Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ilusi Komunikasi: Ketika Makna Terjebak dalam Persepsi

Hanif • Sabtu, 18 April 2026 | 10:26 WIB
Erwin, S.Pd., S.Fil., M.Pd.
Erwin, S.Pd., S.Fil., M.Pd.

Oleh: Erwin, S.Pd., S.Fil., M.Pd.* 

DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering merasa telah berbicara dengan jelas. Kata-kata dipilih dengan hati-hati, penjelasan disusun secara runtut, bahkan contoh-contoh ditambahkan agar maksud semakin terang. Namun, di ujung percakapan, respons yang muncul justru melenceng dari harapan. Apa yang kita maksud tidak sepenuhnya ditangkap sebagaimana mestinya. Pada titik inilah kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang kerap luput disadari: komunikasi tidak selalu sejelas yang kita bayangkan. Ia kerap menyimpan ilusi.

Kita cenderung mengandaikan bahwa makna yang kita sampaikan akan diterima secara utuh oleh orang lain. Kita memercayai bahasa sebagai alat yang netral dan transparan, seolah-olah mampu memindahkan isi pikiran dari satu kepala ke kepala lain tanpa distorsi. Namun, filsafat, khususnya filsafat bahasa dan hermeneutika, menggugat asumsi ini. Bahasa ternyata bukan jembatan yang kokoh, melainkan medan tafsir yang kompleks.

Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf bahasa abad ke-20, menegaskan bahwa makna sebuah kata tidak terletak pada kata itu sendiri, melainkan pada penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebutnya sebagai language games atau permainan bahasa. Dalam kerangka ini, setiap orang hidup dalam “permainan bahasa” yang mungkin berbeda. Kata yang sama dapat memiliki makna yang berbeda karena digunakan dalam konteks yang berbeda. Maka, ketika kita berbicara, kita sebenarnya tidak sedang mengirimkan makna yang pasti, melainkan mengundang orang lain untuk menafsirkan.

Dari sudut pandang ini, kesalahpahaman bukanlah kecelakaan, melainkan sesuatu yang hampir tak terelakkan. Kita mengira orang lain bermain dalam aturan bahasa yang sama, padahal tidak selalu demikian. Apa yang bagi kita jelas, bagi orang lain bisa saja ambigu. Apa yang kita maksudkan sebagai kritik membangun dapat ditangkap sebagai serangan. Apa yang kita niatkan sebagai candaan dapat dipersepsikan sebagai penghinaan. Di sinilah ilusi komunikasi mulai bekerja: kita merasa telah dipahami, padahal belum tentu.

Pandangan ini diperdalam oleh hermeneutika, terutama melalui pemikiran Hans-Georg Gadamer. Gadamer menegaskan bahwa setiap pemahaman selalu dipengaruhi oleh latar belakang sejarah, budaya, dan pengalaman seseorang. Ia menyebutnya sebagai horizon pemahaman. Ketika dua orang berkomunikasi, yang terjadi bukan sekadar pertukaran kata, melainkan perjumpaan dua horizon yang berbeda.

Dalam proses ini, makna tidak pernah hadir secara murni. Ia selalu diwarnai oleh prasangka, pengalaman, dan situasi konkret masing-masing individu. Oleh karena itu, memahami bukan sekadar menerima pesan, melainkan menafsirkan. Setiap penafsiran selalu mengandung kemungkinan keliru. Dengan demikian, komunikasi tidak pernah benar-benar bebas dari distorsi persepsi.

Filsafat fenomenologi yang dipelopori oleh Edmund Husserl mengingatkan bahwa setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman subjektifnya sendiri. Realitas yang kita alami bukanlah realitas “apa adanya”, melainkan realitas sebagaimana tampak dalam kesadaran kita. Dengan kata lain, dunia yang kita pahami adalah dunia versi kita sendiri.

Konsekuensinya, ketika kita berbicara, kita tidak hanya membawa kata-kata, tetapi juga seluruh pengalaman subjektif yang membentuk cara kita memahami dunia. Orang lain pun demikian. Maka, komunikasi menjadi pertemuan dua subjektivitas yang tidak pernah sepenuhnya identik. Di sinilah letak batasnya: tidak ada jaminan bahwa makna yang dimaksudkan akan sama persis dengan makna yang diterima.

Refleksi ini semakin diperdalam dalam pemikiran Martin Heidegger, yang melihat bahasa sebagai “rumah Ada”. Bagi Heidegger, bahasa memang memungkinkan manusia mengungkapkan diri, tetapi sekaligus menyembunyikannya. Tidak semua pengalaman dapat diungkapkan secara tuntas melalui kata-kata. Selalu ada dimensi yang tak terkatakan. Maka, setiap komunikasi pada dasarnya merupakan upaya yang tak pernah selesai untuk mendekati makna, tanpa pernah sepenuhnya mencapainya.

Apakah ini berarti komunikasi adalah sesuatu yang sia-sia? Tidak. Filsafat justru tidak mengajak kita untuk menyerah, melainkan untuk lebih rendah hati. Kesadaran akan keterbatasan bahasa dan persepsi dapat menjadi titik awal bagi komunikasi yang lebih manusiawi.

Pertama, kita perlu meninggalkan asumsi bahwa orang lain “pasti sudah paham”. Kejelasan dalam pikiran kita tidak otomatis menjadi kejelasan bagi orang lain. Kedua, kita perlu membuka ruang dialog yang lebih luas, memberi kesempatan bagi klarifikasi, pertanyaan, dan bahkan perbedaan. Ketiga, kita perlu melatih empati: berusaha memahami dari sudut pandang orang lain, bukan hanya dari sudut pandang kita sendiri.

Dengan demikian, komunikasi tidak lagi dipahami sebagai proses memindahkan makna secara utuh, melainkan sebagai proses bersama untuk mendekati makna. Ia bukan tindakan satu arah, melainkan perjumpaan yang dinamis. Dalam perjumpaan itu, makna tidak diberikan begitu saja, melainkan dibangun bersama melalui dialog.

Singkat kata, ilusi komunikasi bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, karena ia merupakan bagian dari kondisi manusia itu sendiri. Namun, dengan kesadaran filosofis, kita dapat mengelolanya dengan lebih bijak. Kita mungkin tidak pernah sepenuhnya dipahami, tetapi kita selalu dapat berusaha untuk lebih memahami. Makna terdalam dari komunikasi bukan terletak pada kepastian bahwa kita dimengerti, melainkan pada kesediaan untuk terus menjembatani jarak antarpersepsi, meskipun jembatan itu tidak pernah benar-benar sempurna. (*)

 

*Penulis adalah Dosen Matematika dan Filsafat di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Editor : Hanif
#Filsafat #ilaga #komunikasi #bahas #percakapan