Oleh: H. Azhari, S.Ag.M.Si,
Kata Ikhlas bukan sekedar pensucian diri manusia, akan tetapi Ikhlas itu adalah puncak perbuatan dalam kehidupan. Ketika Surah yang meng-esa-kan atau tauhid kepada Allah diberi nama surah Al Ikhlas.
Keikhlasan pada diri manusia ada pada tiga tempat yakni Ikhlas Fikir, Ikhlas Hati, Ikhlas Nafsu
Puasa selain menahan lapar, haus dan maksiat secara fisik-psikis, puasa pula secara mental-spritual adalah perbuatan amal yang dapat mengendalikan segala penyakit Akal fikir, Hati nurani dan Hajat nafsu.
Dalam Kitab ulama Tasawuf, manusia terdiri dari anasir Jasmaniah-badan zhahir dan Ruhaniah-jiwa batin. Maka sesungguhnya pengendalian diri manusia itu pada tiga tempat dan dua unsur insaniyah.
Kemudian bagaimana dampak Puasa terhadap Ikhlas beramal dalam pengendalian diri manusia ?
Puasa tujuannya dapat mengendalikan diri untuk menuju ketaqwaan kepada Allah SWT yaitu berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan. Pengendalian diri pada dua unsur jasmani dan ruhani manusia. Usur jasmani dan ruhani itu ada pada tiga tempat jiwa manusia yaitu fikiran, hati dan nafsu.
Apa sebenarnya yang dikendalikan dari fikiran, hati dan nafsu ? Yaitu membersihkan segala penyakit fikir, hati dan nafsu menjadi jiwa yang sehat.
Penyakit fikiran yang kotor menjadi jernih, penyakit hati seperti takabur (sombong), bakhil (kikir tamak) dan hasad (iri dengki) menjadi bersih menjadi tawadhu, muzakky dan pemaaf. Penyakit nafsu seperti Amarah, Lawwamah menjadi Muthmainnah (tenang/berjiwa besar).
Dengan kata lain, beramaliyah puasa Ramadhan dan sunah lainnya adalah membersihkan jiwa dan mengendalikan nafsu agar manusia suci kembali kepada naluri fitrahnya yaitu Idul Fitri.
Akhir dari perjuangan itu, berhari lebaran sesungguhnya kita merayakan kemenangan bahwa sebulan penuh kita berlatih-riyadhah yaitu pensucian dan pengendalian diri dalam mencari Rahmat-karunia, Maghfirah--ampunan dan Ridho Allah SWT. Semoga, Aamiin.***
*Penulis adalah Pimpinan Pontren Tarbiyah Islamiyah YASTI Kota Singkawang.
Editor : Hanif