Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Guru, Murid, dan Pendidikan di Era Disrupsi

Hanif • Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:22 WIB
Santriadi.
Santriadi.

Oleh: Santriadi*

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei mengingatkan kepada kita betapa pendidikan menjadi hal yang paling urgen dalam menjalani kehidupan modern seperti sekarang ini. Ada elemen penting dalam dunia pendidikan yang tidak dapat dipisahkan, yakni adanya guru dan murid. Dua elemen ini harus memiliki keterikatan batin sehingga ilmu yang disampaikan dan didapat bisa menjadi nur (cahaya) yang akan menerangi peradaban dunia. Terlebih di era modern yang mengarah kepada era disrupsi saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan kepada siapa pun untuk mendapatkan informasi apa pun dan di mana pun.

Era disrupsi adalah masa ketika inovasi seperti teknologi mengubah sistem dan tatanan lama yang sudah ada secara fundamental. Era ini menciptakan perubahan besar-besaran dalam berbagai aspek kehidupan seperti bisnis, sosial, dan kebiasaan. Era disrupsi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.

Teknologi digital, kecerdasan buatan, media sosial, dan pola belajar baru membuat hubungan antara guru, murid, dan proses pendidikan mengalami pergeseran signifikan. Pada titik inilah peran guru dan murid perlu dipahami ulang, bukan untuk meninggalkan nilai-nilai lama, tetapi untuk memperkuat peran mereka agar tetap relevan di tengah perubahan cepat yang terjadi.

Di masa lalu, guru sering dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Namun di era disrupsi, informasi begitu mudah didapat bahkan dalam hitungan detik. Kendati demikian, kehadiran guru justru semakin penting. Guru bukan lagi sebatas pengajar, tetapi pembimbing yang mampu menyaring informasi yang tepat dan terpercaya, menumbuhkan karakter, empati, dan integritas pada peserta didik, serta menjadi teladan kedisiplinan dan keikhlasan dalam belajar sepanjang hayat.

Tugas guru mengarahkan murid agar memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab, sekaligus membentuk kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Karena itu, guru dituntut terus belajar meningkatkan kompetensi, meningkatkan kemampuan digital, dan memadukan metode tradisional dengan teknologi modern. Guru hebat bukan yang paling canggih menggunakan gawai, tetapi yang mampu menempatkan teknologi sebagai washilah (alat), bukan ghayyah (tujuan).

Murid hari ini adalah generasi “digital native” yang lahir dan tumbuh di tengah internet, smartphone, dan media sosial. Mereka memiliki akses belajar yang luas dan cepat, namun tantangan yang dihadapi juga besar. Mereka rentan terdistraksi atau terkontaminasi oleh konten hiburan. Mereka juga menghadapi kesulitan membedakan informasi benar dan hoaks, mudah terpengaruh budaya instan, dan sering kali belum memiliki keterampilan literasi digital maupun literasi data yang memadai.

Oleh karena itu, murid perlu diberi ruang untuk berkembang tetapi tetap dibimbing dengan etika dan kontrol yang jelas. Mereka harus diarahkan menjadi pembelajar aktif, bukan hanya konsumen pengetahuan. Kemandirian belajar, kemampuan menyeleksi sumber, serta kemampuan mengelola waktu menjadi kompetensi penting yang harus diasah sejak dini.

Alquran telah mengingatkan umat Islam untuk melakukan seleksi dalam menerima informasi.  “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat: 6)

Pendidikan berbasis karakter harus tetap menjadi fondasi utama, karena kemajuan teknologi tanpa moralitas hanya akan melahirkan generasi yang cerdas tetapi rapuh secara mental dan moral. Pendidikan juga harus dibangun dengan kolaborasi kuat antara guru, murid, dan orang tua agar proses belajar lebih terarah dan terukur.

Keberhasilan pendidikan di era disrupsi terletak pada sinergi yang kuat antara guru dan murid dan elemen terkait seperti orang tua dan pemerintah. Era disrupsi bukanlah ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan peluang besar untuk menciptakan ekosistem belajar yang lebih inovatif, humanis, dan relevan. Selama guru tetap berkomitmen mendidik dengan hati dan murid terus belajar dengan tekun, pendidikan akan selalu menemukan jalannya menuju kemajuan.

Guru dan murid laksana orang tua dan anak sebagaimana hadits Rasulullah yang termaktub dalam Kitab Nushus Min At-Turats At-Tarbawi Al-Islami. Mari renungi penjelasan Syekh Fathi Hasan Malkawi ini. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik orang tua adalah orang yang mengajari ilmu terhadap kalian.

Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya guru itu adalah bapak kalian, sebagaimana orang tua terhadap anaknya.”

Menutup opini kali ini, mari kita dorong putra-putri kita untuk sekolah dan belajar menimba ilmu, bimbing dan arahkan mereka sebagai bekal menghadapi dunia dan perkembangan zaman yang semakin modern ini. Semoga, pendidikan kita benar-benar bisa menghantarkan dunia menuju peradaban mulia yang tetap kuat dalam menghadapi perubahan zaman. Amin. Wallahu a’lam.**

 

*Penulis adalah Guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Editor : Hanif
#pendidikan #hari pendidikan nasional #murid #guru #Era Disrupsi