Oleh: Y. Priyono Pasti*
MEMBACA Koran Pontianak Post merupakan menu sarapan pagi saya yang paling lezat. Saya hampir tidak pernah melewatkan sajian berita dengan beragam variasi yang dihidangkan oleh “koki dapur” redaksi yang berpengalaman dan kompeten di bidangnya.
Tak terkecuali pada Kamis pagi (29/1/2026), saya menyantapnya dengan lahap. Namun, tak seperti biasanya, hati saya seakan hancur berkeping-keping tatkala membaca berita tentang seorang siswi MTs yang nekat mengakhiri hidupnya pada Kamis (22/1/2026) lalu. Sebelum melakukan aksi bunuh diri, ia sempat menuliskan surat untuk mamanya yang berjudul “Surat Terakhir untuk Mama”.
Melalui surat terakhir tersebut, siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Kota Pontianak berusia 13 tahun berinisial C, yang beralamat di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, menuliskan permintaan maaf kepada ibunya. Selain berisi permintaan maaf, ia juga mengungkapkan rasa takut menghadapi hari esok. Lalu, mengapa seorang anak nekat melakukan tindakan bunuh diri?
Bunuh diri (dr. Rizal Fadli, diperbarui 2025) adalah tindakan seseorang yang secara sengaja mengakhiri hidupnya sendiri. Bunuh diri (bundir) dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti overdosis obat, gantung diri, mencelakai diri di jalan raya, atau melompat dari tempat tinggi (gedung bertingkat).
Bunuh diri sering kali merupakan manifestasi dari kesedihan atau rasa putus asa yang mendalam dalam diri seseorang. Anak merasa putus asa, takut, dan tidak melihat adanya solusi keluar dari jerat masalahnya. Bundir merupakan masalah serius yang harus disikapi dan diwaspadai secara bijak karena memiliki dampak yang dapat menghancurkan keluarga dan masyarakat.
Ada banyak faktor yang memicu anak melakukan aksi bunuh diri. Psikolog dan ahli kejiwaan menyatakan bahwa sejumlah faktor tersebut antara lain depresi berat, tekanan emosional ekstrem, kurangnya dukungan sosial, konflik keluarga, kegagalan akademis, trauma masa lalu, atau dipicu oleh perundungan yang berlebihan, termasuk cyber bullying.
Secara lebih rinci, pemicu anak bunuh diri antara lain: (1) masalah kesehatan mental (mental health), (2) tekanan emosional, (3) merasa terisolasi, (4) mengalami pelecehan dan kekerasan, (5) masalah keuangan, (6) tingkat stres yang tinggi, dan (7) gangguan kepribadian.
Kemajuan negeri ini, bangsa Indonesia, sangat ditentukan oleh kualitas anak-anak kita sebagai generasi peradaban. Anak-anak yang hari ini tengah menjalani pendidikan dan pembelajaran di satuan pendidikan adalah anak bangsa yang sedang bertumbuh dengan segala keunikannya. Jika pertumbuhan mereka keliru dan mereka tidak merasakan suasana yang membahagiakan, baik di rumah maupun di sekolah, maka bangsalah yang akan merugi.
Oleh karena itu, membahagiakan anak, baik di rumah maupun di sekolah, yang merupakan generasi emas yang kelak membangun, menjaga, dan merawat kemajemukan negeri ini, menjadi kunci utama.
Kita semua, khususnya pihak keluarga (orang tua), memiliki peran penting untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, dan partisipasi dalam menjamin serta memastikan pemenuhan hak anak atas hidup, tumbuh, berkembang, berkreasi, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. Pada titik ini, melindungi anak demi mewujudkan anak bahagia untuk kemajuan bangsa Indonesia menjadi sebuah keharusan.
Sangat Penting
Kebahagiaan memiliki peran yang sangat penting dalam mengoptimalkan tumbuh kembang bakat dan minat anak dengan segala keunikannya. Anak yang senantiasa dilingkupi suasana bahagia akan tumbuh menjadi pribadi dengan karakter dan emosi positif. Anak yang tumbuh di lingkungan sekolah yang bahagia akan lebih mudah bergaul, percaya diri, serta cenderung menjadi orang dewasa yang bahagia dan sukses.
Mengutip dee1933 yang dipublikasikan pada Senin (11/2/2019), anak yang bahagia memiliki kesempatan lebih besar untuk sukses di bidang akademis maupun karier. Elisabeth Santosa menjelaskan bahwa anak yang tumbuh bahagia memiliki kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, kemampuan sosial, kesadaran moral, serta kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik dibandingkan anak-anak pada umumnya.
Selain itu, menurut studi psikolog dari Pennsylvania State University dan Duke University, anak yang bahagia akan lebih mampu memahami dan menaati peraturan di sekitarnya. Kemampuan ini berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan anak di masa depan, termasuk keberhasilan pendidikan, kesuksesan karier, dan pencapaian lainnya. Itulah sebabnya, mewujudkan anak bahagia menjadi sebuah keharusan. Dalam konteks dunia pendidikan, bagaimana upaya yang mesti dilakukan untuk mewujudkannya?
Belajar Membahagiakan
Kasus meninggalnya siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Kota Pontianak berusia 13 tahun berinisial C hendaknya menjadi keprihatinan bagi satuan pendidikan. Sekolah perlu melakukan refleksi atas pelaksanaan dan tata kelola proses pembelajaran yang selama ini dijalankan.
Kasus bunuh diri siswa tersebut merupakan cermin bagi kita semua, termasuk dunia pendidikan, tentang rapuhnya kesehatan mental di bawah tekanan kehidupan sosial yang semakin kompetitif. Bisa jadi, kondisi pembelajaran yang tidak membahagiakan turut memicu tindakan yang jauh dari nilai kepantasan dan keadaban.
Di tengah berbagai problematika hidup yang kian menyesakkan, termasuk yang dihadapi siswa, pembelajaran yang membahagiakan merupakan sebuah keharusan. Proses belajar yang membahagiakan (joyful learning) diyakini mampu menciptakan suasana menyenangkan dan memudahkan siswa memahami materi pelajaran.
Agar proses belajar berlangsung menarik, menyenangkan, efektif, dan bermakna, guru hendaknya tidak mengasingkan anak dari realitas kekinian yang sarat dinamika dan spontanitas. Guru tidak semestinya mencabut kebahagiaan masa kini anak demi alasan masa depan yang belum tentu pasti.
Guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, kondusif, bebas dari rasa takut, mengayomi, penuh kasih sayang, tulus, empatik, bersahabat, terbuka, menyemangati, mengampuni, serta partisipatif. Melalui proses belajar yang menghargai anak sebagai pribadi, anak akan merasa dihargai eksistensinya, merasa dimanusiakan, dan merasakan kebahagiaan.
Kebahagiaan yang dialami anak di masa kini akan berperan penting bagi kebahagiaannya di masa depan. Kebahagiaan hari ini menjadi landasan bagi anak dalam merenda masa depannya. Situasi dan perlakuan yang dialami anak saat ini akan menjadi blueprint bagi sikap dan perilakunya kelak. Jika yang dialami adalah kebahagiaan, maka hal serupa pula yang akan mereka wujudkan di masa depan.
Menyadari pentingnya situasi membahagiakan bagi perkembangan anak, Tsunesaburo Makiguchi dalam bukunya Education for Creative Living mengusulkan agar kebahagiaan dijadikan tujuan utama pendidikan. Pendidikan hendaknya membuat anak merasa senang, bahagia, dan damai, bukan hanya di masa depan, tetapi juga di masa kini.
Tunas-tunas muda bangsa ini perlu sejak dini diajak merasakan dan mengalami kebahagiaan. Hal itu hanya mungkin terwujud jika sekolah, melalui peran guru, mampu menciptakan proses pembelajaran yang membahagiakan.
“Learning is most effective when it’s fun,” demikian pendapat Jeanette Vos dan Gordon Dryden. Sebagai guru yang memilih profesi ini sebagai jalan kehormatan, sudahkah kita menerapkan proses pembelajaran yang membahagiakan anak bangsa? Mari kita berefleksi.
*) Penulis alumnus UNTAN dan USD Yogyakarta
Guru di SMP/SMA St. F. Asisi
Pontianak – Kalimantan Barat