Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Manusia “MUSIMAN” (Refleksi Renungan 2025)

Hanif PP • Jumat, 2 Januari 2026 | 10:07 WIB

Solihin Hz
Solihin Hz

Oleh: Sholihin HZ*

KATA ’musiman’ secara sederhana dapat diartikan sebagai sesuatu yang terjadi atau ada pada musim atau waktu tertentu saja. Musim buah berarti dimana-mana mudahkan ditemukan buah. Musim hujan bermakna hampir tiap hari hujan, musim panas demikian juga bahwa sudah lama tidak turun hujan dengan panas terik matahari setiap harinya. Dalam pengertian ini, maka kata ’musiman’ lebih cenderung kepada waktu. Ada juga makna lainnya yakni sesuatu yang terjadi tidak dalam jangka waktu yang berdekatan tetapi menjadi ’rutinitas’ baik perbulan maupun pertahun.

Misalnya ada istilah produk musiman, berarti karya ini hanya ada kala musim tertentu terkait moment. Musim haji berarti mendekati pelaksanaan ibadah haji dan ini pasti berlangsung setiap tahun. Musim banjir, dibeberapa daerah di Indonesia, datangnya banjir (air laut) pasang ada yang datangnya setiap tahun misalnya setiap bulan Desember dan lainnya. Bagaimana dengan manusia ’musiman’, jika mengacu kepada narasi di atas maka manusia ’musiman’ dapat dimaknai sebagai manusia yang muncul dan hadir mengikuti moment tertentu, ia tidak setiap hari hadir tapi akan hadir kala ada moment yang menyebabkan ia hadir. Selesai momen itu maka ia seakan ’hilang ditelan bumi’.

Demikian juga meskipun tidak datang secara berkala dan ’terjadwal’, manusia ’musiman’ ini cerdas melihat peluang dan kesempatan. Jika dikiranya ada keuntungan pribadi yang didapatkannya maka ia hadir untuk ’meramaikan’. Peluang itu bisa berbagi sembako gratis, amannya ’jatah perutnya’ dan berbagai kesempatan yang dari kegiatan itu ia mendapatkan keuntungan baik urusan dompet maupun urusan perut. Salahkah? Tentu tidak salah dalam perspektif yang bersangkutan tapi tepat dikatakan sebagai manusia ’musiman’.

Lantas, bagaimana dengan sikap keberagamaan seseorang terkait dengan ibadahnya? Tipikal manusia seperti uraian di atas tetap ada dan mungkin disekeliling kita atau bahkan kita sendiri. Kala ia memiliki hajat dan keperluan baik keperluan pribadi maupun kelompok maka ia muncul untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam konteks ketaatan atas perintah agama, maka kala dalam praktik keagamaannya ada keuntungan diri dan kelompoknya ia bak penganut sejati. Orang dengan tipe ini sangat mudah ditemui, jika dalam ketaatan pada perintah agamanya saja ’musiman’ apatah lagi dalam komunikasi sosialnya.

Pertemanan yang sejati sesungguhnya adalah yang menegur dan mengingatkan kita kala kita mulai jauh dari aktivitas ritual keagamaan yang mulai jarang hadir di majlis ilmu, mulai jarang ke masjid dan sebagainya. Pertemanan yang sejati juga ditunjukkan dengan sekeliling kita yang mensupport manakala kita semangat beribadah. Tepat jika disebutkan bahwa teman memberikan efek terhadap keberagamaan kita.

Manusia ’musiman’ adalah tipikal manusia yang keistikamahannya sedang tahap belajar (untuk tidak mengatakan manusia plin-plan). Ternyata istikamah atau teguh pendirian adalah aktivitas hati dan gerak yang berat. Seseorang bisa membaca al Quran dengan baik dan lancar tapi istikamahkah dalam pelaksanaannya, ia orang yang kelihatan berinfaq tapi istikamahkah ia sehingga menjadi ahli sedekah. Ia kelihatan melaksanakan salat sunah namun istikamahkah ia dalam kesehariannya?

Manusia ’musiman’ menunjukkan bahwa kualitas diri dan bahkan kualitas keimanannya masih tergantung iklim dan cuaca. Al Quran menyinggung manusia tipe ini dengan oang yang disebutkan: ”Maka apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, "Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku." Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS Az-Zumar/ 39: 49).

Menjadi manusia ‘musiman’ dan istikamah adalah pilihan. Namun secara jelas Allah SWT menyatakan keutamaan istikamah dengan: ”Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS Fushshilat/ 41: 30).

Selanjutnya? Anda yang memutuskan, tapi mohonlah kepada-Nya agar diberikan hati yang condong pada kebaikan dan didekatkan dengan aktivitas yang bernilai ibadah.*

 


*Kepala MAN 1 Pontianak,

 Penulis Buku ’Ku Ingin, Semua Pintu Surga Memanggilku

Editor : Hanif
#Musiman #makna #manusia #refleksi