Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tanda Seorang Hamba akan Menjadi Baik

Hanif • Jumat, 5 Juni 2026 | 08:34 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

Oleh: Sholihin HZ*

DALAM kitab Nasoihul ‘Ibad disebutkan jika Allah SWT berkehendak menjadikan hamba-Nya sebagai orang yang baik maka Allah SWT akan mendekatkan dan memberikan jalan untuk menempuh jalan-jalannya sehingga kecenderungan hamba tersebut pada kebaikan.

Disebutkan yang pertama adalah Allah SWT fahamkan ia dengan agamanya. Faham pasti berawal dari pengetahuannya tentang agamanya baik dalam hal usul (pokok-pokok agama) maupun furu’ (cabang-cabang). Fahamnya seseorang tentang sesuatu, dalam hal ini agamanya pasti berawal dari keingintahuan. Dari keingintahuan berlanjut mengikuti proses berikutnya yakni menekuni apa yang menjadi keingintahuannya tersebut. Ketika sudah menjadi pengetahuan maka tahap berikutnya adalah mengamalkan.

Seseorang yang difahamkan dengan agamanya maka ia menjadi lebih mudah untuk mengamalkannya, sehingga ia dari yang tidak tahu tentang agama menjadi lebih tahu dengan agama, dulunya tidak pernah hadir dimajlis ilmu saat ini sudah aktif hadir mengikuti kajian. Dulunya tidak akrab dengan referensi dan buku-buku agama saat ini menjadi senang dengan referensi keislaman.

Dulunya malas bergaul dengan orang berilmu (‘alim) saat ini senang mengikuti majlis-majlis orang ‘alim. Jika sudah demikian, maka ini tanda pertama bahwa ia masuk dalam kategori sedang Allah SWT siapkan menjadi orang baik. Permohonan berikutnya adalah semoga kecenderungan kebaikannya selalu dalam kondisi yang konsisten atau istiqamah.

Tanda berikutnya sebagai cara Allah berkehendak agar hamba menjadi lebih baik adalah ditanamkannya rasa zuhud. Zuhud bermakna tidak terlalu tertarik dengan dunia dan cukup dengan apa yang ada. Sederhananya memahami zuhud adalah seoprang yang memiliki kelebihan harta dan mampu membeli segalanya namun apa yang menjadi kebutuhannya sekadar untuk terpenuhi tanpa memiliki barang dan material berlebihan yang cenderung mubazir dan bahan pamer.

Si A mampu membeli banyak mobil tapi yang diperlukan hanya satu mobil, dengan mobil yang satu itulah si A melaksanakan aktifitasnya, inilah makna zuhud. Namun jika si A tergolong orang yang tidak mampu, miskin dan lemah ekonomi dan ketika ditanya mengapa tidak membeli mobil, lantas dijawab dengan saya zuhud, ini arti zuhud yang salah makna. Si A dengan contoh kedua bukanlah zuhud tetapi karena tidak memiliki kelebihan harta. 

Orang yang Allah SWT ingin menjadikanya hamba yang baik maka hamba itu dibuatkan ketenangan hati tidak terlalu terpengaruh dengan dunia meskipun ia memiliki kemampuan untuk mewujudkannya. Inilah doa yang diucapkan oleh Abu Bakkar ra. “Ya Allah jadikan harta ditanganku jangan di hatiku.

Tanda yang ketiga adalah, seseorang yang diberikan kemampuan untuk introspeksi terhadap aib dan cela pribadi. Saudaraku, setiap kita pasti memiliki aib dan cela. Kemampuan menyadari sisi ini menjadikan seorang yang Allah SWT kehendaki menjadi orang baik menyebabkannya muhasabah dan tidak terlalu kepo dengan aib orang lain.

Orang lain yang menegur karena sikap buruknya maka harus dilihat sebagai inilah cara Allah untuk mengingatkan hambanya agar menjadi orang baik dan senang dengan kebaikan meskipun cara ia menegur dengan cara yang kurang baik, sesungguhnya esensinya memahami teguran itu sebagai cara Allah SWT untuk kebaikan kita.

Tiga cara di atas adalah cara yang Allah SWT kehendaki pada hamba-Nya sebagai cara agar hamba-Nya memerankan diri sebagai pelaku kebaikan. Allah SWT senang dengan siapapun yang berbuat kebaikan dan balasannya adalah para pelaku kebaikan akan diberikan ketenangan hati, balasan kebaikan juga dan dicatat sebagai orang-orang yang baik. “Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”, demikian janji Allah SWT yang harus kita yakini. Semoga**

 

*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak.

Editor : Hanif
#paham agama #baik #intropeksi diri #tanda #hamba