Oleh: Agus Manto*
Minat baca masyarakat Indonesia kerap disebut memprihatinkan. Data UNESCO pernah menyebut angka 0,001 persen yang sering dimaknai hanya satu dari seribu orang Indonesia yang benar-benar gemar membaca. Studi World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University pada 2016 juga menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal literasi. Angka-angka ini kerap menjadi rujukan untuk menggambarkan rendahnya budaya baca di tanah air.
Namun, di balik gambaran tersebut, muncul dinamika yang memberi harapan. Survei semester II 2025 menunjukkan Generasi Z memiliki minat baca tertinggi, yakni 26 persen, melampaui generasi Milenial dan Gen X. Fenomena ini dipengaruhi komunitas digital seperti BookTok dan Bookstagram yang membuat membaca kembali menjadi tren di kalangan anak muda. Di tengah derasnya konten instan, sebagian generasi muda mulai melihat buku sebagai sarana pengembangan diri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) turut mencatat peningkatan Indeks Kegemaran Membaca dari 66,77 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024. Daerah Istimewa Yogyakarta masih konsisten menjadi provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi. Fakta ini menegaskan bahwa budaya literasi dapat tumbuh ketika didukung lingkungan yang kondusif dan kebijakan yang tepat.
Bagaimana dengan Kalimantan Barat?
Di tingkat daerah, tren literasi juga menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kota Pontianak mencatat Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) sebesar 75,39 dan Tingkat Gemar Membaca (TGM) mencapai 71,46 pada akhir tahun 2023. Angka ini menjadi yang tertinggi di Provinsi Kalimantan Barat dan menempatkan Pontianak pada posisi ke-13 secara nasional. Program inovatif seperti PerpusG2S (Perpustakaan Gerakan Gerbang Sekolah) turut mendorong peningkatan budaya baca dengan mendekatkan layanan perpustakaan langsung ke lingkungan sekolah.
Kabupaten Bengkayang juga menunjukkan capaian yang membanggakan dengan Tingkat Gemar Membaca masyarakat mencapai sekitar 80 persen. Hal ini membuktikan bahwa dengan komitmen dan inovasi, budaya literasi dapat tumbuh meski menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan akses.
Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya teratasi. Skor literasi Indonesia dalam PISA 2022 masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Ini menunjukkan persoalan literasi tidak hanya menyangkut minat membaca, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan mengolah informasi secara kritis.
Lantas, siapa yang bertanggung jawab? Pertama, keluarga menjadi fondasi utama. Kebiasaan membaca tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk dari lingkungan terdekat. Anak yang terbiasa melihat orang tuanya membaca cenderung meniru kebiasaan tersebut. Sebaliknya, jika di rumah lebih banyak tersedia gadget dibandingkan buku, wajar jika anak lebih akrab dengan layar daripada halaman bacaan.
Kedua, sekolah harus menjadi ruang yang menyenangkan bagi literasi. Membaca tidak boleh hanya diposisikan sebagai kewajiban akademik. Kegiatan literasi perlu dikemas secara kreatif melalui diskusi buku, storytelling, maupun program yang sesuai minat peserta didik. Peran guru dan pustakawan sangat strategis dalam menumbuhkan kecintaan terhadap buku.
Di sisi lain, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat peningkatan jumlah perpustakaan dari 145 ribu unit pada 2020 menjadi lebih dari 219 ribu unit pada 2024, mayoritas merupakan perpustakaan sekolah. Peningkatan ini patut diapresiasi sebagai bentuk perluasan akses literasi.
Namun, bertambahnya jumlah perpustakaan belum tentu sejalan dengan meningkatnya minat baca. Tanpa program aktif, koleksi relevan, dan pengelolaan profesional, perpustakaan berisiko menjadi ruang yang sepi pengunjung. Di daerah, termasuk Kalimantan Barat, pemerataan pustakawan dan penguatan budaya literasi masih menjadi tantangan.
Media dan lingkungan sosial juga memiliki peran besar. Di era digital, informasi hadir begitu cepat dan singkat. Tantangannya bukan menolak teknologi, melainkan memanfaatkannya untuk mendukung literasi. Media sosial dapat menjadi sarana promosi membaca dan berbagi rekomendasi buku, bukan sekadar hiburan.
Pada akhirnya, rendahnya minat baca bukan sekadar persoalan angka atau peringkat internasional. Ia adalah cerminan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Budaya membaca melatih daya pikir kritis, memperluas wawasan, serta memperkaya perspektif. Bangsa yang gemar membaca akan lebih siap menghadapi perubahan dan persaingan global.
Karena itu, peningkatan literasi tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, dan media. Budaya membaca harus dimulai dari rumah, diperkuat di sekolah, dan didukung kebijakan yang berpihak pada literasi.
Rendahnya minat baca adalah pekerjaan rumah kita bersama. Jika ingin melahirkan generasi yang cerdas dan berdaya saing, maka membangun budaya literasi harus menjadi prioritas. Membaca bukan sekadar membuka buku, tetapi membuka dunia.**
*Penulis adalah pustakawan ITEKES Muhammadiyah Kalimantan Barat.
Editor : Hanif