Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Guru Harus Pandai Membujuk Siswanya

Hanif PP • Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:46 WIB
Santriadi.
Santriadi.

Oleh: Santriadi*)

Guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru oleh siswa. Guru adalah orang yang melakukan proses pembelajaran dan pengajaran kepada siswa. Sosok yang mengarahkan pendidikan dengan mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada siswa, karena guru adalah pendidik, pengajar, dan fasilitator, sehingga peran guru menjadi sangat urgen dalam dunia pendidikan. Salah satu faktor keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh guru. Guru juga yang menjadi sorotan jika mutu pendidikan buruk dan hancur.

Di zaman seperti sekarang ini, masihkah guru dijadikan sebagai teladan di mata siswa? Guru yang dapat dijadikan sebagai teladan adalah guru yang diinterpretasikan dengan sosok yang tidak hanya melaksanakan pembelajaran di sekolah, melainkan juga di luar sekolah seperti di masjid/surau, di rumah, organisasi kemasyarakatan dan di tempat lainnya. Multi peran seorang guru seperti itulah yang menjadikan guru berwibawa tidak hanya bagi siswa, tapi juga guru punya andil di masyarakat sehingga setiap perbuatan dan ucapannya selalu diikuti dan ditaati.

Ketika proses pembelajaran di sekolah, ucapan guru menjadi nasihat kepada siswa. Jika nasihat itu belum bisa diterima dan belum masuk ke relung hati siswa, maka guru akan menggunakan jurus lain. Salah satunya adalah dengan membujuk siswanya agar bisa menerima ajaran sekaligus ajakan dari sang guru (tentunya yang baik dan positif). Maksud membujuk di sini adalah rayuan yang mengandung ajakan yang baik-baik sehingga siswa mau mengikuti setiap instruksi positif dari gurunya.

Anak zaman sekarang memang jauh berbeda dengan anak pada zaman dulu. Apalagi anak sekarang yang sudah terkontaminasi dengan gadget/HP, game online, dan sejumlah aplikasi lainnya dari layar HP. Fenomena ini berdampak anak lebih senang bermain daripada belajar. Di sinilah tugas berat seorang guru untuk membujuk siswanya agar mereka bisa tertarik dan senang dengan pelajaran sekaligus ‘mengembalikan gairah’ belajar mereka, terutama siswa yang sudah kecanduan dengan gadget/HP-nya.

Dampak buruknya, begitu banyak anak putus sekolah, anak nakal dan manja, anak maunya serba instan, anak lebih akrab dengan game, dan sebagainya. Kondisi seperti itu mengakibatkan anak malas sekolah bahkan tidak sekolah lantaran keasyikan bermain game sampai larut malam sehingga besoknya bangun kesiangan. Kalaupun dipaksakan untuk ke sekolah, bisa dipastikan akan datang terlambat dengan mata bengkak dan kemerahan akibat kurang tidur. Parahnya lagi anak seperti itu sering tidak masuk sekolah karena di jam-jam sekolah masih tidur dengan pulasnya di rumah.

Jika orangtua sudah tidak mempan menasihati putra-putrinya, maka guru harus bisa memainkan perannya dengan bujukan moral yang dimilikinya.

Guru menempati kedudukan yang cukup terhormat di masyarakat, karena kewibawaan dan figurnya sebagai sosok yang dapat digugu dan ditiru. Guru dihormati lantaran masyarakat meyakini bahwa guru dapat mendidik anak mereka menjadi orang yang memiliki kepribadian baik. Betapa banyak anak yang sudah tidak mempan dinasihati oleh orangtua, dan mereka masih mau mendengar nasihat dari gurunya.

Oleh karena itu, guru harus memanfaatkan situasi dan fenomena seperti ini. Selain menjadi teladan yang baik bagi siswa, guru juga menjadi sorotan di mata masyarakat. Namun sebaliknya, jika perangai sang guru buruk dan tidak baik untuk dicontoh, jangan heran jika siswanya akan berbuat jauh lebih buruk dari yang dilakukan oleh gurunya. Tak heran bila peribahasa yang menyatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Di mata masyarakat pun oknum guru seperti itu sudah mencoreng nama baik profesionalitas dan kode etik guru yang bermartabat.

Ketika guru membujuk siswa, maka lisan guru kepada siswa akan masuk lewat indera pendengaran kemudian menyentuh ke hati dan terkoneksi ke otaknya untuk memikirkan dan mencerna bujukan dari gurunya. Dengan harapan, semoga siswa yang malas sekolah, sering terlambat datang ke sekolah, malas mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelajar, suka begadang akibat kecanduan game akan bisa berubah perlahan-lahan, biar lambat tapi pasti. Tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui dan memastikan akan jadi apa anak-anak kita kelak di masa yang akan datang. Jadi pejabat, politikus, pengusaha sukses atau apa saja, mereka akan ingat dengan bujukan dari gurunya.

Semoga bujukan seorang guru bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik sehingga anak-anak kita menjadi tunas harapan bangsa yang bisa bersaing dan memiliki karakter dan kepribadian serta memiliki adab dan kesopanan yang bisa dibanggakan oleh orangtuanya, agama, nusa dan bangsa. Dari bujukan inilah, anak yang sekarang dianggap nakal kelak akan menjadi anak yang baik dan anak yang sudah baik akan lebih baik lagi, serta anak yang berilmu akan menjadi anak yang berilmu dan beradab. Aamiin. Wallahu a’lam.**

 

*Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Editor : Hanif
#pendidikan #sekolah #guru #peran penting #Teladan #Membentuk Karakter Siswa