Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
KINI, sering pembicaraan tidak dapat ditafsirkan apakah sekadar permainan kata-kata, atau serius? Sulit membedakannya. Banyak orang yang awalnya baik, akhirnya jahat. Ada pula orang yang awalnya jahat, akhirnya baik.
Akhir zaman ditandai sulit memercayai perkataan manusia. Perkataan mudah berubah dan perjanjian mudah diingkari. Contohnya, janji oknum politik sebagai pemberi harapan palsu (PHP). Sebelum duduk di parlemen 100 persen janjinya. Setelah duduk menjadi anggota parlemen, sisa 0 persen. Namun konstituen lupa akan kejahatan yang pernah dibuat mereka yaitu ingkar janji. Siklus lima tahunan cukup untuk menghapus ingatan rakyat pemilih. Rakyat pemilih terperosok di lubang yang sama sebanyak dua atau tiga kali. Inikah yang disebut pemilih cerdas?
Konspirasi ekonomi global sudah berada di tangan antek-antek Dajal. Kurs rupiah terus anjlok. Nilai mata uang rupiah semakin turun di tengah mata uang dunia. Ada kekuatan fiskal dan kebijakan moneter global yang merekayasa, bukan tanpa rekayasa. Keadaan seperti ini bila tidak ditelusuri dari akarnya, dan tanpa penanganan tuntas. Akan menyengsarakan rakyat Indonesia berkepanjangan. Situasi yang sangat menyedihkan. Kelas menengah dari golongan agamawan dan ilmuwan, media sosial dan gen-z harus ikut bergerak memikirkan keadaan rakyat sebagai pemilik sah negeri ini. Hari demi hari, untuk mencukupi kebutuhan pokok, rakyat menjerit kelaparan dan kehausan. Bukan karena rakyat malas, tapi karena harga sembilan bahan pokok (sembako) melambung tinggi.
Nabi Muhammad SAW menyebut kriteria pemimpin adalah jujur, amanah, komunikatif,
cerdas. Dampak empat sifat mulia tersebut dapat dilihat dari profil pemimpin yang mencintai rakyat dan dicintai rakyatnya. Sebuah barometer sederhana sebagai alat ukur. Ukuran cinta di hati kecil (fuad) rakyat. Bukankah hati kecil (fuad) tidak pernah berbohong?
Kriteria kepemimpinan diurai berikut. Pertama, jujur. Pemimpin yang jujur sangat penting. Jangan berbohong. Di level manapun, jujur ibarat mata uang yang berlaku dimana-mana. Pemimpin bisa jujur karena ada yang mengawasinya.
Pengawasan melekat lagi ketat, Dialah Allah Tuhan yang maha mengawasi. "Sesungguhnya
Allah bagi kamu adalah sebagai yang maha mengawasi (An-Nisa':1).”
Kaitan dengan birokrasi, formulasi jujur mencakup tiga aspek. Jujur perencanaan anggaran proyek, jujur pelaksanaan dan jujur pelaporan. Jujur berbasis data lapangan, bukan dari pembisik. Bukan rekayasa dan bukan data manipulatif.
Kejujuran telah dicontohkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Seorang pemimpin yang siap menjadi miskin, bukan siap menjadi kaya. Karena filosofi pemimpin adalah melayani, bukan dilayani. Pemimpin adalah pelayan (khadim) bagi kaum yang dipimpinnya. Sejalan dengan esensi demokrasi. Demos artinya rakyat, kratos artinya kekuasaan. Kekuasaan mutlak di tangan rakyat. Mengingat sistem pelimpahan kekuasaan dari tangan rakyat, suatu saat rakyat dapat mencabut pelimpahan kekuasaan tersebut.
Oleh karena itu, pemilu adalah pesta rakyat, dari rakyat untuk rakyat. Dengan catatan, selama pemilu tidak dikhianati. Artinya, amanah dari rakyat bukan cek kosong. Ada transaksi dan komitmen politik antara pemimpin dengan yang dipimpin, disebut bai'at.
Kalau pemimpin telah kehilangan kepercayaan (no trust) dari pemberi kekuasaan yaitu rakyat, maka pemimpin akan kehilangan legalitas. "Jika amanah diurus oleh orang yang bukan
ahlinya, tunggulah waktu kehancurannya (HR. Muslim).”
Jujur, tugas pemimpin bukan membuka dan menutup acara nasional. Bukan anjangsana ke manca negara. Tugas pemimpin adalah memakmurkan rakyat. Sehingga tidak ada rakyat yang mati kelaparan. Ketika dicek, ternyata lambungnya kosong dari asupan makanan yang berdampak kematian. Atau satu keluarga memilih mati daripada hidup sengsara. Atau siswa memilih bunuh diri karena orang tua tidak mampu membelikan buku dan pena. Kisah perpisahan yang ditulis "maafkan beta mama."
Pemimpin harus jujur, harus hadir bersama rakyat. Memantau perkembangan denyut nadi perekonomian yang mencekik dari fakta sosial menjerit. Dengarkan jeritan rakyat miskin. Pemimpin jangan dikelilingi oleh orang-orang kaya dan bawahan yang memberikan laporan ABS (asal bapak senang). Sehingga tertutup hati pemimpin untuk melihat realita yang bergejolak. Pembiaran kondisi sulit ibarat menyimpan "api dalam sekam."
Kedua, amanah. Stop mencalon, jika tidak sanggup berlaku amanah. Tidak amanah merupakan dosa sosial yang tak sanggup ditebus, meski bayarannya berupa emas sepenuh bumi. Sebab sudah mengkhianati Allah, Rasul dan umat manusia. Memerhatikan detik ini, fitnah akhir zaman telah merata dan Dajal gentayangan. Dajal adalah iblis berbentuk manusia, sedangkan iblis ialah sosok jahat berbentuk jin.
Dengan menyebut nama Allah, demi Allah aku bersumpah, menjalankan amanah jabatan
dengan sejujurnya. Sumpah jabatan yang sering dilanggar. Bersumpah di bawah naungan kitab suci. Justru kitab suci yang sering dikhianati. Sumpah dilakukan secara kolektif, kemudian dengan berani korupsi berjamaah. Ingat, yang masuk ke dalam neraka bukan Fir'aun sendiri, namun Fir'aun beserta jajarannya (ala fir'aun asyaddal 'adzab).
Ketiga, komunikatif. Pemimpin tidak hanya dituntut jujur dan amanah. Melainkan juga berkemampuan menyampaikan ide cerdas, bermanfaat. Komunikasi yang tumbuh dari hati pemimpin jujur akan berdampak pada penerimaan yang tulus untuk rakyat. Dalam komunikasi, rakyat jangan
dibohongi. Sekali rakyat dibohongi, seumur hidup mereka ingatkan. Bekal mahir dalam komunikasi ialah jujur, amanah, cerdas dan keberanian. Tanpa empat syarat ini, pemimpin akan dipermalukan di atas podium. Sebaliknya, penyampaian program kerja yang bernas dan jelas, mampu mengarahkan bangsa berkemajuan. Kejayaan berpresisi, terukur dan akurat. Bukan sindroma program, sporadis, acak-kadul.
Keempat, cerdas. Kecerdasan pemimpin harus di atas rata-rata kecerdasan rakyat. Pemilihan yang memenuhi kriteria pemimpin ideal wajib dipilih. Meskipun pemimpin adalah gambaran (profil)
rakyat yang memilihnya. Misal, komunitas unta akan memilih unta yang menjadi ketua kabilah. Di sini, ditetapkan kriteria pemilihan. Jangan memilih unta yang sakit, lemah, kontra produktif, labil, tidak berwawasan (picik), rakus, tamak, tidak berkesadaran lingkungan.
Demikian empat kriteria kepemimpinan dalam memilih pemimpin. Semua terang-benderang. Sebab manusia hidup di alam kenyataan, bukan di alam kahyangan. Mengapa salah memilih? Jangan salahkan bunda mengandung. Wallahualam.**
*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.
Editor : Hanif