Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sembilan Hari Raya

Hanif PP • Selasa, 17 Maret 2026 - 12:23 WIB

Ma'ruf Zahran Sabran
Ma'ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

HARI raya dalam Islam umumnya ada dua, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, yaitu Hari Raya Idulfitri dan Hari Raya Iduladha. Namun, Imam Abu Laits As-Samarkandi (lahir 301 H, wafat 373 H) menuliskan bahwa kaum beriman memiliki sembilan hari raya selain dua hari raya tersebut.

Sembilan hari raya yang dimaksud adalah, perayaan hari ke-1, yaitu ketika seseorang mampu melewati satu hari tanpa melakukan dosa. Hari itu menjadi hari yang penuh dengan pahala. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, jika seseorang dapat menjalaninya tanpa berbuat dosa, maka hari tersebut menjadi hari raya baginya.

Umumnya tidak mudah menjalani satu hari tanpa dosa, bahkan sekadar dengki di dalam hati atau memandang orang lain dengan perasaan merendahkan karena perbedaan gelar pendidikan, pangkat, jabatan, status sosial, maupun ekonomi. Jika seseorang mampu menjaga pancaindra dan hatinya dari kesalahan dan dosa selama satu hari penuh, maka itulah hari raya baginya.

Kemenangan sejati bukanlah bertambahnya kekayaan, keturunan, atau pengetahuan semata. Namun, menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.

Perayaan hari ke-2 adalah ketika seseorang menghadapi sakaratulmaut dengan husnul khatimah dan terhindar dari suul khatimah. Kematian merupakan kiamat kecil bagi setiap manusia. Dalam Alquran disebutkan, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan (Al-Anbiya: 35).”

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dalam kehidupan, manusia diuji melalui empat medan ujian jiwa, yaitu ujian ketaatan, ujian maksiat, ujian nikmat, dan ujian bala’. Ujian ketaatan melahirkan keikhlasan, ujian maksiat mengundang tobat, ujian nikmat menumbuhkan rasa syukur, dan ujian bala’ melatih kesabaran. Semua itu diharapkan mengantarkan manusia menuju husnul khatimah.

Perayaan hari ke-3 adalah ketika seseorang selamat dari azab kubur dan memperoleh nikmat kubur. Kubur merupakan tempat pertama dari berbagai tempat di akhirat, seperti padang mahsyar, mizan, catatan amal, shirath, surga, dan neraka.

Hari itu menjadi hari raya bagi mereka yang memperoleh nikmat kubur. Bentuk nikmat kubur antara lain dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang, diberi makanan dan minuman yang lezat, diperlihatkan hembusan angin surga setiap pagi dan petang, serta ditemani sahabat yang saleh. Kuburnya menjadi taman di antara taman-taman surga dan dipenuhi cahaya, kasih sayang, ampunan, keselamatan, serta kebahagiaan dari Allah SWT. Nikmat tersebut dapat diraih dengan memperbanyak salat sunah, sedekah, membaca Alquran, serta memperbanyak tasbih, takbir, tahmid, tahlil, istigfar, dan selawat kepada Rasulullah SAW.

Sebaliknya, siksa kubur digambarkan sebagai tempat yang sempit, panas, dan gelap. Di dalamnya terdapat berbagai bentuk azab yang menakutkan. Kondisi itu menjadi hari kesengsaraan bagi mereka yang selama hidup meninggalkan salat, tidak menunaikan zakat, mendustakan Alquran, serta tidak berselawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Perayaan hari ke-4 adalah hari ketika manusia mendapatkan naungan dari Allah SWT di padang mahsyar, saat tidak ada naungan selain naungan-Nya. Terdapat tujuh golongan manusia yang mendapat naungan tersebut. Mereka adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tekun beribadah, orang yang hatinya terpaut dengan masjid, orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi dengan ikhlas, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seseorang yang menolak ajakan berzina karena takut kepada Allah, serta seseorang yang berdoa kepada Allah dalam kesendirian hingga meneteskan air mata. Hadis tentang hal ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Perayaan hari ke-5 adalah ketika manusia menerima buku catatan amal dari tangan kanan. Catatan amal tersebut merupakan rekaman seluruh perbuatan manusia selama hidup di dunia yang dicatat oleh para malaikat. Malaikat yang mencatat amal kebaikan disebut malaikat Raqib, sedangkan malaikat yang mencatat amal keburukan disebut malaikat Atid.

Perayaan hari ke-6 adalah ketika amal kebaikan seseorang lebih berat daripada amal keburukannya pada hari penimbangan. Dalam Alquran disebutkan, “Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah (Al-Qari’ah: 6–11).”

Perayaan hari ke-7 adalah ketika seseorang selamat meniti shirath, yaitu jembatan yang terbentang di atas neraka menuju surga. Bagi orang yang beriman, shirath terasa luas dan mudah dilalui. Mereka dapat melaluinya dengan cepat hingga sampai ke surga. Namun bagi orang yang celaka, shirath terasa sangat tipis dan tajam, bahkan digambarkan lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di bawahnya berkobar api neraka yang siap menyambar siapa saja yang terjatuh.

Perayaan hari ke-8 adalah hari penuh kegembiraan ketika manusia memasuki surga. Janji Allah adalah benar, sebagaimana kebenaran para rasul yang menyampaikan wahyu-Nya. Surga menjadi balasan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang takut kepada Allah sehingga menjauhi dosa dan menjaga diri dari murka-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Perayaan hari ke-9 merupakan puncak dari seluruh kebahagiaan, yaitu ketika para penghuni surga dapat memandang wajah Allah yang mulia. Dalam Alquran disebutkan, “Pada hari itu wajah-wajah berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka memandang (Al-Qiyamah: 22–23).”

Demikianlah sembilan hari raya bagi kaum beriman yang beramal saleh. Semua itu merupakan kebahagiaan yang kelak akan mereka peroleh pada waktunya. Wallahu a’lam.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#dosa #pahala #refleksi #hari raya #islam