Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Etika Relasionalitas Naik Dango Dayak Kanayatn

Hanif • Kamis, 30 April 2026 | 10:06 WIB
nikodemus niko
nikodemus niko

Oleh: Nikodemus S.Fil*

Indonesia kaya akan keanekaragaman budaya dan alam. Setiap daerah memiliki kekhasan yang membentuk identitas lokal masyarakatnya. Di Kalimantan Barat, Suku Dayak Kanayatn merupakan salah satu komunitas etnis yang tetap melestarikan praktik adat secara turun-temurun. Salah satu tradisi pentingnya adalah upacara Naik Dango.

Istilah “dango” dalam bahasa Dayak Kanayatn berarti lumbung padi, yakni tempat penyimpanan hasil panen (Priani Wina, 2017). Karena itu, Naik Dango dimaknai sebagai ungkapan syukur atas panen padi yang diperoleh. Lebih dari sekadar perayaan panen, tradisi ini menjadi ekspresi spiritual dan sosial yang mencerminkan relasi manusia dengan Tuhan (Jubata), alam, dan sesama.

Upacara Naik Dango dilaksanakan setahun sekali sebagai bentuk terima kasih atas hasil panen yang melimpah. Ungkapan syukur ini ditujukan kepada Jubata yang diyakini memberikan rahmat. Dalam praktiknya, masyarakat Dayak Kanayatn membangun hubungan harmonis dengan alam, sesama, dan budaya. Relasionalitas tersebut tidak hanya dimaknai sebagai hubungan sosial, tetapi juga sebagai keterhubungan eksistensial manusia dengan seluruh realitas kehidupan (Eko Armada Riyanto, 2018).

Naik Dango menjadi salah satu warisan budaya yang dikenal luas di Kalimantan Barat. Tradisi ini juga memiliki latar historis dari mitos Nek Burung Kulup, seorang petani yang menghormati pekerjaan, hasil tani, manusia, alam, serta menaati aturan adat (Priani Wina, 2017). Nilai saling menghormati inilah yang terus dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak Kanayatn sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya dan leluhur.

 

Etika Relasionalitas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika dipahami sebagai ilmu yang membahas baik dan buruk serta hak dan kewajiban moral manusia. Secara etimologis, etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti kebiasaan hidup yang baik, sedangkan moral dari bahasa Latin mos/mores yang merujuk pada adat atau cara hidup (Tanyid, 2014). Etika berkembang sebagai kajian tentang kebiasaan manusia yang disepakati bersama, yang dapat berbeda menurut ruang dan waktu. Karena itu, etika tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, sebab menjadi dasar relasi manusia dengan sesama dan alam. Dalam filsafat kontemporer, etika tidak hanya membahas aturan, tetapi juga refleksi kritis tentang bagaimana manusia seharusnya hidup dalam relasi.

Manusia sebagai makhluk yang unik dan istimewa mendorong akal budi untuk memahami dirinya secara mendalam (Stefanus Fernandes, Hendrikus Rinaldi Amsikan, 2021). Dalam konteks ini, etika relasionalitas menekankan pentingnya hubungan yang dilandasi hormat, kesadaran keterkaitan, dan tanggung jawab terhadap sesama serta alam. Manusia tidak dipandang sebagai entitas yang sepenuhnya otonom, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang kompleks.

Gagasan ini sejalan dengan filsafat dialogis Martin Buber tentang relasi “Aku-Engkau”, di mana manusia menemukan makna dirinya dalam perjumpaan dengan yang lain. Dengan demikian, etika relasionalitas menuntut tanggung jawab moral yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga komunal dan ekologis. Melalui etika, manusia dapat membangun hubungan yang bermakna, menciptakan komunitas yang inklusif, serta menjaga kelestarian alam bagi generasi mendatang.

Relasi antarmanusia tidak terlepas dari komunikasi. Melalui komunikasi, manusia membuka diri untuk berelasi (Herianto, 2022). Etika relasionalitas menuntut kesadaran akan keterkaitan manusia dengan alam, sehingga manusia perlu menghormati, menjaga, dan memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab. Hal ini mencakup upaya menghindari eksploitasi berlebihan, polusi, dan kerusakan lingkungan.

Dalam kehidupan sosial, etika relasionalitas mendorong hubungan yang dilandasi saling menghormati dan inklusivitas, membentuk relasi “kita” (Tandywijaya, 2020). Setiap individu dipandang memiliki martabat dan hak yang sama. Karena itu, manusia dituntut untuk mendengarkan dengan empati, menghargai perbedaan, serta membangun dialog yang konstruktif demi terciptanya lingkungan yang adil dan harmonis.

Etika relasionalitas juga mengandung tanggung jawab sosial. Setiap tindakan manusia berdampak pada orang lain, sehingga kepentingan bersama dan kesejahteraan umum perlu diutamakan. Selain itu, etika ini mencakup tanggung jawab terhadap generasi mendatang, dengan mendorong manusia mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap keputusan, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi.

Etika bukan sekadar tambahan ajaran moral, melainkan refleksi kritis terhadap nilai dan norma yang ada (Wahyudi, 2016). Manusia yang beretika akan menempatkan nilai moral dan tanggung jawab sosial sebagai dasar dalam berinteraksi. Pada akhirnya, etika relasionalitas menegaskan pentingnya membangun hubungan yang sehat, saling menghormati, dan saling menguntungkan. Komunikasi dalam perspektif ini bukan sekadar pertukaran informasi, tetapi perjumpaan yang dilandasi empati, pengakuan martabat, dan keterbukaan terhadap perbedaan.

 

Naik Dango Dayak Kanayatn

Setiap kebudayaan memiliki nilai luhur yang menjadi pedoman hidup masyarakatnya. Naik Dango merupakan salah satu wujud konkret nilai tersebut. Sebelum pelaksanaan, masyarakat Dayak Kanayatn melakukan ritual Nyangahatn (doa) dengan berbagai sesajen sebagai bentuk penghormatan kepada Jubata. Ritual ini menunjukkan bahwa kehidupan mereka tidak terpisah dari dimensi spiritual, di mana setiap aktivitas selalu dikaitkan dengan kehendak ilahi. Naik Dango bukan sekadar perayaan panen, tetapi juga momen kebersamaan, sarana mempererat solidaritas sosial, dan upaya pelestarian budaya. Persiapannya dilakukan dengan serius, seperti membersihkan rumah adat dan menyiapkan perlengkapan upacara.

Suku Dayak Kanayatn merupakan sub-suku Dayak terbesar di wilayah Landak, Pontianak, Bengkayang, dan Sambas (Nikolaus, Imran, dan Chalimi, 2022). Mereka memiliki kesatuan budaya dan religi yang berpusat pada Jubata (Tuhan). Religi asli mereka tidak terlepas dari adat istiadat, sehingga Naik Dango dipandang sebagai tradisi warisan leluhur (Rahmawati, 2012). Upacara ini dilaksanakan setiap tahun sebagai perayaan panen, ungkapan syukur atas keberlimpahan, sekaligus permohonan berkah untuk musim berikutnya (Antan et al., 2022).

Hubungan masyarakat Dayak Kanayatn dengan alam, khususnya hutan, bersifat timbal balik. Alam mendukung kehidupan dan perkembangan budaya, sementara masyarakat menjaga kelestariannya sesuai nilai adat (Ritual et al., 2022). Naik Dango juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial yang diperkuat oleh bahasa, adat, dan sistem kepercayaan yang berpusat pada Jubata.

Salah satu elemen khas dalam perayaan ini adalah tarian tradisional, seperti tari dango dan tari amboyo (tari ucapan syukur). Tarian ini dibawakan dengan pakaian adat lengkap, menggunakan properti alami seperti daun dan ranting yang melambangkan kehidupan dan kesejahteraan. Gerakannya mencerminkan keindahan alam, kehidupan desa, serta kisah dan mitos leluhur. Tari amboyo juga memuat makna simbolis tentang padi sebagai sumber kehidupan yang dibawa ke bumi untuk manusia (Acua, Fretisari, dan Tindarika, 2021).

Naik Dango memiliki makna mendalam bagi masyarakat Dayak Kanayatn. Selain sebagai ungkapan syukur, tradisi ini menjadi wujud penghormatan terhadap leluhur dan sarana mempertahankan identitas budaya. Melalui perayaan ini, nilai-nilai dan kearifan lokal terus diwariskan. Meski demikian, pelaksanaannya dapat berbeda di setiap subkelompok Dayak sesuai dengan adat masing-masing (Priani Wina, 2017).

Dalam perspektif etika relasionalitas, Naik Dango mencerminkan hubungan timbal balik antara manusia, alam, dan komunitas. Nilai utama yang tampak adalah solidaritas, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama. Etika ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam jaringan relasi yang saling bergantung, bukan secara hierarkis, melainkan partisipatif.

Budaya Naik Dango juga menegaskan pentingnya menghormati leluhur sebagai sumber kebijaksanaan dan pedoman moral. Nilai ini tercermin dalam etika komunikasi dan tata pergaulan masyarakat yang menjunjung sopan santun, saling menghormati, dan tanggung jawab sosial.

Secara keseluruhan, Naik Dango merupakan praktik budaya yang sarat makna spiritual, sosial, dan ekologis. Tradisi ini mencerminkan hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Karena itu, Naik Dango tidak dapat direduksi menjadi sekadar seremonial atau hiburan. Nilai utamanya terletak pada kesadaran akan keterhubungan hidup, rasa syukur, dan tanggung jawab menjaga keseimbangan tersebut.

Perlu ditegaskan bahwa Naik Dango bukanlah ruang untuk kepentingan pragmatis atau komersial semata. Pemanfaatan budaya untuk keuntungan sepihak berpotensi mengurangi makna sakral dan nilai etisnya. Oleh karena itu, pelaksanaannya harus tetap berlandaskan semangat syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap adat. Dengan menjaga integritas tersebut, Naik Dango akan tetap menjadi sarana pembentukan karakter, pemersatu komunitas, dan refleksi moral yang relevan di tengah arus modernisasi.

Naik dango bukan sekedar tradisi budaya, tetapi sebuah praktik hidup yang sarat makna etis dan spiritual. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada pencapaian individual, melainkan pada kualitas relasi yang harmonis dengan sesama, alam, dan Tuhan.

Dalam perspektif teologis, relasi ini mencerminkan panggilan manusia sebagai makhluk yang diciptakan untuk hidup dalam persekutuan (communio). Tindakan nyata etika relasionalitas tampak dalam sikap saling menghargai, kerja sama, empati, dan keterbukaan, yang memperkuat ikatan sosial dalam komunitas Dayak Kanayatn.

Nilai keadilan sosial dan kepedulian ekologis yang terkandung dalam naik dango menjadi sangat relevan dalam menghadapi krisis modern seperti individualisme dan kerusakan alam. Dapat ditegaskan naik dango tidak hanya memiliki nilai lokal, tetapi juga universal, karena menawarkan model hidup yang berakar pada harmoni, tanggung jawab, dan keberlanjutan nilai budaya.

Naik dango Dayak Kanayatn adalah tradisi sakral yang berakar pada ungkapan syukur kepada Jubata atas hasil panen padi, yang diwujudkan melalui doa, ritus adat, dan kebersamaan komunitas dalam semangat etika relasionalitas. Tradisi ini menegaskan bahwa kehidupan manusia hanya dapat dipahami secara utuh dalam relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam, sehingga nilai-nilai seperti solidaritas, penghormatan, tanggung jawab, dan keseimbangan menjadi inti pelaksanaannya.

Oleh karena itu, naik dango tidak boleh direduksi menjadi sekadar hiburan atau dimanfaatkan sebagai sarana keuntungan bagi oknum tertentu, karena hal tersebut akan merusak makna luhur yang diwariskan oleh leluhur. Dengan menjaga kemurnian makna dan praktiknya, naik dango tetap menjadi sumber pembentukan moral, identitas budaya, serta sarana memperkuat keharmonisan hidup bersama di tengah tantangan zaman modern.**

 

*Penulis adalah penulis buku dan jurnal ilmiah.

Editor : Hanif
#relasionalitas #Naik Dango #Dayak Kanayatn #etika #tradisi