Oleh: T.H. Hari Sucahyo*
Perang selalu dikemas dengan narasi besar: keamanan, kedaulatan, atau bahkan moralitas. Namun, di balik dentuman rudal dan pidato penuh retorika, ada pertanyaan yang jauh lebih sunyi tetapi menentukan: siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Dalam konflik yang melibatkan Iran, baik dengan Amerika Serikat, Israel, maupun jaringan proksi di Timur Tengah, jawaban atas pertanyaan ini tidak pernah sederhana. Semakin lama konflik berlangsung, semakin terlihat bahwa keuntungan terbesar tidak selalu berada di tangan mereka yang bertempur di garis depan.
Dalam logika klasik, perang identik dengan kerugian. Infrastruktur hancur, ekonomi runtuh, dan masyarakat sipil menjadi korban utama. Iran sendiri telah mengalami tekanan ekonomi berkepanjangan akibat sanksi, inflasi, dan dampak konflik yang menurunkan pendapatan serta stabilitas domestik.
Namun, pada saat yang sama ada pihak-pihak yang justru mencatat keuntungan fantastis. Ini bukan paradoks, melainkan pola yang berulang dalam sejarah geopolitik modern.
Salah satu pihak yang paling konsisten diuntungkan adalah industri energi global. Setiap eskalasi konflik di Timur Tengah hampir selalu diikuti lonjakan harga minyak. Hal ini bukan kebetulan. Kawasan tersebut merupakan jantung produksi energi dunia, dan Iran berada pada posisi strategis, terutama karena kedekatannya dengan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global.
Ketika ketegangan meningkat, pasar merespons dengan “risk premium” yang secara otomatis mendorong harga minyak naik. Negara-negara produsen di luar zona konflik, seperti Amerika Serikat dan Rusia, sering kali menikmati kenaikan pendapatan tanpa harus terlibat langsung dalam perang. Dengan kata lain, setiap rudal yang diluncurkan di Teluk Persia dapat berarti tambahan miliaran dolar bagi produsen energi global.
Perang juga menjadi katalis bagi industri pertahanan. Dalam beberapa dekade terakhir, belanja militer global terus meningkat setiap kali konflik besar terjadi. Perusahaan-perusahaan senjata memperoleh kontrak baru, pemerintah menaikkan anggaran pertahanan, dan inovasi teknologi militer dipercepat.
Dalam konteks konflik Iran, lonjakan permintaan terhadap sistem pertahanan udara, drone, hingga keamanan siber menunjukkan bahwa perang modern bukan hanya soal senjata konvensional, tetapi juga dominasi teknologi. Bahkan, sektor keamanan siber mengalami pertumbuhan signifikan karena konflik Iran–Israel juga berlangsung di ruang digital dengan menyasar infrastruktur vital seperti listrik dan perbankan.
Di sisi lain, ada pula keuntungan yang lebih halus tetapi tidak kalah besar, yakni keuntungan geopolitik. Bagi negara-negara besar, konflik Iran kerap menjadi alat untuk mengatur ulang keseimbangan kekuatan global. Amerika Serikat, misalnya, dapat memanfaatkan ketegangan ini untuk mempertahankan kehadiran militernya di Timur Tengah sekaligus mengamankan kepentingan strategisnya.
Sementara itu, negara-negara Eropa dapat memanfaatkan situasi untuk memperluas akses terhadap sumber energi alternatif di kawasan tersebut. Bahkan ada pandangan bahwa konflik semacam ini memungkinkan kekuatan besar mengalihkan perhatian dari isu lain, seperti persaingan dengan China di kawasan Indo-Pasifik.
Yang paling menarik, keuntungan terbesar sering kali justru dinikmati oleh aktor yang tidak terlihat secara langsung. Mereka bukan negara, bukan tentara, dan bukan pula pemimpin politik yang tampil di layar televisi. Mereka adalah jaringan kepentingan global, mulai dari korporasi multinasional hingga investor dan spekulan pasar.
Ketika konflik meningkat, pasar keuangan bereaksi cepat. Harga emas naik, saham energi melonjak, dan investor mencari aset aman. Dalam situasi seperti ini, mereka yang memiliki akses informasi dan modal besar dapat memanfaatkan volatilitas untuk meraih keuntungan dalam waktu singkat. Perang, dalam konteks ini, berubah menjadi peluang bisnis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perang modern telah mengalami transformasi. Ia bukan lagi sekadar bentrokan militer, melainkan bagian dari sistem ekonomi global. Dalam sistem ini, konflik tidak selalu dipandang sebagai kegagalan, tetapi sebagai mekanisme yang dapat menghasilkan keuntungan bagi pihak tertentu.
Bahkan, ada argumen bahwa perang menjadi “terlalu mahal untuk dihentikan” karena terlalu banyak kepentingan ekonomi yang terlibat di dalamnya.
Di tengah semua perhitungan tersebut, ada satu pihak yang hampir selalu dirugikan: masyarakat sipil. Mereka kehilangan rumah, pekerjaan, dan masa depan. Mereka tidak mendapatkan bagian dari keuntungan miliaran dolar yang dihasilkan oleh kenaikan harga minyak atau kontrak senjata.
Sebaliknya, mereka harus menanggung dampak langsung dari konflik, mulai dari inflasi hingga krisis kemanusiaan. Dalam banyak kasus, penderitaan ini bahkan berlangsung jauh lebih lama daripada perang itu sendiri.
Ironisnya, narasi publik sering kali mengaburkan realitas ini. Media dan propaganda cenderung menyoroti aspek heroik atau ideologis konflik, sementara dimensi ekonomi jarang dibahas secara terbuka. Padahal, memahami siapa yang diuntungkan merupakan kunci untuk memahami mengapa konflik terus berulang.
Selama ada pihak yang memperoleh keuntungan besar, insentif untuk menghentikan perang akan selalu lemah.
Dalam konteks Iran, situasi ini semakin kompleks karena konflik tidak hanya melibatkan satu lawan, tetapi jaringan hubungan yang luas. Ada konflik langsung, konflik proksi, hingga perang siber. Setiap lapisan konflik menciptakan peluang keuntungan bagi aktor yang berbeda.
Misalnya, perusahaan teknologi mendapatkan keuntungan dari meningkatnya kebutuhan keamanan digital, sementara perusahaan logistik menghadapi tantangan sekaligus peluang dalam mengelola risiko distribusi di kawasan yang tidak stabil.
Konflik ini juga berdampak pada sistem keuangan global. Penguatan dolar AS sering terjadi ketika ketidakpastian meningkat karena investor mencari aset yang dianggap aman. Kondisi ini memberikan keuntungan tambahan bagi ekonomi Amerika Serikat, meskipun mereka juga menanggung biaya militer yang besar.
Dengan kata lain, bahkan dalam kondisi yang tampak merugikan, terdapat mekanisme yang memungkinkan keuntungan tetap mengalir.
Jika dilihat lebih jauh, pola ini bukan hal baru. Sejarah menunjukkan bahwa perang kerap menjadi bagian dari dinamika ekonomi global. Dari Perang Dunia hingga konflik modern di Timur Tengah, selalu ada hubungan antara kekerasan dan keuntungan ekonomi. Yang berubah hanyalah bentuk dan skalanya.
Jika dahulu keuntungan mungkin terbatas pada wilayah tertentu, kini dampaknya bersifat global dan terintegrasi dalam sistem keuangan internasional.
Pertanyaannya kemudian, apakah mungkin ada perang tanpa keuntungan? Secara teoritis mungkin. Namun dalam praktiknya, selama sistem global masih memberikan insentif ekonomi terhadap konflik, kemungkinan tersebut tampak kecil.
Hal ini bukan berarti perang sengaja diciptakan demi keuntungan. Namun ketika perang terjadi, selalu ada pihak yang siap dan mampu mengubahnya menjadi peluang.
Memahami siapa yang diuntungkan dari konflik Iran bukan sekadar mengidentifikasi pemenang tersembunyi, tetapi juga melihat bagaimana sistem global bekerja. Ini adalah sistem di mana kekuasaan, ekonomi, dan konflik saling terkait, membentuk lingkaran yang sulit diputus.
Selama lingkaran tersebut tetap utuh, perang akan selalu memiliki sisi lain yang jarang dibicarakan: sisi yang menghasilkan keuntungan miliaran dolar di tengah penderitaan manusia.
Mungkin di situlah letak rahasia terbesar perang modern: di balik setiap konflik yang tampak kacau, terdapat struktur yang bekerja sangat rapi, memastikan selalu ada pihak yang keluar sebagai pemenang, bahkan ketika dunia tampak sedang kalah. (**)
*) Penulis adalah Pegiat Cross-Disciplinary Discussion Group “Sapientiae”
Editor : Hanif