Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Koperasi, Ekonomi Indonesia dan Relevansi Gen Z

Hanif PP • Senin, 16 Februari 2026 | 13:07 WIB

Deva Rachman
Deva Rachman

Oleh : Deva Rachman*

Baru-baru ini, Ajay Banga, Presiden World Bank Group, menyoroti tantangan yang sedang berpotensi terjadi pada negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia.

Indonesia memiliki kurang lebih 140 juta generasi muda berumur 16–30 tahun yang akan mendominasi bangsa ini.

Data BPS pada November 2025 menunjukkan sekitar 42,3% pekerja Indonesia berada pada sektor formal, dan sisanya sekitar 58% bekerja di sektor informal. Mereka yang bekerja di sektor informal antara lain pekerja keluarga tidak dibayar, ojek online, penjual makanan keliling, buruh tak tetap dengan gaji harian atau berbasis komisi. Dari total 155,27 juta angkatan kerja yang saat ini aktif, mayoritas tidak mempunyai status kerja yang tetap.

Indonesia akan memasuki masa Indonesia Emas pada 2045, sehingga kurang lebih 15 tahun waktu yang tersedia untuk mempersiapkan modal sosial dan ekonomi bagi angkatan kerja aktif ini. Demografi yang bisa menjadi senjata rahasia Indonesia dapat berubah menjadi petaka besar jika kita tidak mampu menghadirkan program yang komprehensif dan holistik dalam bidang sosial dan ekonomi.

Laporan ILO (International Labour Organization) menunjukkan pekerja yang pendidikannya sesuai dengan pekerjaannya hanya sekitar 34%, dan kebanyakan tergolong under educated. Total penduduk Indonesia yang lulus pendidikan tinggi hanya sekitar 10–11% atau sekitar 28 juta orang. Sisanya lulusan SD dan SMP.

Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dinikmati saat ini belum menghasilkan penyediaan pekerjaan yang layak, karena sebagian besar tenaga kerja terserap di sektor informal dengan upah rendah, minim perlindungan, dan rentan.

Di Mana Koperasi Dapat Membalikkan Keadaan?

Dari berbagai permasalahan yang ada, ditambah dengan kerusakan lingkungan dan tingginya tingkat korupsi, di mana gerakan koperasi dapat membalikkan keadaan? Pertumbuhan ekonomi di atas 5% ternyata hanya dinikmati oleh segelintir populasi. Konsentrasi ekonomi berputar di sekitar sektor besar, sementara sebagian besar masyarakat belum merasakan manfaat pembangunan infrastruktur dan tidak memperoleh pendapatan serta perlindungan memadai.

Koperasi sebagai sokoguru ekonomi Indonesia telah mengakar sejak 1905. Gotong royong dan konsep saling menolong tanpa relasi majikan dan pegawai menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi Gen Z yang memiliki semangat membentuk dunianya sendiri serta karakter berbeda dari pekerja kantoran konvensional.

Saat ini terdapat sekitar 300 ribu unit koperasi, mayoritas tersebar di Pulau Jawa, terutama Jawa Timur. Dalam kunjungan bersama lebih dari 35 pengusaha muda ke Shenzhen dan Guangzhou, terlihat bagaimana perusahaan-perusahaan Tiongkok seperti Huawei dan BYD membangun bisnis berbasis keberanian, dukungan pemerintah, dan semangat menjadi tuan di negeri sendiri.

Salah satu hal menarik dari Huawei adalah kepemilikan saham yang mayoritas dimiliki pegawai, sementara pemilik utama hanya memegang sekitar 0,6%. Model ini memiliki kemiripan dengan semangat koperasi: kebersamaan, kepemilikan kolektif, dan ketahanan menghadapi tekanan global.

Koperasi Indonesia dapat belajar dari pendekatan tersebut. Anak-anak muda yang belum tersentuh gerakan koperasi dapat dirangkul melalui fasilitas pembiayaan menarik, seperti skema dari LPDB Koperasi dengan bunga kompetitif dan tanpa biaya provisi maupun administrasi.

Relevansi Gerakan Koperasi dengan Generasi Muda

Indonesia sudah saatnya membangun angkatan muda koperasi. Dengan bonus 15 tahun menuju 2045 dan 140 juta angkatan kerja—di mana sekitar 60% berada di sektor informal—dibutuhkan rekayasa sosial yang mampu membalikkan keadaan melalui program yang relevan dan menarik bagi anak muda.

Saat ini rata-rata usia anggota koperasi sekitar 55 tahun, kebanyakan pensiunan yang ingin menginvestasikan dana secara aman. Pola ini perlu diubah melalui pendekatan koperasi yang lebih inklusif bagi generasi muda.

Koperasi berbasis startup dan industri kreatif digital dapat menjadi pintu masuk. Anak muda cenderung tertarik pada model bisnis etis yang tidak semata mengejar profit, melainkan juga nilai sosial.

Gerakan koperasi menawarkan pemberdayaan dan kepemilikan. Anggota memiliki kontrol demokratis atas usaha mereka. Hal ini memungkinkan generasi muda menjadi pemilik, bukan sekadar pekerja. Selain itu, prinsip peduli komunitas dan keanggotaan sukarela selaras dengan nilai sosial Gen Z.

Koperasi juga membuka ruang kewirausahaan dan kebebasan berusaha. Dalam berbagai studi, termasuk CICOPA (Young Entrepreneurship in Cooperative), lebih dari 60% peserta mengalami peningkatan pendapatan signifikan dengan perlindungan kerja lebih baik dibanding sektor perusahaan tradisional.

Apa yang Harus Indonesia Lakukan?

Indonesia menggagas pembentukan 83 ribu koperasi desa dan kelurahan Merah Putih, dengan 30 ribu ditargetkan beroperasi dalam waktu dekat. Apakah target ini terlalu besar? Tidak ada mimpi yang terlalu besar bagi bangsa besar.

Dengan kekuatan 140 juta generasi muda, Indonesia memiliki modal luar biasa untuk membalikkan keadaan. Namun, hal itu hanya dapat tercapai jika didukung strategi matang untuk menggerakkan para pemuda.

Saatnya generasi muda berkoperasi. Saatnya Indonesia menjawab tantangan sejarah hampir 120 tahun lalu: menjadi bangsa besar yang berkoperasi dan berkeadilan. (**)

 

*) Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi & Praktisi Public Affairs Global

Editor : Hanif
#Koperasi #tenaga kerja muda #Indonesia Emas 2045 #solusi #sektor informal #dominasi