Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

R.A. Kartini: Pembela Kaumnya dan Harum Namanya

Hanif • Senin, 20 April 2026 | 10:32 WIB
Ma’ruf Zahran Sabran
Ma’ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran

Memperingati Hari Kartini tahun ini terasa spesial. Tidak hanya karena menipis, bahkan hilangnya sekat ketidakadilan gender. Kaum perempuan kini secara sejajar menempati posisi strategis yang sama dengan laki-laki di berbagai bidang, seperti politik, kepolisian, militer, kedokteran, dan pendidikan. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan: bagaimana dengan peran domestik yang menjadi fitrah perempuan? Fitrah tersebut meliputi mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat anak—kodrat yang tidak dapat tergantikan oleh laki-laki.

Derajat perempuan menjadi tinggi ketika ia menjalankan amanah tersebut sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan. Tanpa itu, kehidupan di bumi tidak akan berlangsung. Karena itulah, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menghormati ibu sebanyak tiga kali sebelum ayah.

Lapangan pengabdian seorang ibu adalah rumah, bersama suami dan anak-anak. Di sanalah terdapat pengabdian tulus: mendampingi suami, mendidik anak, serta mengelola rumah tangga dengan rapi dan penuh kesabaran. Tuhan menganugerahkan perempuan kemampuan bertahan dan bersabar, bukan sekadar kekuatan menyerang yang mudah lelah. Perempuan juga dikenal setia kepada suami selama tidak disakiti.

Pada masa R.A. Kartini, kondisi perempuan sangat terpinggirkan, tertekan, dan mengalami ketidakadilan di bawah kolonialisme Belanda. Perempuan kerap diperlakukan sebagai objek eksploitasi, dengan peran terbatas hanya untuk kepentingan tertentu. Ketimpangan dan penindasan tersebut mendorong Kartini tampil sebagai pelopor dalam membela kaumnya. Perjuangan ini juga telah diawali oleh tokoh-tokoh seperti Mala Hayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Dewi Sartika, Rahmah El-Yunusiyah, serta banyak pahlawan perempuan lainnya, baik yang dikenal maupun tidak. Mereka semua adalah kusuma bangsa yang jasanya tercatat, baik dalam sejarah maupun di sisi Tuhan.

Kini, perempuan Indonesia telah mengalami kemajuan berkat perjuangan para srikandi Nusantara. Namun, tantangan baru muncul. Perempuan berada di persimpangan antara peran domestik dan peran publik. Satu sosok memikul dua tanggung jawab sekaligus, di rumah dan di ruang publik, yang keduanya menuntut hasil optimal.

Situasi ini dapat menjadi jebakan era modern dengan wajah yang berbeda. Pada masa agraris, perempuan kerap menjadi buruh tani di bawah tekanan dengan upah rendah. Kini, dalam era industrialisasi dan digital, sebagian perempuan tetap berada dalam kondisi serupa, bahkan mengambil pekerjaan berat demi memenuhi kebutuhan hidup. Tidak sedikit perempuan yang bekerja sebagai sopir truk, pengangkut sampah, atau pencari barang bekas. Kondisi ini sering dikaitkan dengan istilah emansipasi, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia—yang terdengar ideal, tetapi dalam praktiknya tidak selalu berpihak pada kesejahteraan perempuan.

Kesetaraan gender yang diperjuangkan R.A. Kartini bukan berarti semua peran harus sama, melainkan pembagian peran yang adil sesuai porsi dan kemampuan. Peran perempuan di rumah, terutama dalam menyusui dan mendidik anak pada masa emas, tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh pihak lain, termasuk asisten rumah tangga. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara harapan manusia dan batas kemampuan yang telah ditetapkan Tuhan.

Fenomena di masyarakat menunjukkan bahwa sebagian orang memiliki ekspektasi yang melampaui kemampuannya, sehingga berujung pada kelelahan dan kekecewaan. Prinsip bahwa Tuhan tidak membebani seseorang di luar kemampuannya menjadi pengingat agar setiap individu memahami batas diri.

Perempuan tidak seharusnya dipaksa menjalankan peran di luar kemampuan dan kodratnya. Namun, perlu dipahami pula bahwa banyak perempuan bekerja di sektor berat bukan karena melawan kodrat, melainkan demi bertahan hidup. Mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga dengan segala keterbatasan.

Perjuangan R.A. Kartini pada dasarnya bertujuan mengangkat harkat dan martabat perempuan Indonesia. Ia membuka ruang dialog dan kesempatan yang setara dalam pendidikan, sosial, politik, dan ekonomi, dengan tetap menghormati peran dan hak perempuan secara kodrati.

Pada akhirnya, emansipasi tidak boleh membuat peran ibu di rumah dipandang lebih rendah dibandingkan pekerjaan di ruang publik. R.A. Kartini mengajarkan bahwa perempuan memiliki nilai penting di mana pun mereka berada. Peran mereka sangat berarti, baik dalam keluarga, pendidikan, masyarakat, maupun negara.

Jika dibutuhkan di bidang pendidikan, hadir sosok seperti Rahmah El-Yunusiyah. Dalam perjuangan bangsa, muncul tokoh seperti Mala Hayati, Cut Nyak Dien, dan Cut Meutia. Dalam pemberdayaan perempuan, tampil Dewi Sartika. Dan sebagai simbol perjuangan perempuan, R.A. Kartini hadir sebagai pembela kaumnya yang harum namanya dan terus menginspirasi. Dirgahayu Hari Kartini. (**)

 

*Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak

Editor : Hanif
#pendidikan #Hari Kartini #perempuan #RA Kartini #Kesetaraan Gender