Oleh: Muhammad Azmi*
IBADAH kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan sebuah instrumen redistribusi kekayaan dan penggerak roda ekonomi kerakyatan secara nyata. Momentum Iduladha mengintegrasikan dimensi spiritual dengan dimensi material, mengubah ketakwaan individu menjadi energi kolektif yang menghidupkan berbagai sektor usaha masyarakat kecil. Melalui transaksi bernilai triliunan rupiah, kurban membuktikan bahwa syariat Islam memiliki jawaban konkret atas tantangan keadilan distribusi dan pemerataan kesejahteraan global.
Secara esensial, perintah kurban berakar kuat pada nilai kepatuhan dan kesyukuran atas rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Alquran melalui Surah Al-Kautsar ayat 2, "Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah."
Lebih jauh lagi, syariat ini menegaskan bahwa hewan yang disembelih harus membawa manfaat sosial bagi lingkungan sekitar, sebagaimana penegasan dalam Surah Al-Hajj ayat 36 yang memerintahkan umat Muslim untuk memakan sebagian dagingnya dan memberikan makan kepada orang yang merasa cukup maupun orang yang meminta-minta.
Melalui ayat ini, Islam memformulasikan sebuah sistem ekonomi di mana kepemilikan harta individu tidak boleh menumpuk secara eksklusif. Kurban bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan kelompok masyarakat yang memiliki daya beli kelebihan dengan masyarakat bawah, sehingga menciptakan sirkulasi ekonomi yang sehat dan inklusif.
Di balik keikhlasan spiritual umat Muslim, terdapat perputaran uang yang menjadi motor penggerak ekonomi musiman terbesar. Berdasarkan kajian lembaga riset ekonomi seperti Institute for Development of Economics and Finance, total nilai ekonomi dari aktivitas ibadah kurban di Indonesia diproyeksikan menembus angka Rp26,89 triliun. Meskipun dinamika daya beli masyarakat bergerak fluktuatif, nilai kapitalisasi yang masif ini mengalir langsung ke jantung ekonomi riil melalui berbagai saluran.
Aliran dana dari perkotaan langsung berpindah ke pedesaan untuk memberdayakan peternak kecil yang menyediakan komoditas ternak rakyat. Dampak pengganda ekonomi ini juga turut dirasakan oleh penyedia jasa logistik angkutan hewan antarwilayah, produsen pakan dan obat hewan, perajin pisau, hingga pedagang terpal penampungan. Sektor ketenagakerjaan musiman pun ikut terserap untuk memenuhi kebutuhan penjaga hewan ternak, panitia lokal, hingga tenaga jagal profesional. Siklus tahunan ini berhasil menghidupkan pelaku usaha mikro yang selama ini jarang tersentuh oleh modal-modal besar industri modern.
Salah satu tantangan terbesar ekonomi modern adalah ketimpangan wilayah dan kesenjangan sosial, dan ibadah kurban hadir sebagai instrumen redistributif karena bertumpu pada kesadaran iman, bukan sekadar paksaan regulasi fiskal negara. Daging kurban yang dibagikan secara cuma-cuma berfungsi meningkatkan pemenuhan gizi protein masyarakat miskin, menghilangkan sifat kikir pada pekurban, serta menghemat pengeluaran konsumsi pangan harian bagi para mustahik.
Melalui kolaborasi bersama lembaga amil zakat seperti Baznas dan berbagai lembaga sosial, inovasi pengolahan daging kurban seperti kornet atau rendang kaleng kini terus digalakkan. Langkah strategis ini mampu memperpanjang masa simpan sekaligus memecah konsentrasi perputaran ekonomi yang selama ini masih mendominasi wilayah tertentu, agar manfaatnya dapat menjangkau daerah pelosok dan tertinggal secara merata.
Hari Raya Kurban mengajarkan kepada kita sebuah prinsip fundamental bahwa kesejahteraan sejati tidak dicapai dengan menimbun kekayaan, melainkan dengan mengalirkannya. Di balik sebilah pisau yang disyariatkan untuk menyembelih hewan kurban, ada simpul-simpul kemiskinan yang terurai dan ada roda-roda ekonomi rakyat yang berputar lebih kencang. Kurban adalah bukti nyata bahwa ketika dimensi langit berupa ketaatan kepada Allah dijalankan dengan tulus, maka bumi dan kesejahteraan manusia akan ikut menuai berkah kemakmuran yang melimpah bagi semua lapisan masyarakat.**
*Penulis adalah pegiat literasi.
Editor : Hanif