Oleh: Severinus Buang Piran*
GEREJA Katolik menyediakan Minggu Paskah VII sebagai momen untuk merefleksikan peran media komunikasi dalam konteks pewartaan Injil di tengah dunia. Pada peringatan ke-60 di tahun ini, Paus Leo XIV menyerukan pesan dengan tema “menjaga wajah dan suara”. Pesan ini berkaitan dengan hidup yang berdampingan dengan media teknologi. Sebagai pimpinan tertinggi umat Katolik sedunia, Paus mengarahkan seluruh umat untuk merespon perkembangan teknologi secara baik. Pada satu sisi pesannya berlaku sebagai pemimpin agama, namun di sisi lain pesan yang sama menyentuh realitas kehidupan manusia pada umumnya. Dalam pesannya ia menyoroti perkembangan teknologi yang mengganggu spiritualitas hidup manusia. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi khususnya kecerdasan buatan, “Artificial Intelligence” (AI) tidak boleh mengganggu martabat manusia dan perjumpaan yang nyata dengan Tuhan.
Wajah dan suara dalam pesan ini menyiratkan makna tentang pribadi manusia yang istimewa. Wajah dapat dipahami sebagai pribadi manusia yang tidak tergantikan oleh berbagai hasil rekayasa termasuk oleh AI. Sementara itu suara menampilkan pribadi manusia yang penuh dengan keunikan dalam membangun komunikasi. Suara yang diperdengarkan adalah suara kebenaran dan kasih Allah bagi seluruh umat manusia, bukan suara AI yang dipakai untuk tujuan manipulasi demi kepentingan tertentu. Hal ini berangkat dari realitas digital yang telah dijamah oleh umat manusia di seluruh dunia, termasuk umat Katolik. Karena itu, muncul sebuah pertanyaan teologis di sini, sejauh mana ruang digital membantu manusia untuk lebih dekat dengan Tuhan?
Wajah dan Suara sebagai Representasi Kehadiran Tuhan
Ajaran iman Katolik menggariskan bahwa manusia adalah citra Allah. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Artinya manusia memiliki martabat yang lebih istimewa dari ciptaan lainnya. Martabat ini harus dijaga karena merupakan anugerah dari Allah. Bertolak dari dasar ini, maka manusia terpanggil untuk menjadi rekan kerja Allah di tengah dunia. Peran ini terwujud dalam berbagai bentuk kata dan perbuatan. Secara visual, perilaku manusia harus memberikan gambaran sebagai seorang pengikut Yesus yang sedang menghidupi perintah Allah. Sementara itu, secara verbal, umat beriman menghadirkan Allah dalam setiap komunikasi yang dibangun dengan sesama. Karena itu, wajah dan suara manusia sejatinya menjadi representasi kehadiran Allah di tengah dunia.
Berhadapan dengan perkembangan teknologi saat ini, umat beriman tidak hanya menghadirkan Allah di tengah dunia nyata. Tuntutan telah berubah. Allah juga harus dihadirkan di ruang digital. Hal ini sejalan dengan pola kehidupan umat beriman yang mulai berinteraksi di ruang digital. Artinya realitas saat ini menuntut umat beriman untuk menjadi rekan kerja Allah di dua konteks kehidupan yang berbeda, yakni di dunia nyata dan dunia maya. Semua ajaran keagamaan harus dihidupi di ruang digital. Di sini, ruang digital menjadi wadah baru bagi umat Katolik untuk menghayati hidup sebagai umat Allah. Hal ini berarti kehadiran umat Katolik di ruang digital tidak mengganggu kedalaman martabatnya sebagai citra Allah.
Menjaga Wajah dan Suara: Pesan dengan Sejumlah Makna
Pesan ini menyiratkan makna penting bagi kehidupan. Dalam bentuk wejangan, pesan ini mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh menodai martabat manusia. Manusia berkewajiban menjaga martabatnya sebagai citra Allah. Kehadiran di ruang digital tidak boleh mencederai gambaran Allah. Sebaliknya, ruang digital dapat menjadi medan karya bagi manusia dalam menjadi rekan kerja Allah di tengah dunia. Di sana setiap perintah Allah dapat dihayati. Segala perbuatan baik dapat dilaksanakan di ruang ini. Dengan kata lain, ruang digital menjadi tempat martabat sebagai citra Allah diwartakan secara lebih luas.
Lebih keras, pesan ini dapat dibaca dengan nada peringatan. Ada bahaya yang sedang mengancam kemurnian martabat manusia sebagai citra Allah. Hal ini berkaitan dengan sejumlah tantangan dan persoalan di ruang digital. Kasus seperti objektifikasi diri, ujaran kebencian, berita bohong, bullying, merupakan masalah yang sedang marak di ruang digital. Berbagai tindakan ini menjadi bukti penyelewengan terhadapan martabat manusia. Dalam konteks ini, martabat manusia tetap harus dijaga. Berbagai alasan di balik tindakan penyelewengan ini tidak menjadi dasar untuk membenarkan penodaan terhadap martabat manusia. Citra Allah adalah nilai tertinggi dari pribadi manusia yang tidak dapat diruntuhkan oleh berbagai alasan manusiawi.
Dalam kaitannya dengan martabat manusia, melalui pesan ini gereja memperjelas posisinya. gereja secara nyata mendukung perkembangan teknologi sejauh tidak mereduksi martabat manusia. Perkembangan teknologi harus berada pada jalur yang tepat. Kehendak Allah adalah yang utama. Teknologi tidak menggantikan berbagai ajaran dan perintah Allah dalam kehidupan manusia.
Sebaliknya harus menjadi sarana yang mendukung dan mempermudah manusia untuk menemukan Allah dalam kehidupannya. Perintah dan ajaran Allah harus menjadi lebih nyata dan mudah dipahami lewat perkembangan teknologi. Oleh karena itu, perkembangan teknologi tidak boleh menghalangi hubungan antara manusia dan Tuhan. Dalam konteks ruang digital, manusia harus merasakan kehadiran Allah di sana. Kehadiran ini dirasakan lewat sesama yang terlibat dalam menjaga martabat sebagai citra Allah. Dengan kata lain, kehadiran Allah di ruang digital nyata dalam bentuk penghargaan terhadap martabat manusia sebagai citra Allah.
Menjaga Wajah dan Suara di Era Artificial Intelligence (AI)
Kemunculan “Artificial Intelligence” (AI) tidak lagi menghebohkan publik dunia maya. Orang hampir terbiasa dengan AI. Ia dapat melakukan yang dikehendaki penggunanya. Ia bisa mengubah suara dan wajah dalam sekejap mata. Ia juga bisa menggubah lagu, puisi, bahkan menyusun skripsi, tesis, dan disertasi doktoral dalam hitungan menit. Dalam banyak hal, AI mempermudah pekerjaan manusia. Bahkan, jika dibandingkan dalam urusan penyelesaian pekerjaan dari segi efektivitas waktu, AI dapat melampaui manusia. Namun, satu hal yang tidak dapat disetarakan dengan manusia adalah martabat sebagai citra Allah. Inilah realitas yang tidak dapat dibantah.
AI merupakan sarana yang membantu manusia. Namun, AI seringkali digunakan tidak sesuai dengan manfaatnya. Dalam beberapa aspek, AI justru digunakan untuk kepentingan tertentu lewat konten. Wajah ruang digital dibanjiri oleh berbagai konten, termasuk salah satunya hasil produksi AI. Namun, dari sejumlah konten, terdapat pula yang menodai martabat manusia, seperti objektifikasi diri dan perempuan, bullying, ujaran kebencian, berita bohong, hingga video-video kreasi yang menyerang pribadi-pribadi tertentu. Berhadapan dengan realitas ini, pesan Paus Leo XIV sangat relevan. Pada hakikatnya, gereja mendukung penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Namun, gereja juga tetap pada pendirian bahwa AI tidak boleh merusak martabat manusia. AI membantu dan mempermudah pekerjaan manusia bukan mengganggu keluhuran martabat manusia.
Selain itu, AI merupakan hasil kreativitas manusia sebagai citra Allah. Manusia tidak hanya dianugerahi keistimewaan, tetapi lebih dari itu berkehendak bebas untuk menciptakan sesuatu yang dapat membantu dirinya sendiri. Lewat akal budi dan kehendak bebasnya, manusia mampu melahirkan kecerdasan buatan sebagai simbol kemajuan teknologi. Karena itu, jelas bahwa dari berbagai perspektif dan alasan, AI tetap merupakan hasil ciptaan manusia yang tidak boleh merusak anugerah yang telah tertanam dalam diri manusia sejak penciptaannya.
Kehadiran Gereja di Ruang Digital
Pesan Paus Leo XIV dapat dipandang sebagai sebuah ziarah kembali ke dalam diri di tengah kemajuan teknologi. Pada satu sisi, manusia terus maju bersama teknologi, namun di sisi lain harus tetap kembali sadar bahwa martabat diri selalu lebih tinggi dari segala bentuk kemajuan di tengah dunia ini. Manusia boleh berkembang dengan keistimewaannya. Manusia dituntut untuk berkarya dengan anugerah citra Allah yang melekat dalam dirinya. Gereja senantiasa mendukung setiap buah karya manusia sejauh tidak menganggu martabat manusia. Dengan kata lain, gereja teguh pada pendiriannya ketika martabat kemanusiaan mulai dicederai.
Dalam ruang digital gereja tetap hadir sebagai pembawa kasih Allah bagi sesama. Gereja hadir dengan berbagai konten edukatif baik berupa refleksi, renungan harian, cerita Kitab Suci, kisah kesaksian iman, maupun seruan dan ajakan bagi seluruh umat untuk mendekatkan diri dengan Allah. Singkatnya, gereja menjadikan ruang digital sebagai ruang pewartaan Sabda Allah bagi seluruh manusia. Karena itu, gereja dengan berbagai usaha terus mengingatkan agar perkembangan teknologi termasuk AI selalu diarahkan pada kebaikan bersama bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi. Pada akhirnya, yang paling utama di tengah kemajuan yang dinikmati saat ini adalah tetap martabat manusia sebagai citra Allah.**
*Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak.
Editor : Hanif