Oleh: Thamrin Usman*
Kita perlu menyadari bahwa bumi kian kehilangan keramahan. Banjir, longsor, kekeringan, dan penurunan kualitas udara tidak lagi hadir sebagai peristiwa sesekali, melainkan telah menjadi pola yang berulang. Fenomena ini kerap disebut bencana alam, padahal dalam banyak kasus merupakan akumulasi kerusakan ekologis akibat perilaku manusia.
Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum ayat 41 mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena perbuatan manusia sendiri, agar manusia merasakan sebagian akibatnya dan kembali ke jalan yang benar. Ayat ini relevan dengan kajian lingkungan modern.
Pemanasan global, pencemaran air dan udara, deforestasi, serta krisis air bersih bukanlah kejadian acak, melainkan konsekuensi dari pola pembangunan dan konsumsi yang melampaui daya dukung alam.
Dalam perspektif Islam, bumi bukan sekadar ruang hidup, melainkan amanah peradaban. Ia harus dirawat, bukan dieksploitasi. Karena itu, krisis lingkungan sejatinya bukan hanya persoalan teknis dan kebijakan, tetapi juga masalah etika dan spiritual. Merusak lingkungan berarti mengingkari amanah yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai khalifah di bumi.
Ramadan hadir di tengah situasi ini sebagai momentum refleksi. Puasa melatih manusia menahan diri, mengendalikan nafsu, dan hidup secukupnya. Namun ironi kerap terjadi. Konsumsi justru meningkat, sampah menumpuk, dan pemborosan menjadi kebiasaan. Padahal Al-Qur’an mengingatkan, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Sikap berlebihan inilah yang menjadi akar berbagai kerusakan lingkungan.
Tujuan utama puasa adalah membentuk takwa. Takwa tidak berhenti pada kesalehan ritual, tetapi harus tercermin dalam sikap hidup yang bertanggung jawab. Orang yang bertakwa tidak hanya menjaga hubungannya dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga dengan alam. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak menyukai kerusakan (QS. Al-Baqarah: 205). Dengan demikian, menjaga lingkungan merupakan bagian dari praktik takwa itu sendiri.
Ramadan seharusnya menjadi sekolah pengendalian diri sekaligus kesadaran ekologis. Dari puasa, manusia belajar mencukupkan diri. Dari kesederhanaan, tumbuh empati. Dari empati, lahir kepedulian terhadap kehidupan yang lebih luas, termasuk keberlanjutan bumi.
Amaliah sederhana seperti mengurangi pemborosan, menghemat air, mengelola sampah, menanam pohon, dan menjaga kebersihan lingkungan merupakan wujud nyata kesalehan ekologis.
Bencana yang terjadi hari ini patut dibaca sebagai peringatan agar manusia kembali kepada fitrahnya. Al-Qur’an mengingatkan bahwa musibah yang menimpa manusia bersumber dari perbuatannya sendiri, meskipun Allah masih memberikan banyak ampunan (QS. Asy-Syura: 30). Ramadan memberi ruang terbaik untuk melakukan koreksi arah tersebut.
Jika Ramadan mampu melahirkan pribadi yang lebih sadar batas, lebih sederhana, dan lebih peduli, maka ia tidak hanya memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memulihkan relasi manusia dengan alam. Di situlah takwa menemukan wujud paling konkret dalam kehidupan peradaban. Wallahu a’lam bish-shawab. **
*) Penulis adalah Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura, Ketua Dewan Penasihat ICMI Kalbar, Ketua HEBITREN Kalbar, Ketua Majelis Musytasyar dan Pakar Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kalbar.
Editor : Hanif