Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Perubahan Iklim dan Masa Depan Ketahanan Pangan Keberlanjutan

Hanif PP • Rabu, 11 Februari 2026 | 13:09 WIB
Soependi,S.Si, MA
Soependi,S.Si, MA

Oleh: Soependi, S.Si, MA*

Dalam setiap tetes air yang mengalir di sawah, tersimpan harapan dan tantangan pada ketahanan pangan yang dihadapi bangsa ini. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tak hanya terkenal akan keanekaragaman budayanya, tetapi juga sebagai salah satu pusat pertanian terbesar di dunia, dengan padi sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional. Namun, di tengah keberhasilan tersebut, muncul ancaman yang tak bisa lagi diabaikan yaitu perubahan iklim.

Faktor utama yang menyebabkan perubahan iklim adalah aktivitas manusia yang berfokus pada penggunaan bahan bakar fosil, deforestasi, dan pembangunan industri yang masif. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), aktivitas ini meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, seperti karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4), yang berkontribusi pada pemanasan global. Fenomena ini ditandai dengan peningkatan suhu rata-rata global yang signifikan, di mana suhu bumi meningkat sekitar 1,2°C sejak zaman pra-industri.

Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil untuk energi dan transportasi juga menyumbang sekitar 75 persen dari emisi gas rumah kaca global, dan deforestasi di Indonesia mencapai sekitar 1 juta hektar per tahun, yang mengurangi kapasitas hutan sebagai penyerap karbon alami. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa hilangnya tutupan vegetasi ini mempercepat akumulasi gas rumah kaca, memperparah perubahan iklim, serta meningkatkan risiko bencana ekstrem seperti banjir dan kekeringan.

Dampak perubahan iklim semakin mengkhawatirkan, dengan frekuensi cuaca ekstrem seperti banjir besar, kekeringan panjang, dan badai yang tidak bisa lagi dikendalikan. Perubahan iklim dapat menyebabkan percepatan erosi dan aliran air di permukaan, kekeringan, kelebihan air yang selanjutnya terjadi banjir dan longsor (Utami 2019). Perubahan iklim juga menyebabkan curah hujan tinggi serta menyebabkan banjir (Tingsanchali 2012). Jumlah kejadian bencana yang meningkat akan meningkatkan dampak yang ditimbulkan baik bagi manusia maupun lingkungan (Subiyanto dan Wahyuni 2022).

Data dari Climate Hazards Infrared Precipitation with Stations (CHIRPS,2024) menunjukkan bahwa intensitas curah hujan dan suhu ekstrem mengalami peningkatan yang signifikan, mengubah pola iklim yang selama ini menjadi dasar penentuan musim tanam dan panen petani. Di Indonesia, efek perubahan iklim tidak sekadar menjadi teori ilmiah. Sawah yang mengering karena kekeringan yang berkepanjangan, banjir yang menyapu ladang dan merusak hasil panen, serta serangan hama dan penyakit yang semakin sulit dikendalikan akibat perubahan suhu dan kelembapan. Kurva produksi padi yang sebelumnya stabil dan terprediksi, kini menjadi rollercoaster yang dipicu oleh faktor iklim ekstrem. Simulasi di Jawa Barat menunjukkan bahwa kondisi ekstrem (suhu/curah hujan ekstrem dan bencana) dapat menurunkan produksi padi hingga 31,70 persen pada subround 3 2024, menguatkan temuan Badan Riset dan lnovasi Nasional (BRIN) bahwa kenaikan suhu dapat menurunkan produktivitas hingga 50 persen.

Suhu udara rata-rata Indonesia pada September 2024 mencapai 27,40°C, menunjukkan anomali positif tertinggi ke-1 sebesar 1,80°C sejak 1981, dibandingkan normal periode 1991-2020. Secara umum, suhu udara di sebagian besar provinsi relatif stabil antara 26°C-30°C, namun provinsi-provinsi di Pulau Jawa, terutama DKI Jakarta, menunjukkan tren suhu yang sangat tinggi. Sebagian besar provinsi di Indonesia mengalami tren penurunan produktivitas padi akibat dampak perubahan iklim. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, sebagai daerah dengan produksi tertinggi, menunjukkan tren ke arah penurunan yang cukup signifikan. Hal ini sejalan dengan hasil regresi panel yang menunjukkan bahwa suhu ekstrem memiliki pengaruh paling besar terhadap hasil panen.

Data menunjukkan bahwa pengembangan varietas padi yang mampu bertahan dalam kondisi kering maupun basah, pembangunan infrastruktur irigasi yang efisien, serta kebijakan perlindungan asuransi pertanian menjadi strategi utama yang perlu diambil secara serius oleh pemerintah dan semua pemangku kepentingan. Salah satu solusi utama adalah pengembangan varietas padi unggul yang tahan terhadap suhu ekstrem dan curah hujan tinggi. Teknologi ini penting karena suhu ideal pertumbuhan tanaman padi berkisar antara 22-28 derajat Celsius. Di luar rentang ini, proses fotosintesis terganggu, dan hasil panen pun menurun. Menurut data, petani cenderung memilih waktu tanam tertentu berdasarkan pengalaman dan kondisi alam, namun mereka perlu didukung dengan informasi yang akurat dan teknologi yang memadai untuk mengurangi risiko gagal panen.

Faktor perubahan iklim yang paling berpengaruh pada produksi padi di Indonesia berdasarkan analisis dan studi yang ada adalah suhu ekstrem, curah hujan ekstrem, dan bencana alam yang berdampak. Ketiga faktor ini memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan produksi padi, di mana suhu ekstrem menunjukkan dampak terbesar dengan penurunan produksi sekitar 437.664 ton, diikuti oleh curah hujan ekstrem dengan penurunan sekitar 152.114 ton, dan bencana alam yang berpengaruh terhadap penurunan sekitar 90.223 ton.

Perubahan iklim adalah tantangan global yang membutuhkan respons nasional dan inovatif. Ketahanan padi sebagai tulang punggung ketahanan pangan Indonesia tidak hanya bergantung pada faktor alam, tetapi juga pada bagaimana kita mengelola dan menanggapi informasi tersebut secara tepat. Melalui pemanfaatan data, teknologi tepat guna, serta kebijakan yang berorientasi masa depan, kita tidak hanya mampu menjaga hasil panen hari ini, tetapi juga menyiapkan generasi mendatang untuk menghadapi ketidakpastian iklim.**

 

*Penulis adalah Statistisi Ahli Madya, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Pusat.

Editor : Hanif
#produksi padi #Perubahan Iklim #efisien #Data Akurat #ketahanan pangan nasional #inovasi #irigasi