Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kultur dan Mentalitas: Etika Menghormati Anak di Jalan Raya

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 13 April 2026 | 22:08 WIB
Ilustrasi anak-anak sedang menyebrang di zebra cross.  (AI)
Ilustrasi anak-anak sedang menyebrang di zebra cross. (AI)

 

Oleh: Eka Hendry Ar.*

SUATA pagi saya mengantar anak bungsu ke sekolah. Seperti biasa, saya berhenti beberapa meter dari tempat penyeberangan (zebra cross) di depan sekolah.

Biasanya ada satpam yang membantu menyeberangkan anak-anak.

Pagi itu kami agak terlambat sehingga satpam sudah tidak lagi menunggu anak-anak yang akan menyeberang.

Seperti biasa pula, saya tidak akan pergi sebelum anak menyeberang dan masuk ke pagar sekolah.

Setelah beberapa saat, anak belum juga menyeberang karena kendaraan cukup padat.

Sesaat kemudian ia kembali ke mobil dan meminta tolong agar saya membantunya menyeberang.

Terus terang, dengan sedikit rasa kesal—karena tidak ada pengendara yang mau mengalah pada anak sekolah—saya akhirnya menyeberangkan anak hingga ke depan gerbang sekolah.

Sebenarnya pengalaman tersebut bukan pertama kali terjadi. Anak-anak yang jelas mengenakan seragam sekolah sering kesulitan menyeberang jalan yang sebenarnya hanya beberapa langkah saja.

Padahal di depan sekolah terdapat zebra cross yang secara norma lalu lintas seharusnya membuat pengendara mengurangi kecepatan, apalagi ketika ada anak-anak yang hendak menyeberang.

Namun kenyataannya, kendaraan yang melintas, baik motor maupun mobil, seolah-olah selalu terburu-buru.

Mereka melaju tanpa mengurangi kecepatan, bahkan jarang berhenti untuk memberi jalan. Barangkali para orang tua lain juga memiliki pengalaman serupa.

Tulisan ini bukan untuk mengajarkan etika atau norma, melainkan sekadar refleksi mengenai kultur dan mentalitas kita dalam berkendara.

Tidak bermaksud membandingkan secara berlebihan, tetapi mungkin ada baiknya kita belajar dari negara tetangga, seperti Sarawak—khususnya Kuching di Malaysia.

Sebagian pembaca mungkin pernah merasakan bagaimana kultur dan mentalitas berlalu lintas di sana.

Ketaatan terhadap rambu-rambu lalu lintas, keteraturan di jalan, pengaturan kecepatan, jarangnya penggunaan klakson, tradisi antre, hingga penghormatan terhadap pejalan kaki—terutama anak-anak sekolah—menjadi pemandangan yang umum.

Saya tidak tahu persis berapa lama Kuching membentuk kultur dan mentalitas berkendara seperti itu.

Mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun hingga menghasilkan masyarakat yang lebih tertib, teratur, dan santun di jalan raya seperti yang kita lihat saat ini.

Selain proses pembudayaan yang panjang, hal tersebut mungkin juga ditopang oleh penegakan aturan lalu lintas yang konsisten dan tanpa pandang bulu.

Dari situ tumbuh kesadaran akan pentingnya keteraturan berlalu lintas sekaligus rasa takut melanggar aturan.

Berbagai variabel tentu berperan dalam membentuk kultur dan mentalitas masyarakat.

Namun di balik itu semua, ada satu hal yang sangat krusial: etika dan penghormatan. Sekalipun aturan tidak ada, etika dan rasa hormat seharusnya tetap hadir.

Etika berkaitan dengan kesopanan dalam berkendara, meskipun tanpa konsekuensi hukum.

Sementara penghormatan merupakan nilai dasar untuk menjaga hak setiap orang. 

Etika dan penghormatan sejatinya adalah nilai yang melekat dalam masyarakat yang berbudaya. Keduanya bahkan hadir jauh sebelum hukum dibuat.

Dalam konteks tulisan ini, terdapat dua objek utama, yakni anak-anak dan pendidikan.

Pertama, anak-anak secara etis adalah pihak yang membutuhkan bantuan, perlindungan, dukungan, dan perhatian. Hak mereka adalah mendapatkan perlindungan, bantuan, serta pendampingan.

Setiap orang dewasa memiliki kewajiban memastikan hak-hak tersebut terjaga, termasuk ketika mereka berada di jalan raya.

Kewajiban ini bukan hanya tugas satpam atau polisi lalu lintas. Setiap pengguna kendaraan—yang secara legal sudah berusia minimal 17 tahun—memiliki tanggung jawab yang sama.

Kedua, anak sekolah juga berkaitan dengan penghormatan kita terhadap pendidikan.

Apakah kita memandang pendidikan sebagai sesuatu yang tidak penting dan bukan tanggung jawab bersama?

Padahal anak-anak yang pergi ke sekolah sedang menjalankan tugas penting bagi masa depan mereka.

Jika kita memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan, setidaknya akan muncul empati untuk mendukung mereka.

Dukungan itu mungkin sederhana, misalnya membantu atau mempermudah anak-anak menyeberang jalan. Setidaknya kita dapat memberikan rasa aman, rasa dihargai, dan kemudahan bagi mereka.

Kesadaran dan komitmen seperti inilah yang menurut saya membuat negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang sangat menghormati pejalan kaki, terlebih anak-anak sekolah.

Di Jepang bahkan berkembang budaya saling menghormati yang kuat.

Para pejalan kaki, termasuk anak-anak sekolah, sering menundukkan kepala sebagai simbol terima kasih kepada pengendara yang memberi jalan. Dengan demikian terbentuk kultur dan mentalitas saling menghormati di jalan raya.

Nilai etika yang melampaui kepentingan lalu lintas semata ini kemudian berkembang menjadi bagian dari kultur dan mentalitas bangsa.

Pada akhirnya, masyarakat dapat membangun sikap saling menghormati dan saling percaya (mutual respect and trust).

Hal yang paling saya khawatirkan adalah jika kesadaran etis kita terhadap penghormatan kepada anak-anak dan pendidikan mulai memudar.

Jika itu terjadi, maka pada saat yang sama kita juga sedang kehilangan sikap saling menghormati, saling melindungi, saling menghargai, saling menyayangi, dan saling mempercayai.

Jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, maka jangan berharap akan tumbuh kultur dan mentalitas saling menghormati dalam konteks kehidupan yang lebih luas dan serius.

Sebagai penutup refleksi ini, jika kita menginginkan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, maka kita perlu memperhatikan hal-hal yang paling fundamental, yakni kultur dan mentalitas masyarakat.

Selama kita tidak serius membinanya, jangan berharap bangsa ini dapat melangkah jauh menuju kemajuan. (**)

 

Penulis adalah dosen IAIN Pontianak

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#anak-anak #jalan raya #etik #Kultum #lalu lintas