Oleh: Denata Dwi Yolandari*
Penurunan aktivitas fisik di kalangan siswa saat ini tidak lagi dapat dianggap sebagai masalah kecil atau sekadar keluhan yang kerap disampaikan guru pendidikan jasmani. Kondisi tersebut telah berkembang menjadi indikasi krisis yang nyata dan sistemik. Anak-anak dan remaja semakin jarang melakukan aktivitas gerak, menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar, serta terbiasa dengan rutinitas harian yang melibatkan periode duduk dalam waktu yang panjang.
Ruang digital kini telah menjadi arena utama bagi siswa untuk belajar, bermain, dan bersosialisasi, sementara fungsi tubuh sebagai sarana pembelajaran semakin terpinggirkan. Ironisnya, di tengah perubahan gaya hidup yang berlangsung begitu cepat, kurikulum pendidikan jasmani di sekolah justru masih tertinggal dan belum sepenuhnya merespons karakteristik peserta didik yang terus berubah. Padahal, secara konseptual, pendidikan jasmani dirancang sebagai proses pendidikan melalui aktivitas fisik yang bertujuan mengembangkan kebugaran tubuh, keterampilan motorik, keseimbangan emosional, serta membangun kesadaran menyeluruh tentang hidup sehat, bukan semata-mata untuk memenuhi persyaratan jam pelajaran formal di sekolah (Subagja, 2022).
Berbagai penelitian di tingkat nasional menunjukkan bahwa rendahnya aktivitas fisik siswa berkaitan erat dengan pola pembelajaran pendidikan jasmani yang masih bersifat tradisional dan berfokus secara terbatas. Di banyak satuan pendidikan, pendidikan jasmani masih dipandang sebagai mata pelajaran praktis yang menekankan penguasaan keterampilan motorik dasar dan pencapaian nilai. Kegiatan seperti berlari mengelilingi lapangan, melakukan push-up, atau mengikuti tes kebugaran dilakukan secara berulang, tetapi kerap kehilangan nilai edukatif karena tidak dikaitkan dengan realitas dan kebutuhan hidup siswa. Akibatnya, proses pembelajaran berlangsung rutin dan mekanis tanpa ruang refleksi yang memadai.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Kurniawan dan Widiyatmoko (2023) yang menyatakan bahwa reformasi kurikulum belum sepenuhnya diiringi perubahan paradigma guru pendidikan jasmani. Aktivitas fisik masih dipandang sebatas persyaratan akademik, bukan sebagai kebutuhan hidup yang perlu ditanamkan secara sadar dan berkelanjutan kepada siswa.
Kehadiran Kurikulum Merdeka sejatinya membawa harapan besar bagi pembaruan pembelajaran pendidikan jasmani. Dengan semangat fleksibilitas, diferensiasi, dan pemenuhan kebutuhan siswa, kurikulum ini diharapkan mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud.
Banyak sekolah masih menerapkan pendidikan jasmani dengan pendekatan lama, sekadar mengganti istilah administratif tanpa mengubah substansi pembelajaran. Penelitian Subagja et al. (2022) menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan jasmani cenderung bersifat administratif dan belum menyentuh transformasi pedagogis yang mendalam, khususnya dalam membangun kebiasaan aktif yang berkelanjutan pada siswa.
Akar persoalan ini tidak hanya terletak pada dokumen kurikulum, tetapi juga pada ketidaksiapan sistem pendidikan dalam merespons realitas sosial siswa masa kini. Era digital telah mengubah cara anak-anak bergerak, bermain, dan berinteraksi, sementara ruang fisik untuk aktivitas gerak semakin terbatas. Namun demikian, pembelajaran pendidikan jasmani sering kali dilaksanakan tanpa mempertimbangkan perubahan tersebut. Sobarna et al. (2021) menegaskan bahwa rendahnya literasi teknologi guru serta minimnya integrasi media digital menjadi tantangan besar bagi pendidikan jasmani di era digital, sehingga pembelajaran gagal menjadi alternatif yang mampu bersaing dengan daya tarik dunia digital bagi siswa.
Krisis gerak di kalangan siswa juga dipengaruhi oleh lemahnya pendekatan pedagogis dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Banyak guru masih berfokus pada target materi dan penilaian akhir, sementara pengalaman belajar siswa terabaikan. Aktivitas fisik dilakukan tanpa dialog dan refleksi yang mengaitkannya dengan tujuan hidup sehat jangka panjang. Putra et al. (2023) menyatakan bahwa guru pendidikan jasmani masih mengalami kesulitan dalam mengembangkan pengetahuan praktis yang kontekstual sesuai semangat Kurikulum Merdeka. Akibatnya, pembelajaran belum sepenuhnya berpusat pada siswa dan cenderung monoton serta kurang melibatkan aspek emosional.
Kondisi ini menjadi semakin mengkhawatirkan pada jenjang sekolah dasar. Padahal, masa kanak-kanak awal merupakan periode krusial dalam pembentukan kebiasaan dan karakter, termasuk kebiasaan bergerak aktif. Namun, pendidikan jasmani di sekolah dasar sering kali gagal menjalankan fungsi strategis tersebut. Wae et al. (2023) menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan jasmani berbasis Kurikulum Merdeka masih terkendala oleh kompetensi guru dan keterbatasan variasi model pembelajaran. Akibatnya, aktivitas fisik belum menjadi bagian dari budaya belajar anak dan hanya berlangsung secara sementara tanpa keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Di tingkat pendidikan menengah, permasalahan serupa terus berlanjut. Penelitian Maharani et al. (2023) mengungkapkan bahwa pendidikan jasmani di sekolah menengah masih didominasi praktik fisik konvensional yang kurang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik remaja saat ini. Padahal, masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan gaya hidup yang akan berlanjut hingga dewasa. Ketika pendidikan jasmani gagal menumbuhkan kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik pada fase ini, sekolah secara tidak langsung berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku sedentari di kalangan remaja.
Krisis aktivitas fisik di kalangan siswa seharusnya menjadi peringatan serius bagi para pembuat kebijakan pendidikan. Kurikulum tidak dapat bersikap netral atau pasif di tengah dinamika perubahan sosial yang terus berlangsung. Setiawan et al. (2022) menekankan bahwa kurikulum pendidikan jasmani perlu dirancang secara responsif terhadap isu kesehatan masyarakat, seperti rendahnya aktivitas fisik dan meningkatnya risiko penyakit tidak menular sejak usia sekolah. Tanpa intervensi kurikulum yang jelas dan terarah, pembelajaran pendidikan jasmani berpotensi hanya menjadi retorika simbolis tentang “sekolah sehat” tanpa dampak nyata bagi siswa.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental siswa, pembelajaran pendidikan jasmani belum dimanfaatkan secara optimal sebagai instrumen pendukung kesejahteraan psikologis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik berperan penting dalam menurunkan tingkat stres, meningkatkan suasana hati, dan menjaga kesehatan mental. Namun, dalam praktiknya, kurikulum pendidikan jasmani jarang mengaitkan aktivitas gerak secara langsung dengan aspek kesehatan mental. Akbar et al. (2022) menyoroti bahwa orientasi pembelajaran pendidikan jasmani masih terbatas dan belum memaksimalkan aktivitas fisik sebagai sarana regulasi emosi dan penguatan kesejahteraan psikologis siswa.
Apabila kondisi ini terus diabaikan, pendidikan jasmani akan semakin kehilangan relevansinya di mata siswa. Kurikulum yang lambat menyadari perubahan zaman hanya akan menghasilkan generasi yang memahami konsep hidup sehat secara teoritis, tetapi tidak memiliki kebiasaan untuk menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Pendidikan jasmani seharusnya berada di garda depan dalam membentuk generasi yang aktif, sadar kesehatan, dan memiliki pemahaman terhadap tubuhnya, bukan sekadar menjadi pelengkap dalam jadwal pelajaran. Sebagaimana ditegaskan Subagja (2022), tanpa perubahan paradigma yang mendasar, pendidikan jasmani akan gagal menjalankan perannya yang strategis dalam pengembangan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
Oleh karena itu, sudah saatnya kurikulum pendidikan jasmani berhenti berada dalam kondisi stagnan. Revitalisasi perlu dilakukan secara serius dan menyeluruh, mulai dari pendefinisian ulang tujuan pembelajaran, penguatan kompetensi pedagogik dan digital guru, hingga integrasi konteks sosial serta budaya digital siswa. Krisis gerak pada siswa bukan semata persoalan olahraga di sekolah, melainkan masalah kesehatan masa depan bangsa. Jika kurikulum terus tertinggal, sekolah turut memikul tanggung jawab atas lahirnya generasi yang tumbuh tanpa kebiasaan aktif, dan kegagalan semacam itu tidak lagi dapat ditoleransi dalam sistem pendidikan.**
*Penulis adalah mahasiswa program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.
Editor : Hanif