Oleh: H. Abdul Hamid*
ALHAMDULILLAH, kita sedang memasuki hari-hari yang fitri di bulan Syawal setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Suasana fitri ini hendaknya dapat terus kita jaga hingga dipertemukan kembali dengan Ramadan-Ramadan berikutnya, sebagai upaya mencapai derajat muttaqin, yakni manusia yang bertakwa.
Sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia, Allah SWT berfirman bahwa muttaqin adalah mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan-Nya (QS 2:3). Mereka juga beriman kepada Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW serta kitab-kitab sebelumnya, dan meyakini adanya kehidupan akhirat (QS 2:4). Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk-Nya dan termasuk orang-orang yang beruntung (QS 2:5).
Namun, dalam ayat-ayat berikutnya, Allah SWT juga mengingatkan adanya manusia yang berpura-pura beriman karena memiliki penyakit di dalam hatinya. Mereka menipu diri sendiri, dan penyakit itu semakin bertambah akibat kebohongan yang dilakukan, hingga akhirnya menjadi perusak di muka bumi.
Dari ayat-ayat tersebut tampak betapa pentingnya menjadi muttaqin, yakni golongan manusia yang beruntung. Ibadah puasa Ramadan pada hakikatnya akan mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang beruntung, baik di dunia maupun di akhirat, apabila dijalankan sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku.
Usai Ramadan, umat Islam juga diingatkan akan pentingnya menjaga silaturahim maupun silaturahmi. Kedua istilah ini memiliki perbedaan makna. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), silaturahim yang berasal dari bahasa Arab lebih menitikberatkan pada hubungan dengan keluarga kandung, seperti saudara, paman, dan bibi.
Sementara itu, silaturahmi dalam bahasa Indonesia memiliki makna yang lebih luas, mencakup hubungan baik dengan siapa saja, baik kerabat, teman, sahabat, maupun tetangga, termasuk yang berbeda keyakinan.
Dengan demikian, istilah halalbihalal, yang ditulis serangkai, dapat dikaitkan dengan dua makna tersebut. Halalbihalal dapat disebut sebagai silaturahim halalbihalal apabila hanya melibatkan keluarga besar yang seiman. Sementara itu, istilah silaturahmi halalbihalal digunakan dalam konteks yang lebih luas, misalnya di lingkungan perkantoran atau instansi dengan latar belakang yang beragam.
Silaturahmi, terlebih silaturahim, perlu terus dijaga karena mengandung banyak hikmah. Sejumlah manfaat tersebut antara lain, pertama, menjadi kebutuhan rohani atau spiritual dalam kehidupan keluarga dan masyarakat untuk membangun hubungan yang harmonis serta saling menolong.
Kedua, melapangkan rezeki dan memperpanjang atau memberi keberkahan umur, sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW.
Ketiga, menyambung kembali hubungan kekeluargaan atau persaudaraan yang sempat terputus atau merenggang akibat kesalahpahaman maupun sebab lainnya.
Keempat, membersihkan penyakit hati, baik yang disadari maupun tidak. Hati yang bersih akan berdampak pada kesehatan fisik. Kelima, menumbuhkan nilai kasih sayang, kesabaran, sikap pemaaf, kejujuran, dan empati.
Keenam, memperoleh rida dan rahmat Allah Swt, karena silaturahim merupakan perintah-Nya, sebagaimana termaktub dalam QS 4:1 yang mengingatkan manusia untuk bertakwa dan menjaga hubungan silaturahmi. Ketujuh, membuka pintu surga atau memudahkan jalan menuju surga karena termasuk amalan utama. Kedelapan, menghadirkan energi positif melalui interaksi sosial bagi mereka yang menjalaninya. Kesembilan, memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi, seperti panggilan video dan pesan tertulis, terutama bagi mereka yang terpisah jarak sehingga tidak dapat bertemu secara langsung.
Melihat begitu besar manfaatnya, silaturahim dan silaturahmi tidak sepatutnya diabaikan, terlebih setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Keduanya perlu terus dijaga dengan mengedepankan adab dan nilai-nilai yang diajarkan, sehingga semangat kebersamaan dan kebaikan tetap terpelihara dalam kehidupan sehari-hari.**
*Penulis adalah purna tugas dosen PNS/ASN Untan sejak 1 Agustus 2020; anggota Dewan Pembina Yayasan Masjid Mujahidin Kalimantan Barat; dan pengasuh Bacaan Ringan Salam Pontianak.
Editor : Hanif