Oleh: Baharuddin, S.Sos.I, M.Si, C.SE., C.PS., C.GMC.,C.MTr., C.MC., C.TMP.*
Lailatul Qadr adalah malam yang sangat mulia di bulan Ramadan. Secara bahasa, lailah berarti malam dan qadr berarti kemuliaan atau ketetapan. Malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran Surah Al-Qadr ayat 3. “Ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan (sekitar 83 tahun). Inilah salah satu keistimewaan luar biasa yang Allah anugerahkan kepada umat Nabi Muhammad SAW.”
Keistimewaan Lailatul Qadr menunjukkan betapa besar pahala yang Allah janjikan. Setiap amal kebaikan yang dilakukan pada malam itu dilipatgandakan dengan ganjaran yang luar biasa. Lailatul Qadr juga dikenal sebagai malam turunnya Alquran secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia, sebelum kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam Surah Al-Qadr ayat 5 disebutkan bahwa malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar. Para malaikat turun membawa rahmat dan keberkahan bagi hamba-hamba Allah yang beribadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Hikmah Lailatul Qadr bagi umat Islam di antaranya adalah mengajarkan kesungguhan dalam beribadah. Karena waktu pastinya dirahasiakan, umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh beribadah, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Hal ini melatih konsistensi dan keikhlasan. Lailatul Qadr juga menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan perjalanan hidup, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak tobat kepada Allah SWT. Sebagai malam turunnya Alquran, Lailatul Qadr mengingatkan kita untuk semakin dekat dengan kitab suci, membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya. Janji ampunan dan pahala besar menunjukkan luasnya rahmat Allah. Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Keagungan Lailatul Qadr terletak pada kemuliaannya yang melebihi seribu bulan, turunnya Alquran, hadirnya para malaikat, kedamaian yang menyelimuti malam tersebut, serta besarnya ampunan yang Allah berikan. Karena itu, setiap Muslim dianjurkan untuk bersungguh-sungguh mencari dan menghidupkannya pada sepuluh malam terakhir Ramadan dengan salat, doa, zikir, dan membaca Alquran.
Makna Lailatul Qadr tidak berhenti pada ibadah malam semata, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku sosial sehari-hari. Kepedulian, kejujuran, persaudaraan, dan kedamaian merupakan wujud nyata dari penghayatan terhadap malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, kita tidak hanya meraih pahala secara pribadi, tetapi juga membangun masyarakat yang penuh berkah dan harmoni.
Lailatul Qadr adalah anugerah terbesar dalam bulan Ramadan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini merupakan kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk meraih ampunan dan pahala berlipat ganda. Semoga kita termasuk orang-orang yang dipertemukan dengan Lailatul Qadr dan mampu menghidupkannya dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Aamiin.**
*Penulis adalah dosen PNS Prodi MBS FEBI IAIN Pontianak, Direktur Rumah Literasi FEBI IAIN Pontianak, dan anggota Pengurus Wilayah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Kalimantan Barat.
Editor : Hanif