Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Idulkurban dan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Hanif PP • Selasa, 2 Juni 2026 | 10:08 WIB
Ilustrasi kurban online
Ilustrasi kurban online

Oleh: Iswardani*

IDULADHA yang juga biasa disebut Idul Kurban adalah momentum besar umat Islam yang tidak hanya meneguhkan nilai spiritual, tetapi juga menghadirkan dampak sosial-ekonomi yang nyata bagi masyarakat secara luas. Peristiwa Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya Ismail AS atas perintah Allah, lalu diganti dengan seekor hewan, menjadi simbol ketaatan dan pengorbanan. Dari kisah itu lahirlah tradisi kurban yang setiap tahun dilaksanakan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Tradisi ini bukan sekadar ritual ibadah, melainkan juga instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat, terutama bagi para peternak kecil di desa-desa. Setiap Iduladha, jutaan hewan kurban dibeli dari peternak lokal, menciptakan perputaran ekonomi yang mencapai triliunan rupiah. Dana dari masyarakat perkotaan mengalir ke desa, memperkuat usaha kecil dan menengah di sektor peternakan, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga peternak. Dengan demikian, Iduladha menjadi motor ekonomi rakyat yang berkelanjutan. 

Alquran menegaskan bahwa ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah dan berbagi dengan sesama. Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 36, "Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri. Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang rela dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan hewan-hewan itu untuk kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”

Ayat diatas menegaskan bahwa kurban memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial. Hewan kurban bukan hanya untuk dikonsumsi sendiri, tetapi juga untuk dibagikan kepada fakir miskin. Dengan demikian, kurban menjadi instrumen pemerataan gizi dan solidaritas sosial yang nyata. 

 

Peran Lembaga dalam Sinergitas Pemberdayaan

Dampak ekonomi Iduladha terlihat jelas dalam beberapa aspek. Pertama, peningkatan pendapatan peternak. Permintaan hewan kurban mendorong peternak meningkatkan produksi, memperbaiki kualitas, dan memperluas jaringan distribusi.

Kedua, perputaran uang di daerah. Dana hasil penjualan hewan kurban digunakan untuk membeli pakan, memperbaiki kandang, atau kebutuhan rumah tangga, sehingga menggerakkan ekonomi lokal.

Ketiga, pemerataan konsumsi protein. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat miskin yang jarang mengonsumsi daging, meningkatkan kualitas gizi dan mendukung kesehatan. Keempat, solidaritas sosial-ekonomi. Kurban memperkuat rasa kebersamaan: orang kaya berbagi dengan yang miskin, masyarakat kota membantu desa, dan umat Islam merasakan ikatan spiritual sekaligus sosial. 

Dalam konteks ini, peran Baznas menjadi sangat penting. Sebagai lembaga resmi Pemerintah pengelola zakat, infak, dan sedekah, Baznas turut mengelola distribusi hewan kurban melalui program kurban nasional. Baznas memastikan bahwa daging kurban tidak hanya menumpuk di perkotaan, tetapi juga sampai ke daerah terpencil, wilayah bencana, dan masyarakat prasejahtera yang jarang menikmati daging. Dengan jaringan distribusi yang luas, Baznas berperan sebagai penghubung antara donatur dan penerima manfaat, sehingga kurban benar-benar menjadi sarana pemerataan kesejahteraan.

Selain itu, Baznas juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan melibatkan peternak lokal dalam penyediaan hewan kurban, sehingga mereka mendapatkan pasar yang lebih luas dan harga yang lebih baik.  Namun, ada tantangan yang perlu diatasi. Rantai pasok hewan kurban masih belum efisien, harga pakan fluktuatif, distribusi hewan tidak merata, dan akses pembiayaan peternak terbatas. Dampak ekonomi kurban juga sering dianggap musiman, belum cukup kuat menciptakan keberlanjutan. Selain itu, manajemen distribusi daging kurban sering kali tidak merata: ada wilayah yang kelebihan, sementara daerah lain kekurangan.

Di sinilah peran Baznas semakin relevan, karena lembaga ini dapat menjadi regulator sekaligus fasilitator agar distribusi kurban lebih adil dan berkelanjutan.  Jika dikelola dengan baik, Iduladha bisa menjadi strategi pembangunan ekonomi inklusif. Pemerintah, masyarakat, dan lembaga seperti Baznas dapat bekerja sama membentuk koperasi peternak agar lebih kuat menghadapi pasar, memberikan akses pembiayaan murah bagi peternak kecil, mengatur distribusi daging kurban agar lebih merata, serta mengembangkan teknologi peternakan untuk meningkatkan kualitas hewan. Dengan langkah-langkah ini, Iduladha tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga pilar ketahanan ekonomi yang berkelanjutan.**

 

*Penulis adalah Wakil Ketua II Baznas Provinsi Kalbar. 

Editor : Hanif
#ekonomi rakyat #penguatan ekonomi #iduladha #kurban #Pemberdayaan