Oleh: P. Adrianus Assisi*
GURU yang berhenti belajar diibaratkan sebagai guru stagnan, disebabkan karena beranggapan sudah tahu semua hal, apalagi telah menempuh sejuta SKS dikala kuliah. Guru seperti itu ibarat botol penuh, tidak dapat diisi lagi dengan ‘air’ ilmu.
Guru, jangan berhenti belajar. Ini merupakan sebuah seruan penting yang menekankan, bahwa sebagai guru di sekolah pun orang tua di rumah, wajib terus mengembangkan diri karena dunia dan siswanya terus berubah, mendorong inovasi, menjaga relevansi, dan mencegah kejenuhan, sejalan dengan semangat Ki Hadjar Dewantara, bahwa semua tempat adalah sekolah dan guru sejati adalah pembelajar seumur hidup, memanfaatkan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI).
Meski hingga Januari 2026 belum ada data gerakan massal guru menolak secara spesifik yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan. Meski begitu dalam platform medsos terdapat guru menolak, terjadi pada guru honorer non-database seperti di Lombok Tengah yang disebabkan karena kekhawatiran diarahkan ke pelatihan kerja lain akan menghapus masa pengabdian sebagai guru dan memulai karier dari nol.
Siaran pers Dirjen Kemendikdasmen dalam seminar internasional tahun 2025, Nunuk berujar, “Secara konsisten mendukung peningkatan kesejahteraan dan kompetensi guru.” Intinya, TPG tersalurkan 94 persen, Pelatihan Pembelajaran Mendalam menjangkau 67 ribu sekolah dengan 220 ribu peserta; dan Program Koding dan Kecerdasan Artifisial menjangkau 50 ribu sekolah.
Media cetak sering menyoroti keluhan guru terkait manajemen pelatihan yang dianggap kurang optimal, sosialisasi yang tidak tuntas, atau beban administrasi yang berat dalam platform digital. Menyikapi fenomena ”gunung es” penolakan mengikuti undangan pelatihan ini diperlukan guru seperti botol kosong, yang rela mengosongkan diri untuk belajar secara terus menerus sepanjang hayat.
Harus Seperti Botol Kosong
Makna hakiki Guru sebagai botol kosong ibarat air terus mengalir, bukan guru masuk kotak. Kalau pelatihan membosankan atau apriori dengan diklat terasa kayak beban, lepas dulu. Mungkin ada cara lain untuk mengisi “botol kosong”, dengan membaca artikel singkat, ngobrol bareng guru lain, yang penting yaitu semangat ngecas agar ilmu tetap nyala.
Guru botol kosong dikaitkan dengan konsep keterbukaan pikiran dalam belajar. Dalam konteks aktivasi diri atau motivasi, istilah ini merujuk pada pada empat hal berikut. Pertama, kerendahan hati dalam belajar. Seseorang harus mengosongkan "isi" kepalanya (prasangka, kesombongan, atau merasa sudah tahu segalanya), agar bisa menerima ilmu dan pengalaman baru. Kedua, kesiapan menerima perubahan. Seperti botol yang siap diisi air jenis apa pun, sang botol kosong, memosisikan diri untuk adaptif terhadap perubahan zaman dan inovasi. Ketiga, kesiapan belajar. Pesan yang mendalam sering disampaikan agar seseorang memastikan "botol kosong" dirinya diisi dengan hal-hal yang baik dan positif, menyiratkan pentingnya pikiran yang terbuka dan reseptif terhadap pembelajaran baru. Keempat, potensi tersembunyi. Sebuah botol kosong yang pada awalnya tidak bernilai bisa menjadi berharga melalui kreativitas dan tujuan yang benar, mengajarkan tentang potensi daur ulang dan kepedulian lingkungan.
Guru botol kosong, yang tampak tak berpengalaman atau "kosong" di mata orang lain, tapi sebenarnya menyimpan banyak pengalaman. Botol kosong malah bisa menampung air, jadi meski terlihat tak berisi, ia siap diisi ilmu. Jadi, maknanya yaitu siap belajar, memiliki potensi tersembunyi, guru yang selalu ingin mengisi kekosongan dengan pengetahuan.
Guru botol kosong mengajarkan bahwa kekosongan bukan kekurangan, melainkan ruang yang siap diisi. Seperti botol yang masih belum terisi, seorang guru yang mengaku “kosong” mengakui bahwa ia masih belajar, sehingga ia lebih peka terhadap pertanyaan murid dan lebih terbuka menerima ide baru.
Dalam kekosongan itu tersimpan potensi, setiap tetes ilmu yang masuk akan mengubahnya menjadi sumber yang memberi. Jadi, makna filosofisnya adalah keberanian untuk tidak tahu, keterbukaan untuk menerima, dan kesiapan untuk menyalurkan, menjadikan kekosongan sebagai titik awal penciptaan pengetahuan.
Jika sebagai botol kosong, ilmunya belum terisi penuh, guru bersangkut tetap setia memilih berbeda dengan lainnya tetap ikut mengikuti diklat, seminar, lokakarya, simposium, atau musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dan berkontribusi positif ketika menjadi peserta.
Ada banyak manfaat jika kita membuka hati seperti Rhenald Kasali dengan rumah perubahannnya. Guru harus berubah karena diantaranya ada kesempatan untuk update informasi dan penambahan kepemilikan pengetahuan dengan pengetahuan baru seiring perubahan zaman.
Ketika model sertifikasi dalam jabatan atau Program PPG (Program Pendidikan Profesi Guru) diikuti oleh guru, berdampak positif terhadap pembelajaran di kelas. Seperti kesimpulan Journal Ihsan dkk. (2023), ada empat kesimpulan peran sertifikasi Guru terhadap Peningkatan Mutu Pembelajaran seperti dalam satu paragraf berikut.
Peran Guru bersertifikasi tergolong sangat baik karena mereka dapat bersinergi satu sama lain untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Sertifikasi menjadi motivasi guru dalam melakukan kinerjanya dalam bidangnya. Sudah melakukan kegiatan pemberi contoh teladan yang baik. Peran guru dalam pengelolaan kelas inovatif yaitu menjadi pengelola kelas atau pengelola pengajaran guru juga berperan sebagai fasilitator, motivator, demonstrator, mediator, dan evaluator (bdk. Journal on Education 06 (01), Ihsan dkk, pp. 43400-4348).
Sang Aktivator
Betul, guru aktivator itu kayak katalis di kelas. Istilah ini muncul sekejap ketika pendekatan pembelajaran mendalam hadir. Landasan filosofisnya sederhana bahwa belajar bukan cuma transfer pengetahuan, tapi proses membangun makna bareng. Jadi, guru jadi fasilitator yang membangun rasa ingin tahu, kritis, dan kolaborasi. Pada prinsipnya sesuai dengan slogan, “belajar bersama, tumbuh bersama”.
Guru di zaman kekinian harus beradaptasi sebaga aktivator. Jika dulu guru hanya memindahkan pengetahuan dari kepalanya ke murid, lalu sebagai fasilitator, kini harus menjadi guru fasilitator yang aktif yang disebut sebagai aktivator.
Sebagai sang aktivator bagi muridnya, guru bisa menerapkan lima hal berikut. Pertama, tanya jawab terbuka (TJT). Jika terjadi diskusi terbuka, guru harus pandai gunakan trik. Alih-alih memberikan jawaban langsung, lempar saja pertanyaan yang bikin murid mikir, dengan kalimat tanya, “Kenapa kamu berpikir begitu?”
Kedua, gunakan stategi mengajar projek berbasis masalah (PjBL), berikan tantangan nyata dari kehidupan sehari-hari murid. Ciptakan suasana eksplorasi agar mereka menemukan pengalaman belajarnya. Jika mereka gagal, berikan kesempatan mengulang dengan belajar kembali.
Ketiga, tingkatkan kolaborasi, sehingga murid terbiasa bekerjasama secara bersama-sama. Susunlah kelompok kecil, lakukan manajemen kelompok dengan berbagi peran terhadap personel kelompok, sehingga semua terlibat. Biasakan pengelompokkan kolaborasi murid perempuan lelaki ada disetiap kelompok.
Keempat, gunakanlah media sesimpel mungkin. Gunakan video pendek, supaya terjadi efisiensi waktu, gambar berwarna yang relevan dengan materi. Seharusnya, lakukan pembelajaran langsung di dunia nyata atau lakukan praktikum di laboratorium. Akses materi relevan lewan internet, sehingga terjadi blanded learning sekaligus.
Kelima, berikanlah feedback cepat dan positif. Berikanlah apresiasi setiap usaha yang ditunjukkan oleh murid, tetapi sebagai guru tunjukkanlah area yang harus ditingkatkan, bukan cuma nilai. Lakukan penilaian di awal (assemen as learning), penilaian proses (assesmen for learning), dan penilaian di akhir bab (assesmen of learning) pada setiap materi.
Jadi, sebagai guru aktivator jadikan proses pembelajaran yang menyenangkan dalam orkestra seideal yang bisa dibuat, jadilah guru sebagai fasilitator yang aktif, pilih metode pembelajaran yang melibatkan keaktifkan murid, beri ruang kreasi untuk murid, serta laksankan tiga jenis penilaian (assesmen).
Akhirnya, konsep guru yang terus belajar sepanjang hayat menawarkan sudut pandang reflektif tentang peran guru di tengah perubahan paradigma pendidikan. Guru pembelajar sepanjang hayat yang dengan sadar membuka diri untuk terus belajar, mendengar, adaptif, dan bertransformasi. Semoga.**
*Penulis adalah Waka Humas dan Guru SMP/SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak; alumnus TEP FKIP Untan, Kalbar.
Editor : Hanif