh sudah banyak, tak perlu ditulis disini.

Ya, merekayasa dengan rekayasa. Suatu tantangan cukup berat. Semua pihak berarti perlu terus belajar, banyak mendengar, berinovasi, berorientasi kepada keberlanjutan, kemengototan, bukan pembubaran, demi kebaikan, kesejahteraan bersama, demi NKRI.**

 

*Penulis adalah purnatugas dosen/Guru Besar Fak Teknik UNTAN sejak Agustus 2020, pemerhati masalah teknik sipil, infrastruktur, lingkungan hidup, anggota PII (Persatuan Insinyur Indonesia).

Editor : Hanif
#istilah teknis #media sosial #rekayasa #Makna Kata #kasus viral