Oleh: Chairunnisya
PONTIANAK POST - Ada momen yang hampir pasti pernah dialami orang tua: anak tiba-tiba menangis keras, berguling, bahkan berteriak di tempat umum.
Tatapan orang di sekitar seakan menilai, heran, maupun geram.
Dalam situasi seperti itu, yang diuji bukan hanya emosi anak, tetapi juga kualitas pola asuh orang tua di hadapan mata orang lain.
Psikolog di LPTUI Depok & Wellspring Center, Anna Surti Ariani menyatakan tantrum bukan sekadar perilaku “nakal”, melainkan bagian dari proses tumbuh kembang anak.
Bahkan, disebutkan bahwa tantrum di tempat umum adalah hal yang wajar, selama orang tua mampu merespons dengan tepat.
Namun, di sinilah persoalan sebenarnya muncul.
Banyak orang tua masih memaknai tantrum sebagai bentuk pembangkangan, sehingga respons yang muncul cenderung reaktif, marah, membentak, atau bahkan mempermalukan anak di depan umum.
Padahal, pendekatan seperti ini justru memperburuk keadaan.
Konsistensi yang Sering Diabaikan
Tantrum berkaitan dengan pentingnya konsistensi pola asuh. Anak belajar dari pola yang berulang.
Ketika orang tua hari ini melarang, besok membolehkan, lalu lusa kembali melarang, anak akan kebingungan dalam memahami batasan.
Dalam perspektif teori psikologi perkembangan, hal ini sejalan dengan konsep authoritative parenting dari Diana Baumrind.
Pola asuh yang seimbang, menggabungkan responsivitas tinggi (penuh kehangatan dan dukungan), tetapi dengan batasan yang tegas.
Tantrum sering kali muncul bukan karena anak ingin “melawan”, tetapi karena mereka belum mampu mengelola emosi.
Ketika lingkungan tidak memberikan struktur yang jelas, ledakan emosi menjadi semakin mudah terjadi.
Teknik Mirroring: Mendengar Emosi Anak
Pendekatan menarik lain yang disorot adalah teknik mirroring atau mirroring feeling.
Yakni, cara orangtua atau seseorang merespons anak dengan mencerminkan perasaan atau perilaku yang sedang ditunjukkan anak, tanpa marah atau menghakimi.
Pendekatan ini membantu anak merasa dipahami, sekaligus belajar mengenali perasaan yang sedang muncul.
Metode ini selaras dengan teori emotion coaching dari John Gottman, yang menekankan pentingnya validasi emosi anak sebelum mengarahkan perilakunya.
Anak yang merasa dipahami cenderung lebih cepat tenang, dibandingkan anak yang langsung disuruh diam.
Saat anak tantrum, juga ditekankan agar orang tua tetap tenang dan fokus pada anak, bukan pada penilaian orang sekitar.
Ini penting, karena tekanan sosial sering kali membuat orang tua bereaksi berlebihan.
Tenang Itu Keterampilan, Bukan Bakat
Tidak semua orang tua secara alami bisa tenang saat anak tantrum. Namun, ketenangan bukan soal bakat, melainkan keterampilan yang bisa dilatih.
Dalam artikelnya dikutip dari Jawapos tanggal 22 September 2025, psikolog Anna Surti Ariani menyarankan beberapa pendekatan seperti mengalihkan perhatian, menjaga komunikasi, dan tidak panik.
Semua ini pada dasarnya bertujuan untuk membantu anak mengatur ulang emosinya.
Prinsip ini sejalan dengan teori regulasi emosi dalam psikologi perkembangan, yang menyebutkan bahwa anak belajar mengelola emosi melalui interaksi dengan orang dewasa.
Sudah saatnya cara pandang terhadap tantrum diubah. Tantrum bukan aib, melainkan sinyal.
Sinyal bahwa anak sedang kewalahan, belum mampu mengungkapkan keinginan, atau belum memahami batasan.
Yang lebih penting, tantrum juga bisa menjadi cermin bagi orang tua, apakah pola asuh yang diterapkan sudah konsisten? Apakah emosi anak benar-benar didengar? Atau justru diabaikan?
Pada akhirnya, menghadapi tantrum bukan tentang bagaimana membuat anak segera diam, tetapi bagaimana membantu mereka belajar memahami dan mengelola emosi.
Karena di balik setiap tangisan yang meledak, ada proses belajar yang sedang berlangsung. Orang tua yang menjadi guru pertamanya.(*)
*Penulis adalah jurnalis Pontianak Post
Editor : Chairunnisya