Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Paskah: Harapan Kasih dalam Kegelapan

Hanif PP • Selasa, 31 Maret 2026 | 12:10 WIB

Romo Aloys Budi Purnomo Pr
Romo Aloys Budi Purnomo Pr

Oleh: Romo Aloys Budi Purnomo Pr*

PADA Hari Minggu (05/4), umat Kristiani sedunia merayakan Paskah, Hari Raya Kebangkitan Yesus Kristus. Secara liturgis, perayaan Paskah mengajak umat Kristiani untuk merenungkan kembali makna kebangkitan Yesus Kristus dan bagaimana hal itu dapat menjadi sumber harapan kasih dalam kehidupan sehari-hari, yang kerap kali juga ditandai situasi yang tidak mudah, penuh tantangan dan kesulitan.

Paskah merupakan momentum untuk merenungkan kembali makna pengorbanan Yesus Kristus yang menjadi sumber kekuatan bagi kita dalam menghadapi kesulitan dan tantangan dalam kehidupan. Paskah adalah waktu untuk merenungkan kembali makna kebangkitan Yesus Kristus, yang membawa kita keluar dari kegelapan dan menuju cahaya.

Dunia kita dicekam gulita, saat masyarakat kita masih mudah dikuasai kebencian dan dendam, bahkan karena alasan-alasan personal-sosial-politik. Tak dapat dimungkiri, dalam agama apa pun diajarkan, bahwa kasih dan pengampunan adalah kunci untuk membangun kehidupan yang lebih baik, lebih rukun, lebih harmonis, dan lebih damai!

Menjelang sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, Yesus memberikan teladan istimewa saat mengampuni dan mendoakan orang-orang yang menyalibkan-Nya. “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).” Itulah doa Yesus bagi para pribadi yang memusuhi dan menyalibkan-Nya di puncak Golgota.

Paskah Yesus Kristus tidak bisa dilepaskan dari penyaliban-Nya. Maka, dalam Paskah pun, Yesus Kristus yang bangkit dan telah mengampuni orang-orang yang membunuhnya di kayu salib, menuntut dan memberikan kesempatan untuk saling mengampuni satu terhadap yang lain, apa pun alasan dan kesalahan setiap orang, termasuk kesalahan-kesalahan yang bersifat politis. Dengan demikian, kehidupan dimulai secara baru, dengan visi yang baru, untuk mewujudkan keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi semakin banyak orang.

Pengharapan Baru

Secara sosiologis, perayaan Paskah merupakan pengingat bagi umat Kristiani, apa pun denominasinya, untuk merenungkan kembali makna kebangkitan Yesus Kristus dan bagaimana hal itu dapat menjadi sumber harapan dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sosial-politik-ekonomi yang penuh dengan tantangan dan kesulitan, Paskah menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi siapa saja untuk terus berjuang dan membangun kehidupan yang lebih baik. Penderitaan dan kematian bukanlah akhir, melainkan menjadi jalan menuju pembaharuan kehidupan dalam pengharapan baru yang lebih baik.

Paskah menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya iman dan persaudaraan, apa pun agama dan kepercayaan seseorang dalam kebersamaan yang bermartabat dan saling menghargai satu terhadap yang lain. Dalam konteks Indonesia, hal ini dapat diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan keagamaan dan sosial yang mempromosikan persaudaraan dan toleransi antar umat beragama.

Perayaan Paskah menjadi kesempatan untuk membangun komunitas yang inklusif dan harmonis. Inspirasi ini dapat diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan yang mempromosikan dialog antar umat beragama dan membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar. Di banyak tempat, perayaan Paskah menjadi momentum untuk saling bersilaturahmi dan memperkuat kehidupan yang inklusif dan harmonis. Bahkan, sejumlah kota menyelenggarakan pawai dan atau karnaval Paskah yang melibatkan masyarakat luas tanpa diskriminasi.

Aksi Paskah juga dikembangkan secara luas dalam rangka membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar, tempat Umat dan Gereja Katolik berada. Karena, Paskah juga dapat menjadi inspirasi bagi umat Katolik di Indonesia untuk membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar melalui kegiatan-kegiatan yang mempromosikan dialog dan kerja sama dengan masyarakat sekitar, tanpa diskriminasi.

Persis dalam hal-hal konkret itu, pengharapan baru Paskah dihayati, diwujudkan, dan dirayakan. Bersumber dari perayaan-perayaan yang bersifat liturgis tata ibadah, perayaan Paskah mewujud dalam tindakan-tindakan nyata di tengah keberagamaan yang inklusif dan harmonis.

Kasih Belarasa

Semua agama mengajarkan dan mendorong umatnya untuk selalu menghayati kasih dan belarasa. Kasih dan belarasa, sebagai sebuah gerakan sosial dan keagamaan, juga memiliki tujuan yang sama untuk mempromosikan persaudaraan dan toleransi antar umat beragama. Dengannya, umat Kristiani khususnya membuka hati bagi rahmat Allah, sehingga dapat merayakan dengan penuh sukacita kemenangan Paskah Kristus Tuhan atas dosa dan maut. Sesungguhnya, Yesus Kristus, yang menderita sengsara, disalibkan, wafat, dan bangkit, adalah inti iman Kristiani, jaminan, dan sumber harapan akan janji agung Allah Bapa, yang telah terpenuhi dalam diri Putra-Nya terkasih, yakni hidup kekal (bdk. Yoh 10:28; 17:3).

Paskah Kristus mendorong kita untuk berani bergerak, meretas rasa takut dan putus asa dan keluar dari zona nyaman. Paskah menjadi momentum yang baik bagi kita untuk belajar berempati dalam kasih dan belarasa dengan mereka yang menderita. Dengan kasih dan belarasa, kita melakukan perjalanan bersama di sisi orang lain yang membutuhkan dukungan dan perhatian.

Berjalan bersama dalam kasih dan belarasa berarti memperkuat persekutuan yang didasarkan pada martabat kita sebagai anak-anak Allah (lih. Gal 3:26–28). Itu berarti berjalan berdampingan, tanpa mendorong atau menginjak-injak orang lain, tanpa iri hati atau kemunafikan, tidak membiarkan seorang pun tertinggal atau dikucilkan, saling memperhatikan dalam kasih, belarasa, dan kesabaran.

Merayakan Paskah dalam kasih dan belarasa juga berarti ikhlas bekerja sama dengan orang lain, yang bahkan berbeda dari kita. Konkritnya, setiap orang bersikap ramah, dengan aksi-aksi yang nyata, kepada mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Hidup bersama ditandai situasi positif saat orang lain merasa diterima sebagai bagian dari komunitas kita dan bukan sebaliknya dijauhkan, bahkan dibuang dan dikucilkan.

Kemenangan Paskah mengundang kita semua untuk menyadari bahwa manusia membutuhkan kasih tanpa syarat. Ia membutuhkan kepastian yang membuatnya berkata, “Baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus (Roma 8:38-39).”

Berkat Paskah Kristus, kematian telah diubah menjadi kemenangan. Dalam semangat Paskah, kita pun dipangggil dan diutus untuk hidup dalam kasih dan pengharapan melawan setiap kegelapan hidup ini dengan cahaya kebangkitan Kristus! Selamat Paskah bagi yang merayakannya!**

 

*Penulis adalah Sekretaris Komisi HAK Konferensi Waligereja Indonesia; Dosen Unika Soegijapranata Semarang.

Editor : Hanif
#kasih #harapan #kebangkitan yesus #refleksi #Kehidupan #makna paskah #pengampunan