Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Puasa sebagai Media Pendidikan dan Mendidik

Hanif PP • Kamis, 26 Februari 2026 | 12:55 WIB

Sholihin HZ
Sholihin HZ

Oleh: Sholihin HZ*

PUASA sering dipahami secara sederhana sebagai menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Dalam ajaran Islam, puasa Ramadan diwajibkan sebagaimana disebutkan dalam Qs. Al Baqarah/ 2: 183 dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Namun, makna puasa sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan menyeluruh untuk hati, pikiran, dan perilaku. Puasa dari bicara yang tidak baik, puasa dari melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Secara fisik, kita memang berhenti makan dan minum. Tubuh belajar beradaptasi, mengatur energi, dan merasakan lapar yang biasanya jarang disadari. Tetapi di balik itu, puasa mengajarkan pengendalian diri.

Ketika seseorang mampu menahan kebutuhan dasar seperti makan dan minum, ia sebenarnya sedang melatih kemampuan mengendalikan keinginan-keinginan lain yang lebih sulit, seperti amarah, iri hati, atau kebiasaan buruk. 

Berpuasa dapat dilihat sebagai cara Allah SWT mendidik manusia untuk mengendalikan nafsu. Nafsu akan terus memburu manusia hingga tujuannya tercapai, namun ia bisa dilemahkan.

Puasa adalah diantara cara untuk melemahkan nafsu. Betapa sejak azan subuh hingga menjelang maghrib, nafsu makan dan minum harus ditahan, full sepanjang hari namun haus dan dahaga akan hilang tidak sampai lima menit.

Makna puasa yang lebih dalam adalah menahan diri dari segala hal yang merusak nilai ibadah. Menahan lisan dari berkata kasar, menahan tangan dari berbuat curang, serta menahan hati dari prasangka dan dengki. Percuma menahan lapar jika tetap mudah marah atau menyakiti orang lain. Puasa seharusnya membuat seseorang lebih sabar, lebih lembut, dan lebih peka terhadap sesama.

Puasa juga mengajarkan empati. Saat kita merasakan lapar, kita menjadi lebih mudah memahami bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan. Dari sini tumbuh rasa peduli dan keinginan untuk berbagi. Banyak orang yang justru menjadi lebih dermawan saat berpuasa. Mereka merasa terdorong untuk membantu, memberi makanan berbuka, atau bersedekah lebih banyak daripada biasanya.

Apa beda simpati dan empati? Melihat orang yang kekurangan, “Sungguh kasihan ia.” Inilah simpati. Namun, ia dengan segera mengantarkan bantuan, memberi pertolongan dengan sembako, maka sesungguhnya ia sudah meningkat menjadi empati. Puasa Ramadan mendidik untuk melatih dan menumbuhkembangkan empati.

Selain itu, puasa melatih kejujuran. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang diam-diam minum atau makan ketika sendirian, kecuali dirinya dan Tuhan. Karena itu, puasa adalah ibadah yang sangat personal. Ia membangun integritas, melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat. Inilah salah satu nilai terbesar dari puasa.

Bagi orang-orang yang benar-benar yakin dan memahami makna puasa, efeknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang yang biasanya mudah tersulut emosi menjadi lebih tenang. Ketika ada masalah di tempat kerja, ia memilih menarik napas dan bersabar, mengingat dirinya sedang berpuasa. Ia berpikir dua kali sebelum berbicara. Hasilnya, konflik bisa dihindari.

Contoh lain, ada orang yang menjadikan puasa sebagai momentum memperbaiki kebiasaan. Ia berhenti merokok atau mengurangi konsumsi hal-hal yang tidak sehat. Karena sudah terbiasa menahan diri sepanjang hari, ia merasa lebih kuat untuk berkata “tidak” pada godaan. Rasa percaya dirinya meningkat karena ia berhasil mengendalikan diri.

Efek positif juga terlihat dalam hubungan sosial. Orang yang menjalani puasa dengan penuh keyakinan cenderung lebih ramah dan ringan tangan. Ia sadar bahwa ibadahnya bukan hanya soal hubungan dengan Tuhan, tetapi juga hubungan dengan manusia. Ia menjaga ucapan, menghargai perasaan orang lain, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Secara psikologis, puasa memberi ruang refleksi. Rutinitas makan yang terhenti sejenak membuat seseorang punya waktu untuk berpikir tentang hidupnya. Apa yang perlu diperbaiki? Kebiasaan apa yang perlu ditinggalkan? Nilai apa yang ingin diperkuat? Dengan keyakinan yang kuat, puasa menjadi momen evaluasi diri yang jujur.

Pada akhirnya, makna puasa tidak berhenti pada lapar dan haus. Ia adalah latihan karakter. Ia membentuk kesabaran, kejujuran, empati, dan disiplin. Orang yang benar-benar yakin pada makna puasa tidak hanya berubah selama sebulan, tetapi berusaha membawa nilai-nilai itu ke bulan-bulan berikutnya. Berhasil tidaknya Ramadan adalah pada 11 bulan pasca Ramadan, masihkah tadarus, masihkan bersedekah, masihkan qiyamul lail dan sebagainya.

Puasa adalah proses memperbaiki diri dari dalam. Ketika hati ikut berpuasa dari kebencian, kesombongan, dan keegoisan, maka hasilnya bukan hanya tubuh yang lebih ringan, tetapi jiwa yang lebih bersih. Inilah makna puasa yang sesungguhnya: bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari segala hal yang menjauhkan kita dari kebaikan.**

 

*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak; dan Penulis Buku "Ku Ingin Semua Pintu Surga Memanggilku".

Editor : Hanif
#puasa #pengendalian diri #ramadan #Latihan Sabar #empati #menahan lapar #Kejujuran