Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Paskah dan Kebangkitan Spiritualitas Guru

Hanif • Sabtu, 4 April 2026 | 12:44 WIB
Y Priyono Pasti.
Y Priyono Pasti.

Oleh: Y Priyono Pasti*

PERAYAAN Paskah tinggal menghitung hari. Pada Minggu (5/4, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Paskah, merayakan kebangkitan Yesus Kristus. Paskah memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Kristen. Dalam konteks spiritualitas guru, bagaimana guru memaknai substansi Paskah itu? Tulisan ini memaparkannya. 

Kemenangan atas Dosa

Substansi Paskah adalah peringatan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian setelah Ia disalibkan, yang menandai kemenangan atas dosa dan maut serta harapan akan kehidupan kekal bagi umat manusia. Paskah juga merupakan puncak dari tahun liturgi gereja dan menjadi momen penting untuk merenungkan pengorbanan Kristus dan Kasih-Nya yang tak terhingga.

Mengutip Antonius Subianto Bunjamin (2025), pada hari Paskah, umat Kristiani merayakan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kita bisa merasakan adanya suasana kemenangan dan kegembiraan yang dimeriahkan melalui lagu-lagu dengan diiringi sorak-sorai “Alleluia…Alleluia…Alleluia…!”

Di balik suka cita kebangkitan tersebut, ada penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib pada Jumat Agung. Dengan mengimani dan merayakan Paskah, kita diyakinkan bahwa yang jahat dikalahkan dan maut dihancurkan, karena kasih dan kuasa Allah dalam diri Yesus Kristus.

Melalui misteri Paskah, kita diteguhkan bahwa penderitaan dan salib adalah jalan menuju kebahagiaan dan kemenangan. Kematian dan dukacita Jumat Agung adalah pintu menuju kebangkitan dan suka cita Paskah. Tiada Paskah tanpa Jumat Agung. Dalam konteks pendidikan, terutama para guru, memaknai substansi Paskah untuk kebangkitan spiritualitas guru dalam menjalankan tugas kenabiannya sebagai jalan kehormatan adalah keniscayaan.

Keberhasilan guru

Keberhasilan seorang guru adalah ketika wajah para siswanya berbinar-binar, terpancar kegembiraan dan kegairahan yang meluap-luap karena mendapatkan pemaknaan dari penyingkapan pengetahuan melalui proses pembelajaran yang difasilitasi gurunya.

Guru jenis ini menyadari sepenuhnya bahwa proses pendidikan adalah upaya untuk mengkritisi realitas yang terbentuk yang diharapkan berpengaruh pada siswanya. Ia adalah guru yang menganggap bahwa pengetahuan itu penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah menggunakan pengetahuan itu untuk perubahan. Guru tidak hanya membuat siswanya memahami dunia, lebih dari itu membuat siswanya mampu mengubahnya.

Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi yang memuncak pada kecerdasan buatan dengan segala dampak ikutannya yang hampir pasti tak bisa dihindari saat ini, guru mesti menyadari perannya sebagai agen pembebasan dengan cara memasok kesadaran (consciousness), pengetahuan (knowledge), menciptakan keberdayaan (empowerment), dan pencerahan (enlightment) bagi para anak didiknya.  Lebih jauh lagi, guru mesti memiliki kesadaran ideologis, yaitu mencita-citakan tatanan kemanusiaan yang dipahami dan dianggap mungkin untuk diciptakan. Ini berarti guru bersifat optimis dan profesional (lih. F. Mu’in, 2011).

Namun dalam realitasnya, masih ada (oknum) guru yang belum (tidak?) menyadari sepenuhnya hakikat keberadaan tugas mulia keguruannya, fungsi dan peran strategisnya sebagai kekuatan transformatif, agen perubahan, pembebasan,  pencerahan, pemberdayaan, dan pembaharuan.

Masih ada (oknum) guru yang “memosisikan” dirinya sebagai guru yang konservatif. Guru yang pasrah pada keadaan, tak mau mengubah kondisi yang ada, dan hanya nrimo situasi yang dihadapi. Dalam bahasa Paulo Freire, guru yang (hanya) berusaha mengakomodasikan dan mengadaptasikan siswa dengan dunia yang dihadirkannya.

Indikasi guru yang demikian, di antaranya, pertama, mengajar sekadar memenuhi kewajiban. Akibatnya, guru menjadi kurang fokus dan muncul perasaan terpaksa dalam melakukan kegiatan mengajar, kurang totalitas dalam mengajar, bersikap diam (pasif), kurang proaktif, kurang produktif, reaktif, tidak kreatif-inovatif karena guru yang demikian mempunyai prinsip yang minimalis, asal kewajiban saya sudah selesai, semuanya beres.

Kedua, mengajar untuk memenuhi tuntutan hidup. Akibatnya, setiap apa yang dilakukan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan untuk memperoleh penghasilan dalam bentuk uang ataupun materi yang dapat digunakan untuk memenuhi tuntutan hidup.

Di satu sisi, hal yang demikian wajar-wajar saja, karena harapan atau keinginan orang mengajar tentu untuk mendapatkan penghasilan (uang). Namun demikian, janganlah sampai visi kita mengajar semata-mata tujuannya adalah uang. Segala sesuatu yang kita kerjakan ukurannya adalah uang. Dengan bahasa yang lebih tajam, kita mau giat dan tekun mengajar karena ada uang. Tanpa uang, semangatnya ‘alang-alang’.

Ketiga, mengajar karena takut sanksi. Alasan ini mendorong guru selalu berupaya tampil “manis dan santun” dalam melakukan kegiatan mengajar, padahal sebenarnya apa yang dilakukan semata-mata hanya untuk mengelabui orang lain, atasan (bahkan tanpa disadari mengelabui diri sendiri).

Akibat buruk dari mengajar hanya karena takut sanksi ini adalah guru mengajar seperti robot, tanpa kreativitas, tanpa inovasi, monoton dan bagi siswa sangat membosankan. Mestinya kesadaran diri akan pentingnya mengajar yang baik dan serius tersebut muncul dari diri sendiri bukan karena alasan takut mendapat sanksi.

Sejumlah indikasi di atas menggambarkan spiritualitas guru yang rendah. Mereka mudah loyo, tidak bersemangat menjalankan tugasnya, tidak kreatif, yang dicari hanya semata-mata uang, bolosan, dan tidak kerasan berhadapan dengan siswa, tidak rela diganggu siswa.

Spiritualitas Guru

Di tengah kondisi yang demikian, menguatkan spiritualitas guru menjadi keniscayaan. Spiritualitas guru dapat diartikan sebagai roh, jiwa, kesadaran, dan keyakinan mendalam seorang guru yang memberikan semangat dan mendasari seluruh pemikiran, hati, sikap, dan tindakan seorang guru dalam mendidik atau mendampingi siswa di sekolah.

Spiritualitas guru yang tinggi dapat berbentuk, antara lain semangat dan kegembiraan guru dalam mendampingi dan melakukan tugas mendidik; kesadaran mendalam seorang guru bahwa tugasnya adalah merupakan panggilan hidupnya, yang membahagiakan dan mengembangkan siswa dan juga dirinya.

Selain itu, berupa kesadaran mendalam akan kebutuhan pendidik bagi generasi muda suatu negara sehingga mereka bersemangat untuk melakukan proses pendidikan, yaitu mengembangkan anak didik.

Dampak spiritualitas guru yang tinggi antara lain, tampak pada kecintaan guru dalam membantu siswa agar dapat maju dengan pesat; kreativitas guru dalam mengusahakan agar pendidikan siswa semakin maju dan tidak mudah putus asa jika menghadapi persoalan dalam proses pendidikan.

Mereka juga dengan senang hati terus belajar dan mengembangkan dirinya agar menjadi guru yang profesional. Mereka juga senang bekerja sama dengan rekan guru, kepala sekolah, orangtua, dan masyarakat sekitar karena mereka sadar tidak mungkin menjadi guru sendirian saja (lih. Paul Suparno, 2020).

Menguatkan Spiritualitas Guru

Ada dua cara yang bisa ditempuh guru dalam menguatkan spiritualitasnya. Pertama, secara mandiri lewat refleksi, belajar mandiri, aktivitas doa, dan melayani siswa dengan penuh empati (melayani dengan hati). Kedua, secara berkelompok/bersama melalui suatu sistem yang lebih besar, seperti pemerintah dan yayasan.

Secara berkelompok, mengkristalisasikan Paul Suparno (2020), sejumlah kegiatan yang mesti dilakukan adalah pertama, refleksi panggilan sebagai guru yang dilakukan bersama-sama dalam satu sekolah. Dalam refleksi bersama ini, pihak sekolah (Yayasan) dapat mengundang pimpinan agama, tokoh (pakar) pendidikan, motivator, dan tokoh lainnya untuk memberikan kesadaran reflektif, pencerahan,  dan penguatan spiritualitas dasar tentang panggilan menjadi guru. Idealnya, refleksi ini dilakukan secara berkala dan berkelanjutan.

Kedua, pendalaman tentang makna pendidikan. Sejumlah guru yang spiritualitasnya rendah karena pemahamannya tentang pendidikan tidak luas, mereka ini perlu dibantu agar terus mau belajar, mendalami makna pendidikan lewat membaca buku-buku pendidikan atau filsafat dari tokoh-tokoh pendidikan (seperti Ki Hadjar Dewantara, Paulo Freire, dan lainnya), memahami substansinya, menginternalisasikan, mengimplementasikannya dalam tugas profetisnya sebagai guru.

Ketiga, pengalaman live in di tempat yang membutuhkan guru. Pengalaman live in di tempat yang kekurangan guru dan sungguh membutuhkan guru dapat membantu seseorang (guru) memunculkan motivasi dan semangat juang untuk menjadi guru handal dengan segala dimensinya yang rela berbagi untuk orang-orang pinggiran.

Keempat, studi banding ke sekolah-sekolah yang guru-gurunya bersemangat, kreatif; berziarah ke tempat suci yang memberikan semangat kepada para guru. Selain memberikan semangat, acara ini juga dapat mengembangkan kerja sama antar guru.

Di tengah dinamika dan beragam tantangan yang dihadapi dunia pendidikan hari ini, menguatkan spiritualitas guru mesti menjadi agenda penting serta mendapatkan penekanan dan perhatian serius dari pihak sekolah, yayasan, dan pemerintah.

Marilah kita berjalan bersama, saling menguatkan dan meneguhkan untuk menguatkan spiritualitas kita sebagai guru. Semoga dengan semangat Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus jalan menuju kebahagiaan dan kemenangan, spiritualitas para guru kita semakin kuat, guru menjadi kian profesional, dan kualitas pendidikan semakin meningkat. Semoga demikian!**

*Penulis adalah alumnus USD Yogya; guru di SMP/SMA St. F. Asisi Pontianak. 

Editor : Hanif
#pendidikan #kualitas #Spiritualitas #guru #refleksi