Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengatur Itu Manajemen, Menggerakkan Itu Kepemimpinan

Hanif PP • Kamis, 12 Maret 2026 | 12:59 WIB

Susi Herawati, SE, M.Pd
Susi Herawati, SE, M.Pd

Oleh: Susi Herawati, SE, M.Pd*

FRASA “Mengatur itu Manajemen, Menggerakkan itu Kepemimpinan” memberikan penekanan yang berbeda antara dua peran penting dalam organisasi. Manajemen berfokus pada menjaga keteraturan, stabilitas, dan efisiensi melalui perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, serta pemecahan masalah. Sementara itu, kepemimpinan berperan mendorong perubahan, memberikan arah, dan menginspirasi orang untuk bergerak menuju tujuan bersama. Manajemen memastikan sistem dan proses berjalan lancar, sedangkan kepemimpinan menumbuhkan motivasi, komitmen, dan inovasi di antara anggota tim. Dengan kata lain, manajemen menjaga “rute tetap”, sedangkan kepemimpinan menggerakkan semua orang untuk maju dan berkembang bersama.

Kepemimpinan merupakan kualitas yang dicari dan dihargai karena berperan penting dalam menentukan arah, budaya, serta keberhasilan suatu organisasi maupun komunitas. Setiap orang kerap bertanya: apa yang membuat seorang pemimpin menjadi baik dan bagaimana cara menjadi pemimpin yang efektif? Umumnya, pemimpin yang unggul mampu menginspirasi, berkomunikasi dengan jelas, mengambil keputusan yang tepat, serta menunjukkan integritas dan empati dalam setiap tindakan.

Menurut Keating (1986), hakikat kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara untuk memengaruhi orang atau kelompok guna mencapai tujuan bersama. Integritas pemimpin terlihat dari kemampuannya memberikan pengaruh, motivasi, dan inspirasi, serta mendorong anggota menuju perubahan.

 

Proses yang Kompleks

Kepemimpinan merupakan sebuah proses yang kompleks serta memiliki berbagai dimensi yang saling berkaitan, mencakup aspek pribadi, relasional, situasional, dan struktural. Kepemimpinan tidak hanya berbicara tentang kemampuan memengaruhi orang lain, tetapi juga tentang visi, nilai, komunikasi, pengambilan keputusan, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan.

Seperti halnya konsep demokrasi, cinta, damai, dan keadilan yang memiliki banyak tafsir tergantung pada perspektif budaya, pengalaman, dan konteks sosial, kepemimpinan pun tidak memiliki satu definisi tunggal yang mutlak. Setiap pendekatan, baik yang menekankan karakter individu, perilaku, kekuasaan, maupun interaksi dalam kelompok, memberikan sudut pandang yang berbeda tentang apa itu kepemimpinan. Oleh karena itu, memahami kepemimpinan menuntut keterbukaan terhadap berbagai teori dan praktik, serta kesadaran bahwa kepemimpinan terus berkembang seiring dinamika zaman dan kebutuhan masyarakat.

Pada periode 1900–1929, kepemimpinan umumnya dipahami melalui pendekatan great man theory yang menekankan bahwa pemimpin dilahirkan dengan sifat-sifat luar biasa. Fokusnya terletak pada karakter bawaan dan kualitas personal. Memasuki tahun 1930-an, perhatian bergeser pada trait theory yang berupaya mengidentifikasi ciri-ciri spesifik yang membedakan pemimpin dari bukan pemimpin.

Pada tahun 1940-an, definisi kepemimpinan mulai menekankan perilaku pemimpin, khususnya bagaimana gaya kepemimpinan memengaruhi kinerja dan moral kelompok. Pada tahun 1950-an, fokus tersebut diperluas pada efektivitas kelompok serta dinamika interaksi antara pemimpin dan anggota. Pada tahun 1960-an, muncul pendekatan situasional dan kontingensi yang menegaskan bahwa efektivitas kepemimpinan bergantung pada kesesuaian gaya dengan konteks.

Pada tahun 1970-an diperkenalkan konsep kepemimpinan transaksional, sekaligus mulai menyoroti kepemimpinan transformasional sebagai proses memotivasi perubahan. Memasuki tahun 1980-an, kepemimpinan transformasional semakin berkembang dengan penekanan pada visi, inspirasi, serta perubahan organisasi. Pada abad ke-21, kepemimpinan dipahami sebagai proses kolaboratif dan adaptif yang menekankan etika, pemberdayaan, kecerdasan emosional, keberagaman, serta kemampuan memimpin dalam lingkungan global yang kompleks dan dinamis.

 

Komponen Kepemimpinan

Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai sebuah proses dinamis yang melibatkan interaksi berkelanjutan antara pemimpin dan anggota kelompok. Pertama, leadership is a process, artinya kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau posisi formal, melainkan rangkaian tindakan, hubungan, dan pengaruh yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kedua, leadership involves influence, yaitu inti kepemimpinan terletak pada kemampuan memengaruhi sikap, perilaku, dan komitmen orang lain tanpa semata-mata mengandalkan kekuasaan formal. Ketiga, leadership occurs in groups, artinya kepemimpinan selalu terjadi dalam konteks kelompok, karena tidak ada kepemimpinan tanpa adanya orang-orang yang dipimpin. Keempat, leadership involves common goals, yakni kepemimpinan berorientasi pada pencapaian tujuan bersama yang disepakati dan diperjuangkan secara kolektif. Dengan demikian, kepemimpinan merupakan proses ketika seorang individu memengaruhi sekelompok individu lainnya untuk bekerja sama secara efektif dalam mencapai tujuan bersama.

 

Trait vs. Process Leadership

Trait versus process leadership merupakan dua pendekatan utama dalam memahami kepemimpinan. Pendekatan trait leadership menekankan bahwa kepemimpinan berakar pada sifat, karakteristik, atau kualitas bawaan individu, seperti kepercayaan diri, kecerdasan, ketegasan, dan integritas. Dengan demikian, fokusnya adalah pada siapa pemimpin itu dan atribut apa yang membuatnya unggul dibandingkan orang lain.

Sebaliknya, process leadership memandang kepemimpinan sebagai suatu proses interaksi dinamis antara pemimpin dan pengikut. Pendekatan ini menekankan bagaimana pengaruh dijalankan, bagaimana komunikasi dibangun, serta bagaimana tujuan bersama dicapai melalui kerja sama.

Jika pendekatan sifat cenderung melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang dimiliki, maka pendekatan proses memandang kepemimpinan sebagai sesuatu yang dilakukan dan dikembangkan melalui pengalaman serta hubungan sosial. Dengan demikian, setiap orang memiliki peluang untuk belajar dan menjadi pemimpin yang efektif.

 

Cara Memperoleh Kepemimpinan

Assigned leadership dan emergent leadership merupakan dua bentuk kepemimpinan yang dibedakan berdasarkan cara seseorang memperoleh peran sebagai pemimpin. Assigned leadership adalah kepemimpinan yang diberikan secara formal melalui penunjukan atau pengangkatan oleh otoritas tertentu dalam sebuah organisasi, sehingga legitimasi kekuasaan berasal dari struktur dan jabatan resmi.

Sebaliknya, emergent leadership muncul secara alami dari dalam kelompok tanpa penunjukan formal, ketika seorang individu diakui oleh anggota lain karena kompetensi, kepercayaan, kemampuan komunikasi, atau pengaruhnya yang kuat.

Jika kepemimpinan yang ditetapkan (assigned) bergantung pada posisi struktural, maka kepemimpinan yang muncul (emergent) bergantung pada penerimaan sosial dan dinamika interaksi kelompok. Dalam praktiknya, efektivitas kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh status formal, tetapi juga oleh kemampuan individu membangun kepercayaan dan memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

 

Kepemimpinan dan Kekuasaan

Kepemimpinan dan power (kekuasaan) memiliki hubungan yang erat karena kemampuan memimpin berkaitan dengan kemampuan memengaruhi orang lain. Pengaruh tersebut bersumber dari berbagai bentuk kekuasaan.

Terdapat enam dasar kekuasaan dalam kepemimpinan. Pertama, referent power, yaitu kekuasaan yang berasal dari kharisma, daya tarik, atau hubungan interpersonal sehingga orang lain mengikuti karena rasa hormat atau kekaguman. Kedua, expert power, yang bersumber dari keahlian, pengetahuan, atau kompetensi khusus yang dimiliki pemimpin. Ketiga, legitimate power, yaitu kekuasaan yang diperoleh dari posisi atau jabatan formal dalam organisasi. Keempat, reward power, yang berasal dari kemampuan memberikan penghargaan atau insentif. Kelima, coercive power, yaitu kekuasaan untuk memberikan sanksi atau hukuman. Keenam, information power, yang bersumber dari penguasaan dan pengendalian informasi penting.

Seorang pemimpin yang efektif biasanya mampu menggunakan berbagai bentuk kekuasaan tersebut secara etis dan proporsional untuk memotivasi, mengarahkan, serta mencapai tujuan bersama.

 

Coercion Power

Kepemimpinan dan coercion (paksaan) memiliki hubungan yang kompleks, meskipun keduanya sama-sama melibatkan pengaruh terhadap orang lain. Secara hakikat, keduanya berbeda secara mendasar. Kepemimpinan bertumpu pada kemampuan memengaruhi, menginspirasi, dan membangun komitmen sukarela untuk mencapai tujuan bersama. Sebaliknya, coercion mengandalkan tekanan, ancaman, atau hukuman untuk memaksa kepatuhan.

Dalam praktik organisasi, unsur paksaan dapat muncul melalui penggunaan coercive power, misalnya ketika pemimpin menerapkan sanksi untuk menjaga disiplin. Namun, jika terlalu dominan, pendekatan ini dapat menimbulkan ketakutan, menurunkan motivasi intrinsik, serta merusak kepercayaan.

Oleh karena itu, kepemimpinan yang efektif dan etis sebaiknya meminimalkan penggunaan paksaan serta lebih mengutamakan pengaruh yang berbasis keteladanan, komunikasi, dan penghargaan agar tercipta komitmen yang berkelanjutan.

 

Fungsi Manajemen dan Kepemimpinan

Peran dan fungsi kepemimpinan berbeda dengan manajemen, meskipun keduanya saling melengkapi dalam organisasi. Manajemen berfokus pada menghasilkan keteraturan dan konsistensi (produce order and consistency) melalui kegiatan seperti perencanaan dan penganggaran (planning and budgeting), pengorganisasian dan penempatan staf (organizing and staffing), serta pengendalian dan pemecahan masalah (controlling and problem solving) agar operasional berjalan stabil dan efisien.

Sebaliknya, kepemimpinan menghasilkan perubahan dan pergerakan (produce change and movement) dengan menetapkan arah (establishing direction) melalui penciptaan visi, memperjelas gambaran besar, dan menyusun strategi. Selain itu, kepemimpinan juga menyelaraskan orang-orang (aligning people) dengan mengomunikasikan tujuan, membangun komitmen, serta membentuk tim dan koalisi. Kepemimpinan juga memotivasi dan menginspirasi (motivating and inspiring) dengan memberi energi, memberdayakan pengikut, serta memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi.

Dengan demikian, manajemen menjaga sistem tetap tertata, sedangkan kepemimpinan mendorong organisasi untuk berkembang dan bertransformasi.**

 

*Penulis adalah staf MPSDM Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder; mahasiswi Doktoral UNESA, Surabaya.

Editor : Hanif
#kepemimpinan #organisasi #manajemen #perbedaan #kekuasaan