Oleh: Asmansyah, S.A.P., M.A.P.*
ADA satu momen yang terus mengganggu pikiran saya selama menjadi dosen muda. Suatu siang, di tengah perkuliahan yang seharusnya hidup dengan diskusi, saya melempar pertanyaan sederhana kepada mahasiswa, “Menurut kalian, mengapa sebuah kebijakan bisa gagal meskipun sudah dirancang dengan sangat baik?”
Setelah pertanyaan itu dilontarkan, ruang kelas mendadak sunyi. Beberapa mahasiswa menunduk, sebagian menatap layar laptop, dan lainnya sibuk mengetik di telepon genggam. Saya memberi waktu satu menit, dua menit, lalu lima menit. Namun, kelas tetap hening.
Hingga akhirnya seorang mahasiswa mengangkat tangan dan dengan percaya diri membacakan jawaban dari layar ponselnya. “Kegagalan kebijakan disebabkan oleh lemahnya implementasi, kurangnya koordinasi, dan faktor sosial-politik, Pak.”
Jawaban itu terdengar benar, bahkan terlalu benar. Rapi, sistematis, dan nyaris tanpa cela. Namun, ada sesuatu yang terasa kosong. Tidak ada jejak pergulatan berpikir di sana. Tidak ada keraguan, tidak ada usaha merangkai argumen, dan tidak ada keberanian untuk salah.
Saya terdiam sejenak. Bukan karena jawaban itu buruk, melainkan justru karena terdengar begitu sempurna hingga terasa asing. Saat itulah saya menyadari bahwa persoalan yang sedang dihadapi ruang kelas hari ini jauh lebih besar daripada sekadar distraksi teknologi. Saya sedang menyaksikan tantangan ketika berpikir mulai dianggap sebagai aktivitas yang terlalu mahal.
Berpikir memang mahal. Ia membutuhkan waktu. Ia menuntut kesabaran. Ia memaksa seseorang berhadapan dengan kebingungan, ketidakpastian, bahkan kemungkinan untuk disalahkan. Di zaman ketika semua jawaban tersedia dalam hitungan detik, proses berpikir perlahan dianggap sebagai kemewahan yang sulit dimiliki.
Sebagai dosen muda, saya tumbuh di masa transisi yang masih akrab dengan keterbatasan. Saya pernah menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan hanya untuk mencari satu referensi. Pernah merasa kesal karena buku yang dibutuhkan sedang dipinjam orang lain. Pernah menyalin kutipan secara manual sambil mengeluh dalam hati.
Melelahkan memang, tetapi justru di sanalah proses berpikir dibentuk. Keterbatasan memaksa saya merenung lebih lama. Kesulitan membuat saya mengunyah gagasan lebih dalam. Ketika jawaban tidak segera ditemukan, saya belajar bertahan bersama pertanyaan-pertanyaan.
Hari ini, mahasiswa hidup di dunia yang berbeda. Dengan beberapa ketukan jari, ribuan jurnal, artikel, ringkasan, hingga analisis otomatis dapat diperoleh dalam hitungan detik. Secara teori, ini seharusnya menjadi kabar baik bagi pendidikan. Namun, dalam praktiknya, kemudahan tidak selalu melahirkan kedalaman berpikir.
Saya mulai melihat pola yang berulang di ruang kelas. Ketika diberi tugas analisis, sebagian mahasiswa langsung membuka aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Ketika diminta menyampaikan argumen, mereka mencari jawaban template yang seragam. Ketika dihadapkan pada persoalan yang membutuhkan refleksi, respons pertama yang muncul bukanlah berpikir, melainkan mencari.
Mencari jawaban tercepat, bukan jawaban terbaik dari dirinya sendiri.
Fenomena ini bukan sekadar bentuk kemalasan, melainkan perubahan budaya. Kita hidup dalam ekosistem yang memuja kecepatan. Semua harus instan. Pesan harus segera dibalas, informasi harus segera dipahami, tugas harus segera diselesaikan, dan proses yang lambat dianggap sebagai ketertinggalan.
Dalam budaya seperti ini, berpikir mendalam tampak seperti kemunduran, padahal justru selalu membutuhkan kelambatan. Tidak ada gagasan besar yang lahir dari proses tergesa-gesa. Tidak ada pemahaman mendalam yang tumbuh dari kebiasaan menelan informasi mentah-mentah. Tidak ada nalar kritis yang terbentuk dari ketergantungan pada jawaban instan.
Saya pernah meminta mahasiswa menulis refleksi pribadi tanpa bantuan sumber apa pun. Tidak perlu panjang, hanya satu halaman tentang bagaimana mereka memandang perubahan budaya belajar di era digital.
Hasilnya mengejutkan. Beberapa mahasiswa mendatangi saya setelah kelas berakhir dan bertanya, “Pak, maksudnya refleksi itu seperti apa?”
Awalnya saya mengira mereka hanya meminta penjelasan teknis. Ternyata bukan. Mereka benar-benar kesulitan menulis pikirannya sendiri. Mereka terbiasa merujuk, mengutip, merangkum, atau memodifikasi jawaban yang sudah tersedia. Namun, ketika diminta menyelami pengalaman dan gagasannya sendiri, mereka seperti kehilangan arah.
Saat itu saya merasa sedih. Bukan karena mereka tidak mampu. Saya yakin mereka mampu. Yang menyedihkan adalah sistem pendidikan kita perlahan membiasakan mereka untuk tidak percaya pada proses berpikirnya sendiri.
Kita terlalu sering mengukur keberhasilan belajar dari kecepatan, bukan dari kedalaman memahami persoalan. Kita memuji mahasiswa yang cepat selesai, tetapi jarang menghargai mereka yang memilih waktu lebih lama demi benar-benar memahami.
Sebagai dosen, saya juga harus jujur mengakui bahwa kami ikut terlibat dalam persoalan ini. Terkadang kami memberi terlalu banyak tugas tanpa menyediakan ruang refleksi. Kami menuntut hasil cepat tanpa memberi waktu untuk berpikir. Kami lebih sibuk pada administrasi pembelajaran dibanding membangun kualitas dialog intelektual di kelas.
Teknologi terus berkembang, dan kecerdasan buatan sejatinya netral. Ia bukan musuh pendidikan. Saya sendiri menggunakannya untuk mencari perspektif alternatif, menyusun kerangka materi, hingga memantik ide diskusi.
Persoalan muncul ketika kecerdasan buatan tidak lagi menjadi alat bantu berpikir, melainkan pengganti proses berpikir itu sendiri. Di titik inilah pendidikan mulai kehilangan maknanya. Kampus seharusnya menjadi ruang tempat kebingungan tetap dirawat, pertanyaan-pertanyaan liar dipelihara, dan keraguan dihargai sebagai bagian dari pendalaman intelektual. Jika semua pertanyaan langsung dijawab mesin, kapan manusia belajar bergulat dengan pikirannya sendiri? Jika semua argumen tersedia otomatis, kapan kita belajar membangun nalar?
Terkadang saya membayangkan, mungkin tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan lagi soal akses informasi. Persoalan itu sebenarnya sudah selesai. Tantangan terbesar kita justru menjaga agar manusia tetap mau berpikir ketika mesin mampu berpikir jauh lebih cepat.
Dulu, pengetahuan terasa mahal karena sulit diakses. Hari ini, pengetahuan justru terasa murah karena terlalu mudah diperoleh. Saya jadi teringat pada konsep ekonomi klasik: sesuatu dianggap bernilai tinggi ketika akses terhadapnya terbatas.
Pada masa lalu, pendidikan dan pengetahuan langka karena buku terbatas, lembaga pendidikan belum banyak, biaya akses tinggi, dan informasi sulit diperoleh. Kini yang mahal justru perhatian, kesabaran, dan kemampuan memahami secara mendalam. Yang mahal adalah kesediaan duduk lebih lama bersama satu pertanyaan tanpa tergoda mencari jawaban instan. Dan yang paling mahal adalah keberanian untuk berpikir sendirian.
Saya sering bertanya kepada diri sendiri, apakah generasi hari ini benar-benar kehilangan kesempatan untuk berpikir mendalam? Saya rasa tidak.
Potensi itu masih ada. Saya masih menemukan mahasiswa yang berani berbeda, yang kritis bertanya, dan rela membaca lebih banyak demi memastikan argumennya tetap kokoh. Hanya saja, kita sedang berenang melawan arus budaya yang sangat kuat. Budaya yang mengajarkan bahwa cepat lebih penting daripada tepat, selesai lebih penting daripada paham, dan hasil lebih penting daripada proses.
Karena itu, pekerjaan rumah kita bukanlah menolak teknologi. Yang perlu dilakukan adalah membangun ulang budaya belajar. Kita perlu merancang pembelajaran yang tidak mudah ditaklukkan jawaban otomatis. Kita perlu lebih sering mengajukan pertanyaan yang menuntut refleksi, pengalaman, dan keberanian berpendapat. Kita perlu menciptakan ruang kelas yang menghargai proses berpikir, termasuk ketika proses itu lambat, berantakan, dan penuh keraguan.
Saya percaya masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh secanggih apa teknologi yang digunakan, melainkan oleh sejauh mana kita mampu menjaga nalar sebagai inti pembelajaran.
Kampus bukanlah pabrik pencetak jawaban. Kampus adalah rumah bagi pertanyaan dan keraguan. Dan setiap pertanyaan yang baik selalu membutuhkan manusia yang bersedia berpikir.
Memang benar, di zaman ini berpikir mendalam terasa seperti aktivitas yang mahal. Ia menuntut waktu di tengah budaya serba cepat, menuntut fokus di tengah banjir distraksi, dan menuntut ketekunan di tengah godaan jalan pintas instan. Namun justru karena mahal, kemampuan berpikir membuat manusia menjadi semakin berharga. **
*Penulis adalah dosen Universitas Negeri Makassar.
Editor : Hanif