Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Panic Buying adalah Foolish Buying

Hanif PP • Kamis, 12 Maret 2026 | 12:54 WIB

Abdul Mujib Alhaddad, S.P., M.Sc.*
Abdul Mujib Alhaddad, S.P., M.Sc.*

Oleh: Abdul Mujib Alhaddad*

PEMANDANGAN tak biasa menghiasi sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dalam beberapa hari terakhir. Antrean kendaraan, mulai dari roda dua mengular hingga ke badan jalan raya. Bukan karena pasokan yang benar-benar hilang, melainkan karena satu musuh lama yang kembali datang: panic buying.

Fenomena ini biasanya dipicu oleh satu hal: rumor. Entah itu kabar kenaikan harga yang mendadak atau isu kelangkaan stok, informasi yang belum terverifikasi seringkali menyebar lebih cepat daripada tangki bensin yang terisi. Akibatnya, warga yang biasanya mengisi seperlunya, tiba-tiba merasa harus "menyelamatkan diri" dengan mengisi tangki hingga penuh, bahkan membawa jeriken tambahan.

 

Kehawatiran  Lonjakan Harga Minyak Mentah Dunia

Pasar minyak sangat sensitif terhadap ketidakpastian politik. Setiap kali ada serangan di wilayah produsen minyak, harga minyak mentah dunia (seperti jenis Brent atau WTI) biasanya langsung melonjak. Jadi beban subsidi, Indonesia sebagai net importer (pengimpor bersih) minyak harus membayar lebih mahal untuk menutupi kebutuhan dalam negeri. Psikologi massa, kenaikan harga dunia sering kali dianggap sebagai sinyal bahwa pemerintah akan segera menaikkan harga BBM subsidi (pertalite/dolar) untuk menekan defisit anggaran. Ketakutan akan kenaikan harga inilah motor utama panic buying.

 

Efek Domino Ekonomi Global

Ketegangan di Timur Tengah seringkali diikuti dengan penguatan mata uang Dollar AS sebagai aset aman (safe haven). Ketika rupiah melemah terhadap dollar, biaya impor BBM menjadi semakin membengkak. Sentimen negatif ini menciptakan persepsi di masyarakat bahwa krisis energi sudah di depan mata, meskipun cadangan nasional mungkin masih mencukupi untuk beberapa minggu ke depan.

 

Janganlah Terjebak Spekulasi

Secara teknis, pemerintah biasanya memiliki cadangan operasional BBM (buffer stock) yang mampu bertahan antara 20 hingga 30 hari. Artinya, gangguan sesaat di Timur Tengah tidak akan langsung membuat pompa bensin kering esok hari. Panic buying justru memperparah keadaan karena menghabiskan stok harian yang seharusnya cukup untuk semua orang, menjadi hanya terkonsentrasi di tangki-tangki mereka yang panik.

 

Rantai Reaksi yang akan Merugikan

Secara teknis, panic buying adalah gangguan pada pola distribusi normal. Ketika ribuan orang memutuskan untuk mengisi bensin di waktu yang bersamaan, stok yang seharusnya cukup untuk tiga hari bisa habis dalam hitungan jam. Inilah yang menciptakan kesan "langka" yang sebenarnya semu.

"Saya dengar besok harga naik atau stok habis, jadi lebih baik antre sekarang daripada besok tidak bisa narik (bekerja)," ujar salah satu pengemudi ojek daring yang telah mengantre selama 40 menit.

Padahal, pihak otoritas energi dan pengelola SPBU berulang kali menegaskan bahwa stok di terminal BBM dalam kondisi aman. Masalahnya bukan pada ketersediaan barang di gudang, melainkan pada kecepatan armada tangki mendistribusikan BBM ke SPBU yang stoknya terkuras habis dalam sekejap oleh kepanikan warga.

 

Dampak Domino di Jalan Raya

Dampak dari aksi borong ini tidak hanya dirasakan di area SPBU. Beberapa titik di pusat kota mengalami kemacetan parah akibat antrean kendaraan yang memakan bahu jalan. Selain itu, masyarakat kecil yang benar-benar membutuhkan BBM untuk kebutuhan darurat justru seringkali gigit jari karena mendapati papan pengumuman bertuliskan "BBM Sedang dalam Perjalanan".

 

Ilusi Penyelamatan Diri: Panic Buying Bukan Jawaban Saat Krisis itu jadi Nyata

Di tengah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, dorongan untuk mengamankan stok BBM secara berlebihan mungkin terasa seperti tindakan proteksi diri yang masuk akal. Namun, sejarah dan logika ekonomi membuktikan sebaliknya: panic buying tidak pernah menyelamatkan siapa pun dari krisis; ia justru menciptakan krisis itu sendiri.

Pertama, efek "Zero-Sum Game". Dalam sistem distribusi BBM yang menggunakan pola just-in-time, stok di SPBU dirancang untuk memenuhi kebutuhan harian normal. Ketika Anda mengisi tangki secara berlebihan atau menimbun di jeriken, Anda tidak sedang "mengamankan stok negara," Anda sedang mengambil jatah orang lain. Jika semua orang melakukan hal yang sama, stok yang seharusnya bertahan satu minggu akan habis dalam satu hari. Akibatnya, transportasi logistik pangan dan ambulans bisa lumpuh karena kehabisan bahan bakar, yang pada akhirnya akan merugikan Anda juga sebagai konsumen.

Kedua, ketahanan yang semu. Secara waras dan hitungan matematika sederhana “ Berapa lama cadangan di tangki mobil Anda bisa bertahan jika krisis energi benar-benar memutus pasokan global selama berbulan-bulan?” Satu tangki penuh mungkin hanya bertahan 3 hingga 5 hari untuk pemakaian normal. Panic buying hanya menunda masalah selama beberapa hari, namun menghancurkan stabilitas pasar secara permanen.

Ketiga, bahaya keamanan yang terabaikan. Banyak warga yang panik mulai menyimpan BBM di rumah menggunakan jeriken plastik atau wadah seadanya. Ini adalah bom waktu. BBM adalah zat yang sangat mudah menguap dan terbakar. Menyimpan puluhan liter bensin di area pemukiman tanpa standar keamanan profesional meningkatkan risiko kebakaran hebat. Dalam skenario krisis, rumah yang terbakar jauh lebih berbahaya daripada mobil yang tangkinya kosong.

Apa yang Seharusnya Dilakukan? Menghadapi situasi ini, diperlukan ketenangan kolektif. Panic buying hanya akan menguntungkan para spekulan dan merugikan masyarakat luas. Lakukan verifikasi informasi, jangan mudah terpicu pesan berantai di media sosial tanpa sumber resmi. Isi seperlunya, membeli sesuai kebutuhan akan menjaga sirkulasi stok tetap stabil bagi semua orang. Diperlukan peran pemerintah. Ketegasan dalam pengawasan distribusi dan komunikasi publik yang transparan menjadi kunci utama untuk menenangkan pasar.

BBM adalah urat nadi ekonomi. Namun, jika nadi tersebut disumbat oleh kepanikan kita sendiri, maka seluruh aktivitas kota akan ikut terhenti. Saatnya kita berhenti menjadi bagian dari masalah dan mulai menjadi bagian dari solusi dengan tetap bijak di depan pompa bensin

Jika krisis energi akibat perang di Timur Tengah benar-benar berdampak panjang, strategi yang tepat bukanlah menimbun, melainkan beradaptasi. Pertama, efisiensi konsumsi. Mulai beralih ke transportasi umum, carpooling (berbagi tumpangan), atau mengurangi perjalanan non-esensial. Kedua, transisi energi. Krisis global adalah momentum untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik atau energi alternatif yang tidak bergantung pada impor minyak mentah. Ketiga, ketenangan kolektif. Menjaga pola pembelian tetap normal memungkinkan pemerintah dan otoritas energi memiliki waktu untuk mencari jalur pasokan alternatif tanpa tekanan stok yang ludes seketika.**

 

*Penulis adalah dosen Universitas Tanjungpura dan pengamat sosial.

Editor : Hanif
#spbu #Kenaikan harga BBM #Lonjakan harga minyak #Panic buying #Antrean Panjang