Oleh: Khairul Fuad*
JUDUL di atas cuplikan tembang Michael Jackson, King of Pop, berjudul Heal The World. Lagu tersebut kumpulan lagu dalam album Dangerous rilis Epics Record pada 26 November 1991. Michael Jackson seorang penyanyi pop dunia dengan berbagai kontroversi selama hidupnya, bahkan masih menyisakan kontroversi saat meninggal dan pascanya. Namun demikian, tembang-tembangnya adalah internalisasi peristiwa-peristiwa kemanusiaan, termasuk memantik inspirasi mengunggah semangat demi kehidupan lebih baik. Lirik sebagian secara keseluruhan, "Heal the world make a better place for you and for me and the entire human race", obati dunia membuat tempat lebih baik untukmu, untukku, dan seluruh umat manusia.
Mengingat tembang itu saat Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) bertajuk Eksplorasi dan Ekspedisi Pengetahuan Lokal dalam Mitigasi Konflik Beragama di Indonesia melalui lokus Madura. Mitigasi konflik beragama dapat dipahami sebagai upaya menciptakan tempat terbaik (make a better place) untuk kehidupan harmoni beragama dalam konteks Indonesia yang multiagama.
Sebenarnya anatomi keindonesiaan rentan terjadinya konflik sosial berdasar perbedaan secara horizontal. Jangankan agama karena adanya pengaruh claim salvation (klaim keselamatan), ideologi, budaya, bahasa berpotensi memantik konflik karena keraragamannya di Indonesia. Misalnya, konflik berdasar Ideologi berpotensi tersulut meskipun sudah ada penerimaan asas tunggal ideologi Pancasila, sebagaimana Nahdlatul Ulama (NU). Berkaca pengalaman beberapa tahun terkait isu-isu transnasional yang berusaha mereduksi keberadaan ideologi Pancasila.
Termasuk, budaya dan bahasa merupakan elemen bangsa berpotensi pemantik konflik, mengingat sebagai bagian identitas seseorang, berbanding lurus dengan marwah (dignity). Identitas terusik ibarat membangunkan harimau tidur, tetapi harimau memang harus bangun saat identitas Indonesia terusik dan marwah ternodai. Patut bersyukur kebangsaan dan kenegaraan keindonesiaan masih dan tetap berkibar di atas langit Indonesia.
Demikian juga, agama sangat rentan terjadinya konflik di Indonesia. Ragam agama memang dianut oleh warga Indonesia, bahkan tidak hanya agama-agama mapan yang telah diakui selama ini, ritual kepercayaan lain kini juga diakui secara resmi, di antaranya melalui penulisan penganut kepercayaan lain dalam kolom agama pada KTP. Secara historis, lembaran hitam-kelam konflik agama pernah terselip dalam halaman buku Indonesia. Peristiwa itu tentu menyisakan duka-lara traumatik di Indonesia yang berjargon Bhinneka Tunggal Ika bertengger dalam cengkeraman kuku-kuku kedua kaki Burung Garuda lambang negara.
Sementara itu, saat turun lapangan RIIM di Madura sebagai lokus, justru menemukan konflik internagama berdasarkan perbedaan cara-pandang dalam pengambilan hukum (istinbath al-hukmi). Ibarat contoh, qunut tidak qunut Subuh atau perbedaan jumlah rakaat Tarawih menimbulkan riak-riak konflik. Namun, kini sudah tidak ada lagi perdebatan qunut tidak qunut itu karena sudah jarang yang salat Subuh sebagai sebuah kritik.
Konflik antaragama hampir tidak terjadi, jika memang pernah, itu hanya sekali di Madura dan kejadiannya sudah berbilang tahun ke belakang. Secara kewilayahan, Madura mayoritas muslim, yang pada gilirannya, berpotensi konflik internagama karena perbedaan pemahaman. Dengan demikian, moderasi yang diusung pemerintah dirasa perlu diperhatikan, mengingat berbagai pemahaman digunakan dalam satu agama. Konsekuensi logis binneka (keragaman) kaindonesiaan semakin kompleks, selama ini seringnya antar kini justru internagama. Tentunya, pemangku kebijakan terus melakukan upaya melalui kebijaksanaan antarkedua belah pihak agar tetap ika (satu) di bawah tiang bendera merah-putih.
Konflik internagama telah menjadi perhatian pihak terkait pemerintah di Madura, tentunya sesuai undang-undang yang berlaku. Upaya dukungan pihak terkait itu berdasar pengetahuan masyarakat setempat guna mencari kesepakatan bersama. Melalui dukungan itu terbangun kebersamaan dalam rangka membangun rekonsiliasi secara alamiah. Pengetahuan setempat sebagai pendekatan kultural bagian penting kerangka bottom up, dari bawah ke atas, sehingga kebutuhan dan keinginan tumbuh alami, seiring keterjalinan saling kesepahaman. Jalinan kultural merupakan cara yang dirasa efektif-efisien untuk meredam dan menyelesaikan konflik dan pascakonflik daripada jalinan struktural.
Setidaknya melalui pengetahuan berbasis budaya Madura, memberi ruang bersama dalam merajut ikatan yang pernah terburai. Termasuk, pemikiran tokoh-tokoh setempat dapat menjadi dasar membangun kembali puing-puing yang dulu pernah berdiri. Tokoh-tokoh anutan masyarakat selalu memiliki daya inisiasi jalan keluar persoalan masyarakatnya. Melalui pengetahuan lokal, persoalan sendiri selesai dan tuntas melalui elemen perekat sendiri, dari sendiri oleh sendiri, dan untuk sendiri.
Permasalahan ini berpotensi juga terjadi di tempat lain di Indonesia, gesekan internagama untuk semua agama berdasar cara-pandang, yang pastinya tetap dalam regulasi yang berlaku. Namun demikian, bangsa ini punya contoh yang patut diteladani, bahwa dua ormas agama terbesar Indonesia sudah selesai dan tuntas dengan perbedaan cara pandang. Termasuk, para pendahulu-pendahulu kita yang memiliki cara-pandang berbeda dalam satu sisi, tetapi tetap dapat berinteraksi secara kultural dalam kehidupan sehari-hari.**
*Penulis adalah penulis civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).
Editor : Hanif