Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Skripsi di Tengah Keterbatasan

Hanif PP • Rabu, 28 Januari 2026 | 11:06 WIB
Dr. Antonius Setyawan Sugeng Nur Agung, M.Hum
Dr. Antonius Setyawan Sugeng Nur Agung, M.Hum

Oleh: Dr. Antonius Setyawan Sugeng Nur Agung, M.Hum*

Dalam era di mana tulisan akademik dapat dibuat dalam hitungan detik dan kelulusan sering terbatas pada masalah administratif, makna skripsi kembali dipertanyakan. Apakah itu masih ruang pembelajaran atau hanya hambatan terakhir sebelum ijazah? Pertanyaan ini menjadi lebih serius ketika diajukan dari pinggiran, seperti daerah afirmasi di mana keterbatasan adalah pengalaman hidup sehari-hari dan bukan hanya sekadar klise karena memang sungguh nyata dan ada. Di sana, skripsi tidak hanya menguji kemampuan akademik mahasiswa dan mahasiswi, melainkan juga menguji moral belajar, keberanian intelektual, dan daya tahan berpikir di tengah tekanan struktural.

Bagi mahasiswa di daerah afirmasi, skripsi adalah proses akademik yang dilakukan di tengah keterbatasan. Dalam wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), akses piranti elektronik yang terbatas. Koneksi internet yang tidak selalu stabil. Minimnya sumber referensi. Terbatasnya akses jurnal berlangganan dan dukungan akademik yang tidak merata menyulitkan penulisan skripsi. Kondisi di daerah pinggiran seperti ini menciptakan pengalaman penulisan skripsi yang berbeda dari pengalaman mahasiswa/i di kampus perkotaan. Skripsi biasanya dianggap sebagai tugas administratif yang harus diselesaikan segera sebelum lulus dan bukanlah sarana pembelajaran akademik yang ideal.

Nilai pendidikan perlahan tergerus ketika skripsi dianggap terutama sebagai tugas administratif yang harus segera diselesaikan untuk lulus. Skripsi, pada gilirannya, merupakan proses belajar berpikir: merumuskan masalah, merancang langkah-langkah penelitian dengan hati-hati, membaca dan menafsirkan data, dan bertanggung jawab secara akademik atas hasil penelitian. Seperti yang dialami mahasiswa di daerah afirmasi, proses ini membutuhkan banyak waktu, usaha, dan kesabaran, yang merupakan modal yang sulit dimiliki.

Jalan pintas sering tampak logis karena tekanan untuk segera lulus dan harapan besar untuk keluarga agar segera bisa bekerja. Celah ini membuka ruang untuk hadirnya jasa perjokian penulisan skripsi, plagiarisme dan penulisan dengan kecerdasan buatan/AI. Meskipun fenomena tersebut tidak dapat dibenarkan, memahaminya secara eksklusif sebagai masalah moral seseorang juga tidak adil. Ini karena fenomena tersebut mencerminkan masalah struktural yang lebih luas, seperti budaya instan dan pemaknaan skripsi yang direduksi menjadi syarat kelulusan semata.

Masalah penulisan skripsi di daerah pinggiran membuka tabir terang bahwa alat apa pun tidak dapat menggantikan proses berpikir akademik secara keseluruhan. Meskipun teknologi, seperti kecerdasan buatan, dapat membantu memperbaiki bahasa dan struktur tulisan, proses yang dipertanyakan, menimbang pilihan, dan mengambil keputusan tetap menjadi tanggung jawab manusia. Keterbatasan ini adalah penyemangat untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis bagi banyak mahasiswa afirmasi.

Menurut pengalaman para dosen pembimbing di sana, skripsi yang dikerjakan secara mandiri sering kali mencerminkan pemahaman yang lebih otentik, meskipun tidak sempurna secara teknis. Mahasiswa mungkin tidak mahir dalam bahasa atau metodologi, tetapi mereka tahu apa yang diteliti, mengapa itu dilakukan, dan mengapa itu penting untuk dilakukan. Karena itu, skripsi tidak seharusnya dianggap sebagai tugas administrasi atau sekadar kebiasaan akademik. Sebaliknya, skripsi harus menjadi tempat di mana siswa diminta untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari.

Pengalaman mahasiswa terutama di daerah pinggiran menunjukkan bahwa kemampuan mengatasi dan memaksimalkan keterbatasan untuk membuat keputusan akademik yang rasional lebih penting daripada jumlah sumber daya yang tersedia. Skripsi masih relevan bahkan di era AI. Ini bukan karena AI tidak bisa menulis. Ini karena memikul tugas dan tanggung jawab akademik adalah pekerjaan manusia yang tidak dapat dilakukan oleh mesin.**

 

*Penulis adalah dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kalimantan Barat.

Editor : Hanif
#afirmasi #keterbatasan #daya tahan #skripsi #administrasi #Intelektual #ujian moral