Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kualitas Tidur dan Prestasi Siswa

Hanif PP • Rabu, 14 Januari 2026 | 12:06 WIB
Y Priyono Pasti.
Y Priyono Pasti.

Oleh: Y Priyono Pasti*

Data capaian hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) nasional 2025 secara resmi telah diumumkan pada Selasa (23/12/2025).  Rerata nilai bahasa Inggris wajib hanya 24,93 dari 3.509.688 siswa. Rerata nilai matematika wajib 36,10 dari 3.489.148 siswa, dan rerata nilai bahasa Indonesia 55,38 dari 3.477.893 siswa. Adakah kualitas tidur ikut menyebabkan rendahnya prestasi siswa? Tulisan ini menguliknya.

 

Syarat Utama

Konsentrasi merupakan syarat utama dalam keberhasilan akademik siswa (Suralaga, 2018). Siswa yang memiliki tingkat konsentrasi tinggi cenderung lebih mampu memahami konsep-konsep kompleks dan menyelesaikan tugas dengan lebih efektif dan hasil yang lebih baik. Sebaliknya, siswa yang mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi seringkali tertinggal dalam memahami materi dan tidak dapat mencapai hasil yang optimal.

Salah satu aspek yang memengaruhi kualitas konsentrasi belajar siswa adalah pola tidur dan kualitas tidurnya. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keterbatasan waktu tidur dapat memengaruhi perkembangan menyeluruh dalam aspek fisik, psikologis, dan sosial seseorang, termasuk evolusi fungsi otak serta kemampuan dalam penetapan keputusan (lih. Grace Elicia Sitorus, dkk., 2025).

 

Korelasi Positif

Kualitas tidur memiliki korelasi positif yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Dengan tidur yang cukup dan berkualitas, siswa akan mampu mengonsolidasi memori, meningkatkan fokus dan konsentrasi, serta meningkatkan fungsi kognitif lainnya yang esensial untuk belajar.

Siswa yang memiliki pola tidur cukup dan berkualitas cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Sebaliknya, siswa yang kurang tidur cenderung mengalami masalah kesehatan, kurangnya energi, daya ingat, daya pikir, suasana hati yang gundah, dan penurunan konsentrasi belajar. Akibatnya, kemampuan  menurun dalam memecahkan masalah (problem solving). Dalam konteks ini, salah satu Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), yaitu tidur cepat menemukan aktualitasnya.

Dari sejumlah riset terungkap, banyak anak mengalami kurang tidur. Penyebabnya beragam, mulai dari waktu terlelap terlalu larut hingga terjaga cukup lama karena berbagai gangguan. Celakanya lagi, orangtua sering kurang memperhatikan berapa lama anak tertidur dan seberapa sering anak terbangun di malam hari. Padahal, waktu terjaga di malam hari akan mengurangi durasi tidur anak dan memengaruhi kualitas tidur.

Dikutip dari koran nasional (Rabu, 8/10/2025), penelitian terbaru di Brown University, Amerika Serikat, mengungkapkan, anak-anak tak mendapatkan waktu tidur sebanyak yang diperkirakan orangtua mereka. Banyak anak tidur kurang dari sembilan jam. Padahal, menurut American Academy of Pediatrics, yang hasil studinya telah dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Pediatrics, Oktober 2025, anak-anak berusia 6-12 tahun seharusnya tidur 9-12 jam per malam.

Dilansir dari Eurekalert.org, Selasa (7/10/2025), para peneliti melacak pola tidur 102 anak sekolah dasar selama sepekan. Lebih dari 80 persen orangtua meyakini anak mereka tidur dalam durasi sesuai dengan pedoman yang dianjurkan, yaitu 9-12 jam.

Namun, hanya 14 persen yang memenuhi pedoman tidur tersebut. Temuan ini menambah kekhawatiran orangtua karena anak tidak mendapatkan waktu tidur yang dibutuhkan. Apalagi, kurang tidur dapat berdampak buruk terhadap kesehatan anak, termasuk kesehatan mental.

Data akselerometer menunjukkan waktu tidur anak rata-rata hanya 8 jam 20 menit. Namun, orangtua melaporkan anak-anak mereka tidur lebih dari 9,5 jam. Perbedaan ini disebabkan waktu yang tak diperhitungkan oleh orangtua.

Kurangnya waktu tidur anak dapat disebabkan oleh kebiasaan di lingkungan keluarga, seperti menormalisasi waktu tidur yang larut dan tidak membatasi penggunaan layar elektronik menjelang tidur. Penggunaan layar elektronik setiap hari sebelum tidur membuat durasi tidur 48 menit lebih sedikit per minggu. Prevalensi kurang tidur juga 33 persen lebih tinggi dibandingkan dengan peserta yang tidak menggunakan layar sebelum tidur.

Penelitian lain yang dipublikasikan di jurnal JAMA Network menyebutkan, kebiasaan menatap layar elektronik membuat waktu tidur menjadi lebih larut. Waktu tidur menurun sekitar 50 menit per minggu akibat kebiasaan itu.

Kebiasaan menatap layar elektronik yang berdampak pada menurunnya kualitas tidur dengan segala dampak negatifnya itu, harus menjadi perhatian serius orangtua. Pasalnya, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2022, sebanyak 98 persen anak berusia 6-12 tahun memakai gawai. Setiap anak menggunakan waktu rata-rata 6 jam 45 menit per hari untuk menonton video, main gim, dan mengakses media sosial di setiap gawai..

Mengingat bahaya kurang tidur, terutama di kalangan siswa (anak-anak) dengan segala dampak negatifnya itu, menciptakan ekosistem yang mendukung kesehatan tidur yang sehat menjadi keharusan. Orangtua mesti mengambil langkah-langkah proaktif-konstruktif untuk meningkatkan kualitas tidur anak.

Ada sejumlah rekomendasi yang mesti dilakukan. Pertama, orangtua perlu meningkatkan komunikasi kultural dengan anak terkait pentingnya waktu tidur yang berkualitas. Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), di antaranya tidur yang cukup mesti ditanamkan secara mendalam dan elegan kepada anak.

Kedua, orangtua mesti mengatur jadwal tidur dan bangun anaknya yang konsisten serta mendorong anaknya melakukan aktivitas fisik memadai pada siang hari.

Ketiga, orangtua mesti menciptakan lingkungan tidur yang nyaman. Keempat, orangtua mesti membatasi  anak dalam menggunakan layar elektronik menjelang tidur.

Mewujudkan siswa berprestasi sebagai generasi bangsa yang berkualitas menyongsong Indonesia Emas 2045 adalah kewajiban dan tanggung jawab kita bersama. Oleh karena itu, mari kita, khususnya orangtua ikut memastikan untuk membentuk anak-anak Indonesia menjadi pribadi-pribadi hebat yang cerdas secara intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan berkarakter. Di antaranya dengan menciptakan durasi tidur anak yang sehat dan berkualitas.**

 

*Penulis adalah alumnus USD Yogya; guru di SMP/SMA St. F. Asisi Pontianak.

Editor : Hanif
#prestasi #nasional #kualitas tidur #Hasil TKA #siswa #capaian akademik