Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran
Pengangkatan guru ASN (Aparatur Sipil Negara), pelantikan guru PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), dan guru yang saat ini sedang mengikuti PPG DALJAB (Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan), baik secara RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) maupun kelas reguler, merupakan secercah harapan terang bagi dunia persekolahan. Mengingat bangsa ini membutuhkan guru. Guru adalah profesi yang melahirkan profesi lainnya. Guru harus dihargai negara dengan tunjangan profesi yang layak. Guru bukan beban negara.
Dalam konteks keindonesiaan, sebagai bekal tugas guru yang baru dilantik, Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Indonesia) menyebut tiga semboyan pendidikan, sebagai berikut.
Tut Wuri Handayani
Semboyan Tut Wuri Handayani merupakan salah satu prinsip kepemimpinan pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Semboyan ini memiliki arti “dari belakang memberi dorongan dan pengaruh baik”. Pendidik harus memberikan ruang bagi peserta didik untuk berproses, bertumbuh, dan berkembang untuk belajar being dan becoming. Mengekspresikan jati diri dan menjadi diri sejati, bukan karbitan, bukan paksaan arus politik.
Dengan demikian, profesi guru dan keguruan bersifat independen. Artinya, bebas dari tekanan apa pun dan dari mana pun. Dalam rangka menghargai profesi guru beserta kode etik dan perlindungan hukum bagi guru, guru memiliki empat kompetensi mutlak, yaitu kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi personal, yang berjalan secara simultan. Artinya, otorisasi dan otonomi guru, selama dalam batas profesi, tidak boleh diganggu gugat, meski oleh kepala sekolah atau kepala madrasah. Sebab, kepala madrasah adalah guru yang mendapat tugas tambahan administratif.
Mahasiswa dan siswa milenial membutuhkan sosok kepemimpinan pendidikan (guru dan dosen) yang memiliki daya juang dan daya dorong untuk kemajuan bangsa. Bukan klise, sekiranya semua elemen masyarakat, bangsa, dan negara sepakat menuju Indonesia bersih, bebas korupsi. Untuk kepentingan itu, mata kuliah memuat Pendidikan Antikorupsi, di samping mata kuliah yang telah ada, seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Multikultural, dan Pendidikan Kewirausahaan.
Prinsip umum Tut Wuri Handayani dikembangkan ke dalam petunjuk teknis (juknis) Kurikulum Merdeka (KURMER) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Hal ini dilanjutkan pada tataran praktis berupa pembelajaran kooperatif, seperti tutor sebaya; pembelajaran siswa aktif; serta pembelajaran CTL (contextual teaching and learning) dalam situasi pembelajaran langsung (direct) dan pembelajaran tidak langsung (indirect).
Penciri pembelajaran abad ke-21, di antaranya, adalah peralihan paradigma pembelajaran pada horizon baru untuk generasi milenial. Hal ini bertujuan mengantisipasi kemajuan teknologi informasi yang telah menjadi watak (tabiat) zaman.
Berikut uraiannya. Pertama, peralihan dari penggunaan sumber belajar tunggal menjadi multisumber belajar. Rahmat Tuhan dengan penemuan teknologi informasi di era transformasi digital menjadikan dunia kini dalam genggaman (telepon seluler). Dampaknya, komunikasi, jaringan, transaksi, serta tukar-menukar ide politik, ekonomi, dan budaya bersifat terbuka dan transparan, lintas negara dan lintas benua. Dunia hari ini tak ubahnya seperti desa kecil (global village). Akibatnya, dunia maya dapat menghidupkan usaha seseorang karena kepercayaan warganet. Sebaliknya, dunia maya juga sanggup mematikan usaha seseorang karena viralnya caci maki warganet.
Kedua, peralihan dari pola pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher-centered learning) menjadi pembelajaran yang terpusat pada siswa (student-centered learning). Dampak ikutan dari perubahan ini adalah penekanan pada proses, bukan semata hasil (result) pembelajaran. Hal ini mempertimbangkan bahwa siswa adalah individu yang terus bertumbuh, belajar, dan berproses dalam menggali pengetahuan serta pengalaman kehidupan. Keniscayaan pembelajaran bukan hanya membuat mereka pintar, melainkan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat. Rasulullah SAW bersabda, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.” (HR. Muslim)
Ketiga, pengupasan satu materi ajar ditinjau dari banyak disiplin ilmu atau multiperspektif. Maksudnya, disiplin ilmu lain turut berandil dalam memperkaya materi ajar (enrichment) guna menambah dan memperdalam informasi, sehingga kemampuan siswa menjadi luas dan melampaui rata-rata capaian belajar bersama.
Multiperspektif terhadap materi ajar juga merupakan upaya mengintegrasikan seluruh potensi belajar, media, metode, dan teknik. Hal ini mempertimbangkan bahwa gaya belajar siswa sangat beragam, seperti auditori, visual, kinestetik, maupun kombinasi. Guru diharapkan mampu mengakomodasi perbedaan tersebut. Selain itu, gagasan ini mendorong pembelajaran nondikotomis dengan pendekatan integratif.
Ing Ngarso Sung Tulodo
Guru berposisi di depan siswa sebagai pemimpin teladan bagi jiwa pendidikan yang patut dicontoh. Guru tidak sekadar mampu memberi contoh kebaikan, tetapi dirinya sendiri adalah kebaikan itu. Kebaikan yang inheren, terwujud dalam perilaku guru, bukan sekadar pengaruh luar.
Tolok ukurnya, guru mampu hadir ketika siswa mengalami kesulitan belajar, gangguan konsentrasi, bahkan mencarikan jalan keluar sebagai pemecah masalah (problem solver). Karena posisinya di depan sebagai teladan, seribu siswa sama dengan seribu jiwa yang memandang guru. Guru ibarat kawah Candradimuka bagi siapa pun yang meneladaninya, terutama siswa.
Guru milenial ibarat malam yang tidak mempermalukan siswa di hadapan siswa lainnya. Artinya, guru menjadi peti rahasia bagi aib siswa. Siswa yang merasa dihargai akan menghargai guru. Sebaliknya, guru yang mempermalukan siswa suatu ketika akan dibuat malu. Ketahuilah, guru bukan hanya ibarat malam, tetapi juga siang. Makna karakter siang adalah guru yang mengangkat prestasi siswa sehingga terang gemilang dan dunia persekolahan tampak cerah.
Guru ibarat langit yang tinggi menjulang, atap raksasa tanpa tiang, berfungsi memayungi dan melindungi (to protect), bahkan menurunkan hujan bagi tumbuhan yang bertunas dan berbuah dengan aneka rasa serta indah dipandang. Guru juga ibarat bumi yang rendah, rela diinjak dan dilukai demi kemakmuran manusia. Meski memendam sakit, bumi tidak marah. Ia mengandung humus bagi pertanian dan perkebunan, serta menyimpan beragam kekayaan alam. Lautnya menyimpan berton-ton ikan dan udang yang tidak pernah habis karena adanya biota hayati laut. Ia menjadi jalan panjang kehidupan manusia, dari lahir sampai wafat.
Sungguh indah karakter guru. Ia tahu kapan harus berucap dan kapan harus diam. Ia menyimpan mutiara ratna mutumanikam, sehingga ucapannya menjadi nasihat sakti yang selalu diingat sepanjang masa. Perilakunya menjadi suri teladan bagi siswa, kini dan kelak.
Ing Madya Mangun Karsa
Guru berposisi di tengah sebagai pelopor, motivator, mediator, dan pemrakarsa. Sebagai pendidik yang hidup berdampingan dengan siswa di sekolah dan madrasah, sosok guru sangat diperlukan untuk membangkitkan semangat belajar. Guru menumbuhkan karsa dan karya, membangkitkan ide pembaruan, serta memicu kreativitas. Guru memacu kemauan untuk berkemajuan demi meraih cita-cita bersama. Kebaruan gagasan guru cerdas tidak pernah habis, menembus sekat ruang dan membongkar kebisuan waktu.
Selamat berkarya, guru-guruku tercinta. Selamat mengajar, guru-guruku tersayang.
*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.
Editor : Hanif