Oleh: Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd*
Setiap Ramadan, banyak orang tua menjadikan “kuat puasa” sebagai indikator utama keberhasilan anak. Padahal, yang sering luput disadari: Ramadan bukan hanya melatih anak menahan lapar, melainkan juga menguji orang tua menahan ego dalam bentuk yang paling nyata dan sehari-hari: cara bicara, cara marah, cara hadir.
Di rumah, puasa anak bukan sekadar fenomena fisik. Ia adalah situasi pendidikan. Anak yang mulai rewel menjelang siang, yang mendadak lebih sensitif, atau yang kehilangan fokus, sebenarnya sedang belajar sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar menahan makan dan minum. Ia sedang belajar regulasi diri. Dan kemampuan itu tidak tumbuh dari ceramah, melainkan dari relasi.
Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak membentuk regulasi emosinya melalui proses co-regulation yakni ketika orang dewasa yang menjadi figur lekat mampu menenangkan, memvalidasi, dan memberi struktur. Diana Baumrind menyebut pola asuh yang sehat sebagai kombinasi kehangatan dan ketegasan yang konsisten. Sementara John Gottman, melalui konsep emotion coaching, menekankan pentingnya orang tua membantu anak mengenali dan menamai emosinya sebelum mengarahkan perilaku. Dalam konteks Ramadan, temuan-temuan ini menjadi sangat relevan. Anak tidak hanya belajar sabar dari instruksi, tetapi dari kesabaran yang ia saksikan.
Kisah seorang ibu muda, sebut saja R, dapat menjadi cermin. Pada hari keempat Ramadan, anaknya yang duduk di kelas dua SD ingin sekali berpuasa penuh. Menjelang siang, ia mulai menangis karena lelah dan lapar. Sang ibu, yang sejak sahur belum beristirahat, spontan meninggikan suara, “Kalau puasa saja tidak kuat, jangan banyak gaya.”
Anak itu terdiam, lalu berkata pelan, “Aku mau kuat, tapi kok Mama marah terus?”
Kalimat itu menghentikan semuanya. Yang diuji ternyata bukan hanya daya tahan anak, melainkan kualitas respons orang tua ketika lelah. Dalam momen seperti itu, Ramadan memperlihatkan cermin yang jujur: sejauh mana orang tua mampu mengelola emosinya sendiri.
Penelitian Prima Trisna (2026) tentang dinamika parenting di bulan Ramadan yang menyoroti pentingnya kesabaran sebagai fondasi pembentukan karakter anak menunjukkan bahwa pengalaman puasa anak sangat dipengaruhi oleh atmosfer emosional di rumah. Anak yang didampingi dengan pendekatan empatik cenderung memaknai puasa sebagai proses belajar, bukan tekanan. Sebaliknya, ketika puasa disertai ancaman atau kemarahan, yang tertanam bukan nilai kesabaran, melainkan rasa takut dan keterpaksaan.
Ramadan juga sering kali “membesarkan” konflik kecil karena tiga hal berubah sekaligus: fisiologi, jadwal, dan ekspektasi. Energi menurun, ritme tidur bergeser, sementara harapan terhadap suasana religius meningkat. Dalam kondisi seperti ini, kelelahan mudah berubah menjadi iritabilitas. Ketika ekspektasi tinggi bertemu energi rendah, ketegangan kecil dapat membesar.
Di banyak keluarga urban, tantangan lain hadir dalam bentuk distraksi digital. Waktu menunggu berbuka yang semestinya menjadi ruang percakapan hangat justru sering diisi oleh layar yang menyala. Anak menyerap makna Ramadan bukan hanya dari ritual, tetapi dari bagaimana rumah dikelola. Jika rumah sunyi dari dialog, puasa mudah direduksi menjadi rutinitas biologis, bukan latihan karakter.
Maka, Ramadan sesungguhnya menawarkan kesempatan untuk menurunkan target kuantitatif dan menaikkan kualitas makna. Keberhasilan anak bukan hanya diukur dari penuh atau tidaknya puasa, melainkan dari kejujuran usaha dan pengalaman emosional yang ia rasakan. Ketika anak mulai rewel, mungkin yang ia butuhkan bukan teguran, tetapi pengakuan sederhana bahwa lapar memang tidak nyaman. Ketika anak kehilangan fokus, mungkin yang lebih bermakna adalah pendampingan yang tenang, bukan komentar yang meremehkan.
Orang tua pun perlu menyadari bahwa Ramadan adalah latihan regulasi diri bagi mereka sendiri. Menahan komentar yang menyakitkan, memilih kata yang membangun, serta menghindari perbandingan yang merendahkan merupakan bagian dari “puasa emosi”. Jika anak sedang belajar menahan lapar, orang tua sedang belajar menahan impuls.
Suasana rumah yang hangat tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi dari kesadaran untuk memperbaiki diri. Percakapan singkat sebelum berbuka, doa bersama yang sederhana, atau ungkapan apresiasi atas usaha anak dapat meninggalkan jejak psikologis yang jauh lebih kuat daripada target yang kaku. Anak mungkin lupa berapa hari ia berhasil puasa penuh di usia tujuh tahun, tetapi ia akan mengingat bagaimana suasana rumah saat itu apakah penuh dukungan atau tekanan.
Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar ritual menahan diri, melainkan ruang evaluasi relasi. Ia menguji apakah nilai yang kita ajarkan benar-benar kita praktikkan. Ia menanyakan kembali, “Apakah rumah telah menjadi tempat anak belajar sabar melalui keteladanan, atau hanya tempat ia diuji tanpa pendampingan?”
Mungkin sudah saatnya kita menggeser pertanyaan. Bukan lagi sekadar, “Apakah anak kuat puasanya?” melainkan, “Apakah kita cukup kuat menjadi teladan di rumah?”
Karena di balik setiap anak yang belajar berpuasa, ada orang tua yang sesungguhnya sedang diuji.**
*Penulis adalah dosen prodi PGSD Universitas Slamet Riyadi Surakarta.
Editor : Hanif