Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menyusun AI Pantun Mengurai

Hanif • Sabtu, 25 April 2026 | 10:47 WIB
Khairul Fuad
Khairul Fuad

Oleh: Khairul Fuad*

Merayakan gempita pantun tengah meniti keberlangsungan pasca-UNESCO tetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Ibarat bulan madu harus sudah disudahi karena kenyataan telah menanti. Sudah waktunya mengurai pintalan benang agar tak terjebak romantika. Kejayaan memang tak dapat dipungkiri, tetapi kenyataan tak bisa pula diingkari. Momen kejayaan pantun sebagai warisan dunia tidak bisa dilihat oleh sebelah mata, sedangkan problematika kekinian harus dicermati oleh kedua mata demi menjawab tantangan zaman dengan tetap menjaga asa maruahnya.

Kalimantan Barat merupakan lumbung pantun sebagai ranah kuat Melayu, telah menghelat rangkaian kegiatan demi memperkuat capaian yang telah diraih. Para pemangku kepentingan, termasuk kebijakan, telah bergandeng tangan bahu-membahu, menangkap posisi global pantun. Upaya keberlanjutan terus menjadi arus-utama agar pantun bukan menjadi romantisme tanpa bentuk. Meskipun selama ini, pantun sampai kapan pun tetap menghembuskan ruhnya ke masyarakat Melayu, termasuk lainnya, terlepas dari raihan yang telah terwujud nyata.

Dari kegiatan bersifat regional, nasional, dan internasional bertumpu pada pantun, telah dihelat para pemangku kepentingan Kalimantan Barat, sekaligus pemangku kebijakan yang tidak tinggal diam mendukung secara penuh. Bertajuk Hartunas dan Harpandu upaya merayakan pantun sebagai bagian global dunia secara resmi melalui peringatan demi keberlanjutan agar baranya tetap menghangat. Warisan dunia merupakan keberlanjutan pantun dari fase lokal menuju fase global sehingga potensi pantun menjadi penghantar dan penutup kalam, terbuka di sidang-sidang PBB, tentunya diawali dari perwakilan delegasi Indonesia. 

Dengan demikian, keterjangkuan pantun perlu ranah selayak dan sepatutnya, mengingat fase global yang kini disandang. Pemangku kepentingan, didukung pemangku kebijakan Kalimantan Barat, tampaknya melihat peluang ini agar manfaat pantun sampai ke ranah global. Termasuk, potensi peluang bagi masyarakat global untuk mengetahui dan memanfaatkan pantun, mengingat posisinya sudah bergeser dari ranah lokal. Ranah ini nantinya berpeluang juga bagi mayoritas masyarakat umum untuk lebih akrab dengan pantun, sering disebut puisi lama bersama syair dalam diskursus ilmu sastra. 

Upaya tersebut gayung bersambut melalui peluncuran aplikasi digital berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelegence), bernama Pantunin AI pada Minggu 19 April 2026. Peluncuran itu bersamaan perhelatan Halalbihalal Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat (Google). Pantunin AI digadang-gadang menjaga pantun sebagai tradisi melalui inovasi agar abadi. Sejalan dengan kaidah usul fikih, al-muhafazatu ‘alal qadimis salih wal ‘akhdu bil jadidil ’aslah, menjaga tradisi demi menimba terbaru agar lebih baik. 

Menurut Amin Abdullah, intelektual muslim, kaidah tersebut merupakan basis interdisipliner antardisiplin agar lebih baik. Pantun dan digital merupakan dua disiplin berbeda melalui upaya interdisipliner maka keduanya hadir menawarkan kemudahan dan kecepatan untuk dua larik sampiran, dua larik isi, dan pola AB AB. Cukup dengan menuliskan satu unsur kata saja sesuai tema yang diinginkan, misalnya lebaran, nasihat, dan romantisme, serta dipastikan terlebih dahulu unduh aplikasi Pantunin AI di Play Store. Kemungkinan besar ini yang disebut konsep think locally act globally, akar terhujam angin pun terhalau.

Di sisi lain, para pemangku kepentingan dan kebijakan sama sekali tidak dapat dilupakan sebagai pendorong Pantunin AI. Pada gilirannya, bakal menjadi bagian pelaku sejarah digitalisasi pantun ranah Kalimantan Barat di beberapa puluh tahun ke depan. Pemangku kepentingan sebagai SDM (man power) yang menggerakkan dan memproses budi dan daya berbasis lokal, merupakan titik sentral keberadaan Pantunin AI. Termasuk, para pemangku kebijakan peduli terhadap eksistensi tradisi lokal sebagai political will guna mewujudkan pemajuan kebudayaan yang memang diatur di dalam Undang-Undang.

Tentunya, punggawa para pemangku terdapat beberapa orang dibalik Pantunin AI, di antaranya yang dapat disebut, Yaser Syaifudin sebagai pendiri (founder) Pantunin AI dan Agus Muare sebagai maestro pantun (teraju.id). Termasuk, Nur Iskandar founder teraju.id, yang selalu penuh battery-charge-nya jika relasi dengan geliat Kalimantan Barat. Para punggawa lain sebagai pemangku, baik kepentingan maupun kebijakan, juga mengambil peran atas peluncuran Pantunin AI.

Atas dukungan semua pihak maka piranti lunak ini dapat hadir di beranda gawai semua orang, bahkan di belahan dunia manapun saat ingin menggunakan dan memanfaatkan pantun untuk kepentingan masing-masing. Oleh karena itu, respons para masyarakat digital, pengguna gawai tetap ditunggu untuk mengunjungi Pantunin AI sekaligus mengunduhnya apalagi saat kebutuhan mendadak untuk penghantar atau penutup kalam sebuah acara. Aplikasi ini bermanfaat menghadirkan pantun secara mudah dan cepat sehingga kalam menjadi segar, acara pun berpotensi mencair dan komunikasi dipastikan lancar.

Ikhtiar ini merupakan upaya penuh menjaga dan melestarikan warisan nenek-moyang yang masih dan tetap hidup sampai sekarang, bahkan sampai era digital. Warisan itu nyatanya eksis, bermetamorfosa dan berakulturasi secara kontekstual-digital. Pantunin AI wujud nyata preservasi warisan tersebut, sementara itu pelestariannya terkait-erat partisipasi para masyarakat digital, mengunduh aplikasi tersebut. Dengan unduh dan ambil manfaat Pantunin AI, secara tidak langsung, bahkan tidak disadari, telah berperan menjaga keberlangsungan dan keabadian (everlasting) pantun yang telah hidup dan menghidupi negeri ini.**

 

*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).

Editor : Hanif
#unesco #pantun #ai #budaya #pelestarian