Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ibadah Kurban Revolusioner Menyembelih Ego Manusia

Hanif • Selasa, 26 Mei 2026 | 10:37 WIB
Mustafa
Mustafa

 

Oleh: Mustafa*

Di balik tetesan darah hewan kurban, Islam sesungguhnya sedang mengajarkan manusia tentang makna ketundukan, kepedulian, dan keberanian menyembelih ego.

“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). (QS. 22: 34).

Hari-hari ini, di masjid, surau, lembaga pendidikan, instansi pemerintah dan swasta serta organisasi hingga komunitas mulai terdengar pengumuman ajakan berkurban. Besaran biaya dan harga hewan kurban pun telah ditentukan. Entah kambing ataupun sapi, semuanya dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan Dzulhijjah yang tinggal hitungan hari. Kurban kembali hadir sebagai ritual tahunan umat Islam.

Namun, sesungguhnya kurban bukan semata-mata ibadah penyembelihan hewan. Di dalamnya terdapat pesan revolusioner yang menyentuh dimensi spiritual, budaya, sosial, hingga politik kehidupan manusia. Kurban adalah ajaran tentang keberanian melawan kerakusan, menundukkan ego, membela kaum lemah, dan membongkar kepalsuan yang sering disembunyikan manusia di balik kemewahan, jabatan, dan pencitraan.

 

Revolusi Budaya Melawan Gaya Hidup Berlebihan

Pada dimensi biologis manusia, terutama dalam urusan makan, kurban mengajarkan pengendalian diri. Syariat kurban yang hadir hanya pada waktu tertentu memberi pesan bahwa daging bukanlah sesuatu yang mesti dinikmati setiap hari. Bahkan bagi sahibul kurban, tidak seluruh bagian daging menjadi hak pribadinya. Di dalamnya terdapat hak fakir miskin dan kaum yang membutuhkan. Allah berfirman: "Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. 22: 28).

Dalam kehidupan masyarakat kita, daging masih dipandang sebagai simbol kemewahan. Tidak semua orang mampu menikmatinya setiap hari. Karena itu, “makan daging” dalam narasi kurban dapat dibaca sebagai simbol kritik terhadap budaya konsumtif, gaya hidup berlebihan, dan perilaku bermewah-mewahan.

Ibadah kurban hadir sebagai revolusi budaya yang mengingatkan manusia agar tidak diperbudak oleh nafsu kesenangan. Islam tidak melarang kenikmatan dunia, tetapi menolak kerakusan dan pemborosan. Spirit Nabi Ibrahim mengajarkan kesederhanaan, pengendalian diri, dan keberpihakan kepada nilai kemanusiaan.

 

Pendidikan Karakter dan Kritik Dinasti Kekuasaan

Ibadah kurban juga mengandung pelajaran penting tentang pembentukan karakter. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menunjukkan bagaimana seorang anak ditempa untuk memiliki keteguhan mental, kesabaran, dan kesiapan menghadapi ujian hidup.

Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah penyembelihan kepada Ismail, sang anak menjawab: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. 37: 102).

Kisah spektakuler ini bukan cerita dongeng, akan tetapi kisah kepatuhan spiritual sekaligus pendidikan ketangguhan. Nabi Ismail tidak tumbuh menjadi pribadi manja hanya karena ia anak seorang nabi. Ia ditempa melalui ujian dan pengorbanan sebelum akhirnya menjadi pribadi yang mulia.

Di sinilah kurban menjadi kritik terhadap budaya dinasti kekuasaan yang masih hidup dalam kehidupan sosial politik kita. Tidak sedikit jabatan diwariskan berdasarkan garis keluarga, bukan berdasarkan kemampuan dan perjuangan. Anak-anak elit kerap memperoleh posisi penting sebelum benar-benar teruji kapasitas dan pengalamannya.

Padahal, dalam pelajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemuliaan tidak diwariskan secara instan. Seseorang harus ditempa oleh perjuangan, pengorbanan, dan ujian kehidupan. Kurban mengajarkan bahwa kehormatan lahir dari kualitas diri, bukan dari nama besar keluarga.

 

Ibadah Kurban dan Pencarian Kebenaran

Ibadah kurban juga membawa manusia kepada kisah besar pencarian kebenaran Nabi Ibrahim. Sebelum mencapai tauhid yang sejati, Ibrahim pernah terpikat oleh bintang, bulan, dan matahari. Namun akhirnya ia menyadari bahwa semua itu hanyalah ciptaan yang fana. Allah mengabadikan pencarian itu dalam firman-Nya: "Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Tuhan Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. 6: 79).

Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu berada pada sesuatu yang tampak megah, bercahaya, dan memikat. Kebenaran tidak lahir dari pencitraan, kemasan luar, maupun permainan kata-kata.

Pada titik inilah ibadah kurban menjadi kritik atas kepalsuan manusia modern: kepalsuan gaya hidup, kepalsuan sosial, kepalsuan politik, bahkan kepalsuan moral dan pengetahuan. Manusia sering sibuk memperindah tampilan luar, tetapi lalai memperbaiki isi dirinya.

Karena itu, makna terdalam kurban sesungguhnya bukan hanya menyembelih hewan, melainkan juga menyembelih kesombongan, kerakusan, kemunafikan, dan tabiat hewani yang tumbuh di dalam diri manusia. Tidak semua orang mampu berkurban dengan harta. Namun setiap manusia sesungguhnya mampu berkurban dengan membersihkan hati, menata kehidupan, dan menghidupkan kembali nurani kemanusiaannya. Wallahu A'lam. **

 

*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak dan Sekretaris DPD FKOB Kota Pontianak.

Editor : Hanif
#kepedulian sosial #ibadah kurban #ego #keberanian