Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Saatnya Memeriksa “Jawaban Ujian” Kita

Hanif PP • Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:29 WIB

Dr. Joko Sampurno
Dr. Joko Sampurno

Oleh: Dr. Joko Sampurno*

RAMADAN berakhir. Ketika bulan yang penuh keberkahan ini berada di penghujungnya, fase ini seharusnya menjadi momen yang sangat penting. Yakni, momen evaluasi diri. Keadaan kita di akhir Ramadan ini dapat diibaratkan seperti seorang siswa atau mahasiswa yang sedang menghadapi ujian. Ketika waktu ujian hampir habis, biasanya seseorang tidak lagi sibuk membuka materi baru. Ia justru memeriksa kembali lembar jawabannya. Ia melihat apakah ada soal yang terlewat, apakah ada jawaban yang salah, atau apakah masih ada bagian yang bisa diperbaiki sebelum waktu benar-benar habis.

Demikian pula dengan Ramadan. Saat berada di ujung bulan ini, penting untuk memeriksa kualitas ibadah yang sudah kita lakukan. Apakah puasa kita benar-benar bernilai di sisi Allah? Ataukah hanya sebatas menahan lapar dan dahaga?

Rasulullah SAW pernah mengingatkan dengan sangat tegas dalam sebuah hadis. "Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).”

Hadis ini seharusnya membuat setiap muslim merasa khawatir. Sebab secara lahiriah seseorang bisa saja berpuasa, tetapi secara hakikat ia tidak memperoleh pahala dari puasanya.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis lain. "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari).”

Artinya, puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Puasa adalah latihan mengendalikan diri secara menyeluruh, termasuk menjaga lisan, sikap, dan perilaku terhadap orang lain. Pelajaran penting tentang kehati-hatian dalam menilai orang lain dapat kita temukan dalam kisah Nabi Daud AS yang diceritakan dalam Alquran.

Allah berfirman, "Dan apakah telah sampai kepadamu berita tentang dua orang yang berselisih ketika mereka memanjat tembok mihrab? (QS. Shad: 21).”

Dikisahkan dua orang datang kepada Nabi Daud dengan cara memanjat tembok istana pada malam hari. Mereka membawa perkara perselisihan. Salah seorang di antara mereka mengadu bahwa saudaranya memiliki sembilan puluh sembilan kambing, sementara ia hanya memiliki satu kambing, tetapi saudaranya itu masih ingin mengambil kambing miliknya.

Mendengar pengaduan tersebut, Nabi Daud langsung mengatakan bahwa orang itu telah berbuat zalim. Namun, kemudian beliau menyadari bahwa dirinya sedang diuji oleh Allah, karena beliau memutuskan perkara sebelum mendengar penjelasan dari pihak yang lain.

Allah berfirman, "Maka Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; lalu ia memohon ampun kepada Tuhannya dan ia tersungkur ruku’ serta bertaubat (QS. Shad: 24).”

Kisah ini memberikan pelajaran penting tentang keadilan dan kehati-hatian dalam menilai suatu perkara. Sayangnya, sebagian orang keliru menafsirkan kisah ini karena mencampurkannya dengan cerita dalam Injil yang menyebutkan bahwa Nabi Daud memiliki 99 istri dan menginginkan istri panglimanya. Cerita tersebut tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alquran dan tidak dapat dijadikan rujukan dalam memahami ayat tersebut.

Dalam tafsir para ulama, kesalahan Nabi Daud bukanlah seperti cerita itu, melainkan karena beliau memutuskan perkara sebelum mendengar kedua belah pihak secara lengkap. Pelajaran dari kisah ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini, terutama di era media sosial. Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi: potongan video, berita, tuduhan terhadap seseorang, bahkan fitnah yang tersebar dengan sangat cepat.

Sering kali, tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, kita langsung percaya, langsung berkomentar, bahkan ikut menyebarkannya. Padahal, bisa jadi informasi tersebut tidak benar atau hanya sebagian dari fakta.

Jika hal itu terjadi, kita bisa saja ikut menzalimi orang lain. Tanpa sadar kita menyebarkan keburukan, merusak kehormatan seseorang, dan menambah dosa dalam kehidupan kita.

Di sinilah pentingnya evaluasi diri di akhir Ramadan. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah puasa kita benar-benar menjaga lisan? Apakah kita sudah berhati-hati dalam menyampaikan informasi? Apakah kita sudah menjaga diri dari menzalimi orang lain?”

Jangan sampai Ramadan berlalu begitu saja, sementara yang tersisa hanyalah rasa lapar dan dahaga, tanpa pahala yang bernilai di sisi Allah. Masih ada waktu di sisa-sisa Ramadan ini. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, serta meningkatkan kualitas ibadah kita. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita. **

 

*Penulis adalah dosen FMIPA Untan.

Editor : Hanif
#Makna ibadah #puasa #ramadan #evaluasi diri