Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

TKA Matematika Siswa Kalbar, Nasib Pengajarannya ke Depan

Hanif PP • Senin, 29 Desember 2025 | 12:15 WIB
Mohamad Rif
Mohamad Rif

Oleh: Mohamad Rif’at

Rerata nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA) siswa Kalbar adalah 34,59, peringkat 27 dari 38 provinsi, dan terendah se-Pulau Kalimantan. Data tersebut jadi dasar bagi penulis (dengan sedikit pengetahuan) untuk menuangkan pemikiran tentang pentingnya pengajaran matematika. Sementara, tulisan ini menuntut kebijaksanaan, penilaian dan kedewasaan. Kalau kita bertanya apakah pekerjaan yang rumit secara misterius ini memiliki aplikasi praktis (pertanyaan ini ditanyakan dari waktu ke waktu), lalu ada berbagai tanggapan khas, tidak satu pun pendidik menjawab yang langsung mengesankan.

Tetapi orang tidak pernah tahu, dan bagaimanapun juga terobosan pendidik merupakan kepentingan yang benar-benar mendasar bagi pengajaran, atau bahkan siapa pun punya rasa keingintahuan. Jika pendidik matematika dapat memberikan kontribusi pada bidang terapan ini, maka mereka setidaknya akan dapat menunjuk kepada aplikasi eksternal matematika yang sangat besar. Sebagian besar pendidik matematika berada di tengah spektrum, apabila dipandang dari sikap mereka terhadap aplikasi. Pendidik matematika akan senang jika mereka membuktikan teorema (termasuk menelesaikan soal-soal) yang berguna di luar matematika - tetapi umumnya mereka tidak secara aktif berusaha untuk melakukannya. Apabila diberi pilihan antara (1) masalah matematika yang menarik tetapi murni dan (2) masalah yang tidak menarik dari potensi manfaat dalam disiplin ilmu lain, maka mereka akan memilih yang pertama, meskipun mereka pasti akan merasa canggung jika tidak ada yang mengerjakan masalah praktis.

Sebenarnya, sikap tersebut dipegang bahkan oleh banyak pendidik matematika. Jika kita berharap mereka menampilkan contoh aplikasi tertentu (misalnya dalam bisnis, industri atau ilmu pengetahuan tertentu), maka akan seringkali, kita menyaksikan reaksi yang tidak nyaman. Ternyata banyak penelitian yang dilakukan bahkan di bidang praktis sebenarnya tidak praktis sama sekali (Tingkat Keterterapan Teknologi rendah).

Penulis tidak bermaksud membuka perhatian pada ‘rasa prihatin kita’, tetapi berharap bahwa fenomena ini merupakan konsekuensi alami dengan keinginan lebih banyak melihat dunia secara matematis. Alasannya adalah bahwa matematika merupakan proses dua tahap, yakni daripada belajar melihat dunia secara langsung (1) lebih cenderung menampilkan dan mempelajari apa yang disebut model dunia (2). Model ini dikenakan bahkan untuk matematika yang paling sederhana. Misalnya, menggunakan konstruksi matematika abstrak, atau model, yang dikenal sebagai konsep. Sekali lagi, kita mempelajari suatu model, semacam dunia ideal yang berisi hal-hal yang kita lakukan dan tidak muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita bekerja di bidang pendidikan matematika praktis, maka akan ada dua kriteria yang bertentangan, yakni antara model abstrak (1) yang harus akurat dan cukup berguna dengan model sederhana (2) yang cukup elegan untuk dihasilkan. Diskusinya adalah tentang matematika yang realistis dan menarik. Tentu sangat menggoda bagi seorang pendidik matematika yang nampak jauh lebih mementingkan kriteria kedua - minat dan keanggunan matematis - daripada kriteria pertama - akurasi - bahkan jika tidak segera berkontribusi pada PDB Nasional suatu negara.

Untuk memahami prestasi siswa kita dalam matematika, penulis mencoba membawa pembaca untuk mengenali ciri penting dari penilaian yang mudah diterapkan pada pengajaran. Pertimbangan utamanya adalah nilai guna dan nilai konservasi yang masing-masing memiliki kepentingan dalam membangun kapasitas matematika yang ideal serta berlanjut. Nilai guna tidak langsung terlihat pada infrastruktur, komoditas, dan penerapan umum pengetahuan matematika dalam fungsi masyarakat untuk kebaikan bersama, tetapi mengacu pada potensi yang belum digali, tantangan serta kebutuhan nyata. Nilai konservasi pengajaran matematika, meskipun memiliki konotasi kurang segera, tetapi sama pentingnya bagi siswa belajar dan wilayah yang memerlukan revitalisasi. Nilai konservasi warisan pengajaran (budaya & budaya asli masyarakat) mengacu pada manfaat yang diperoleh generasi mendatang dari apa yang dilakukan hari ini, artinya bahwa faktor motivasi utama dalam upaya peningkatan prestasi perlu dijelaskan.

Nilai konservasi eksistensi pengajaran mengakui pentingnya matematika sebagai kekuatan untuk alasan kemajuan, yang menurut Watkins, Osifo-Dawodu, Ehst, dan Cisse (2007) merupakan kekuatan motivasi bagi negara-negara yang berada pada ambang pembangunan. Nilai konservasi intrinsik mungkin berposisi lemah dalam urgensi pengajaran matematika, karena mengacu, “pencarian alami tentang pemahaman dari manusia yang berpikir”.

Pengajaran matematika memiliki nilai intrinsik karena memungkinkan lebih besar melakukan konseptualisasi pengetahuan daripada yang serba segera, bahkan lebih besar daripada tuntutan kurikulum atau konsekuensi perubahan apa pun. Penilaian juga terlihat jelas dalam inisiatif pengajaran matematika di seluruh dunia, sayangnya, di daerah-daerah yang tidak memiliki inisiatif semacam itu - kurang upaya yang bernilai guna memengaruhi siswa dan masyarakat saat ini, sementara kurangnya upaya bernilai konservasi membawa dampak buruk bagi generasi berikutnya.

Sebagian besar pembahasan mengenai pengajaran matematika saat ini mencakup dan menyertakan contoh-contoh dari berbagai tempat atau negara di dunia. Inisiatif ini biasanya merupakan bagian dari paket program nasional (atau bantuan internasional) yang dimaksudkan untuk menangani kebutuhan kapasitas pendidikan. Namun, wilayah Kalimantan Barat menghadapi tantangan lebih besar, yakni dalam modernisasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Penulis mengkhawatirkan kita terpinggirkan oleh norma budaya, sesuatu yang ironis ketika kita berada dalam kesenjangan yang begitu besar di antara provinsi  lainnya (termasuk dalam dunia industri), mengingat peran budaya dalam mendorong kemajuan ilmiah dan matematika masih minim.

Meskipun tidak secara khusus berorientasi pada pengajaran matematika, program Reformasi Pendidikan perlu dirancang untuk meningkatkan kapasitas keseluruhan siswa sekolah dasar dan menengah, sehingga mereka lebih siap untuk mengikuti berbagai tes atau pengujian, kompetisi, maupun untuk belajar lanjut ke pendidikan tinggi. Sepertinya saat ini, penulis perlu menanggapi kekhawatiran terhadap ketentuan reformasi kebijakan, antara lain adalah: (1) perlu penyempurnaan sistem yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan, termasuk sistem pendukung keputusan yang efektif dan “kegiatan penelitian pendidikan, analisis kebijakan, dan pemantauan serta evaluasi yang komprehensif dan terkoordinasi”; (2) revisi kurikulum dan penilaian, penyediaan pengembangan profesional; (3) pengembangan dan pengadaan sumber belajar, laboratorium komputer dan sains; (4) menyediakan sekolah yang aman dan tidak ramai; dan (5) “mempromosikan kesiapan belajar melalui pendidikan anak usia dini. Ini dirancang untuk meningkatkan kesetaraan di daerah dengan menyediakan taman kanak-kanak bagi anak usia 5 tahun” (Program Pendidikan Anak Usia Dini.

Program Peningkatan Kualitas Pendidikan sebaiknya dilakukan dalam dua tahap: (1) klasifikasikan tahap awal untuk mencapai penyelesaian pendidikan dasar (tuntas Kelas 1 hingga 9); memberikan lebih banyak siswa kesempatan untuk pendidikan pasca-dasar; memodernisasi pengajaran yang meningkatkan kualitas hasil dan efisiensi dalam produksinya dan (2) Proyek Peningkatan Pendidikan Tinggi yang memiliki kesetaraan dalam cakupan, terutama dalam peningkatan infrastruktur untuk inisiatif pengembangan berikutnya. Misalnya, program kaya akan penelitian, karena wilayah Kalbar merupakan daerah yang lebih terisolasi karena telah lama kekurangan pilihan. Mungkin inisiatif kolaboratif dapat memberikan solusi untuk mereformasi infrastruktur dan kebijakan yang ada, sekaligus memulai apa yang dikenal sebagai pendidikan sepanjang hayat.

Secara khusus adalah untuk "meningkatkan kualitas dan standar; mendorong penggunaan sumber daya publik yang terbatas secara efisien dan adil untuk pendidikan; memodernisasi sistem pendidikan (struktur jaringan dan lembaga); meningkatkan fleksibilitas dan relevansi orientasi pendidikan nasional". Membangun kapasitas yang berkelanjutan untuk memproduksi bahan pembelajaran berkualitas tinggi, terjangkau, dan fleksibel; mendukung pelatihan guru sebelum dan selama masa kerja di kelas serta dalam praktik mengajar dan pembelajaran. Dan, di Kalbar, perlu didirikan wilayah proyek jaringan pusat sumber daya yang akan meningkatkan akses terhadap peluang pendidikan dan penyebaran praktik-praktik pengajaran.

Memang, terkesan selama ini, kita belum (bahkan tidak) menekankan pada kapasitas pengajaran matematika, tetapi pada kebutuhan-kebutuhan dasar pendidikan. Pendidikan di Pedesaan misalnya, tidak secara khusus berorientasi pada pengajaran matematika dan sains, tetapi membahas isu-isu dasar terkait kesetaraan dan kualitas pendidikan, diikuti dengan peningkatan akses hingga ke pendidikan menengah. Kualitas pengajaran di daerah pedesaan pada posisi selanjutnya, diikuti reformasi manajemen dan kebijakan pendidikan, "mendorong keterkaitan menuju standar pendidikan, dengan mendukung pengembangan sekolah, dalam sistem penilaian nasional, melalui analisis strategis dan penelitian kebijakan". Tinjauan selama ini menemukan hasil yang beragam, yakni menunjukkan kemajuan yang lebih sedikit.

Kemudian, kita memerlukan proyek berfokus pada pengembangan pendidik dan persiapan anak usia dini, kemudian beralih ke akses melalui berbagai media dan program percepatan untuk pembelajar, dengan investasi substansial baik dalam pelayanan pendidik maupun pengembangan alat dan proses pengajaran. Namun, Proyek Pembelajaran Seumur Hidup selama ini memang berhasil memberikan kesempatan pendidikan dasar dan menengah dan telah terealisasi. Akan tetapi, komponen peningkatan pelatihan guru (PPG plus plus) juga masih dibutuhkan, terutama pada sektor-sektor tertentu serta pendanaan untuk infrastruktur. Sekali lagi, masing-masing berfungsi dengan baik melalui kerja sama penuh dari Pemerintah, termasuk dunia usaha dan dunia industri. Terima kasih. (*)

 

*Penulis adalah Dosen FKIP Untan

Editor : Hanif
#matematika #Masa Depan Pendidikan #kalbar #daya saing #Nilai TKA #TKA matematika #Pengajaran