Oleh: Tiya Katrilia, S.T., M.T.*
KETIKA dunia membicarakan peperangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, perhatian publik banyak yang tertuju pada kekuatan senjata dan strategi militer yang digunakan. Konflik ini memberikan dampak besar terhadap global, terutama di kawasan Timur Tengah. Dalam perspektif logistik global, Timur Tengah merupakan salah satu wilayah yang strategis. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena kawasan tersebut merupakan pusat produksi energi yang memasok kebutuhan berbagai negara di dunia.
Selain itu, wilayah ini juga memiliki jalur pelayaran yang dikenal sebagai “Selat Hormuz”. Selat ini menghubungkan antara Teluk Persia dan Samudra Hindia dan menjadi jalur pelayaran utama pendistribusian minyak dari negara-negara penghasil energi di kawasan Teluk menuju pasar global. Meskipun Selat Hormuz tergolong sempit, jalur ini setiap hari dilewati berbagai armada distribusi seperti kapal tanker dan kapal kargo yang mengangkut berbagai macam komoditas energi, termasuk minyak. Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah mengurangi tingkat keamanan pada jalur pelayaran Selat Hormuz. Meskipun jalur tersebut tidak sepenuhnya ditutup, aktivitas pelayaran internasional menjadi jauh lebih berisiko.
Tidak hanya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang terdampak, jalur penerbangan juga mengalami gangguan akibat adanya ketegangan militer di kawasan tersebut. Jalur penerbangan merupakan jalur logistik udara. Situasi keamanan yang tidak kondusif mengakibatkan meningkatnya risiko bagi aktivitas logistik udara. Adanya pembatasan ruang udara, pengurangan frekuensi penerbangan kargo, serta pengalihan rute penerbangan untuk menghindari wilayah konflik membuat waktu tempuh distribusi menjadi lebih lama. Padahal, jaringan logistik udara memegang peranan penting dalam perdagangan internasional, khususnya untuk pengiriman barang bernilai tinggi seperti obat-obatan, suku cadang industri, serta produk lainnya yang membutuhkan waktu distribusi cepat. Akibatnya, distribusi barang menjadi lebih lambat dan biaya pengiriman melalui jalur udara meningkat.
Meningkatnya konflik dan ketegangan militer di kawasan Timur Tengah tanpa disadari menimbulkan risiko besar bagi aktivitas logistik global serta memicu efek domino terhadap rantai pasok internasional. Dalam perspektif rantai pasok, risiko dihadapi oleh setiap tingkatan rantai pasok sehingga mempengaruhi aliran barang dari hulu ke hilir, mulai dari pemasok, distributor, dan konsumen. Dari sisi pemasok (supplier), berpotensi menghambat aktivitas produksi maupun ekspor energi sehingga mengakibatkan keterlambatan distribusi energi ke berbagai pasar global. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian pasokan energi dan pemasok kesulitan menjaga stabilitas pasokan bagi industri global.
Lalu, risiko bagi distributor yang beroperasi di kawasan konflik juga menghadapi tantangan besar. Berbagai ancaman serangan menggunakan rudal, drone, atau ranjau laut meningkatkan risiko keamanan pada jalur pelayaran. Situasi ini membuat distributor harus berpikir keras untuk menyusun ulang strategi keamanan, biaya asuransi, bahkan mengubah rute pengiriman, yang pada akhirnya meningkatnya waktu dan biaya pengiriman.
Konsumen sebagai pihak terakhir dalam rantai pasok juga tidak dapat luput dari dampak situasi tersebut. Peningkatan biaya serta bertambahnya waktu pengiriman berpotensi memicu kelangkaan produk di pasar. Fenomena kelangkaan produk akan mendorong kenaikan harga produk yang pada akhirnya harus dibayar oleh masyarakat sebagai konsumen akhir.
Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte pernah menyatakan bahwa An army marches on its stomach, yang dimaknai sebagai sebuah pengingat bahwa pasukan hanya dapat bertempur jika kebutuhan logistiknya terpenuhi. Hal serupa juga disampaikan oleh Jenderal Amerika Omar Bradley yang mengungkapkan “Amateurs talk strategy, professionals talk logistics”. Pernyataan ini menunjukan di balik strategi militer yang kompleks, keberhasilan perang juga bergantung pada kemampuan menjaga kelancaran aliran pasokan. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan konsep “supply chain resilience”, yaitu kemampuan sistem rantai pasok untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih ketika menghadapi gangguan atau krisis besar.
Melalui konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberikan pelajaran penting bahwa sistem logistik global harus dibangun tidak hanya efisien, tetapi juga harus memiliki ketangguhan. Tidak dapat dipungkiri selama ini banyak perusahaan yang membangun sistem logistik efisien dengan menekan biaya persediaan dan mempercepat distribusi barang. Namun, dengan adanya krisis global menunjukkan bahwa sistem yang terlalu berfokus pada efisiensi sering kali menjadi rentan ketika menghadapi gangguan besar. Ketika jalur distribusi utama terganggu, sistem yang tidak memiliki alternatif atau cadangan akan mengalami kelumpuhan.
Pada akhirnya, konflik ini mengingatkan dunia bahwa perang tidak hanya terjadi di garis depan pertempuran, tetapi juga di jalur logistik seperti jalur pelayaran dan jalur penerbangan yang menjadi jalur vital bagi distribusi energi dan berbagai produk global. Ketika satu jalur logistik terganggu, dampaknya dapat merambat jauh melampaui wilayah konflik, mempengaruhi perdagangan global, aktivitas industri, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai negara. Oleh karena itu, membangun sistem rantai pasok yang tangguh bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi global.**
*Penulis adalah dosen Teknik Logistik di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Sains dan Teknologi.
Editor : Hanif