Oleh: Maher Albar Septiawan*
Petani memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sektor pertanian menghadapi tantangan berupa semakin berkurangnya jumlah petani muda. Kondisi ini terlihat dari Hasil Sensus Pertanian 2023 yang menunjukkan bahwa sektor pertanian Indonesia masih didominasi oleh petani berusia lanjut, sedangkan jumlah petani dari kalangan generasi muda belum mampu mengimbangi kebutuhan regenerasi. Meningkatnya kebutuhan pangan seharusnya menjadi pengingat bahwa sektor pertanian tidak bisa berjalan tanpa adanya generasi penerus. Jika jumlah petani muda terus menurun, maka kemampuan Indonesia dalam menjaga produksi pangan dapat terancam.
Permasalahan regenerasi petani ternyata bukan hanya dialami oleh Indonesia. Sejumlah negara lain juga menghadapi tantangan yang sama, termasuk negara-negara maju seperti Jepang dan Belanda. Di Jepang, sebagian besar petani berada pada kelompok usia lanjut karena semakin sedikit generasi muda yang tertarik melanjutkan usaha pertanian. Banyak anak muda lebih memilih bekerja di sektor industri, teknologi, atau jasa yang dianggap menawarkan pendapatan lebih tinggi dan lingkungan kerja yang lebih modern. Akibatnya, sektor pertanian mengalami kekurangan tenaga kerja muda yang dapat menjadi penerus di masa depan.
Kondisi serupa juga pernah terjadi di beberapa negara Eropa. Namun, melalui dukungan teknologi, pelatihan, dan kebijakan yang berpihak kepada petani muda, sektor pertanian perlahan kembali menarik perhatian generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya minat anak muda terhadap pertanian bukan semata-mata karena mereka tidak menyukai bidang tersebut, tetapi juga karena pertanian sering kali belum mampu memberikan peluang yang dianggap menarik dan menjanjikan.
Salah satu alasan mengapa semakin sedikit anak muda yang tertarik menjadi petani adalah karena perubahan gaya hidup yang terjadi saat ini. Generasi muda tumbuh di era digital, di mana media sosial banyak menampilkan gambaran kesuksesan yang identik dengan pekerjaan kantoran, dunia bisnis, atau profesi di bidang teknologi. Tidak heran jika banyak anak muda kemudian memiliki cita-cita bekerja di perusahaan besar, menjadi pengusaha, atau bahkan menjadi kreator konten. Sementara itu, profesi petani masih sering dipandang sebagai pekerjaan yang berat, kotor, dan kurang menjanjikan dari segi ekonomi.
Selain itu, kehidupan di perkotaan sering kali dianggap lebih menarik dibandingkan kehidupan di pedesaan. Banyak anak muda memilih merantau untuk mencari pekerjaan yang dinilai lebih bergengsi dan memiliki jenjang karier yang jelas. Akibatnya, tidak sedikit yang enggan melanjutkan usaha pertanian yang telah dikelola keluarganya selama bertahun-tahun. Padahal, tanpa disadari, keputusan tersebut membuat sektor pertanian kehilangan generasi penerus yang sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, tantangan terbesar saat ini bukan hanya meningkatkan minat generasi muda terhadap pertanian, tetapi juga mengubah cara pandang mereka bahwa bertani dapat menjadi profesi yang modern, menguntungkan, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Melihat berbagai permasalahan tersebut, upaya menarik minat generasi muda ke sektor pertanian tidak bisa dilakukan hanya dengan mengajak mereka kembali ke sawah. Yang lebih penting adalah menciptakan kondisi yang membuat pertanian menjadi pilihan yang layak dan menjanjikan. Saat ini banyak anak muda sebenarnya tertarik pada bidang yang berhubungan dengan teknologi, kreativitas, dan kewirausahaan. Oleh karena itu, sektor pertanian perlu dikembangkan ke arah yang lebih modern agar sesuai dengan minat dan kebutuhan generasi saat ini.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperluas pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pertanian. Penggunaan drone untuk pemupukan, sensor untuk memantau kondisi lahan, serta pemasaran hasil panen melalui media sosial dan marketplace dapat menunjukkan bahwa pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan tradisional. Dengan melihat pertanian sebagai sebuah bisnis yang modern dan inovatif, generasi muda akan lebih mudah tertarik untuk terlibat di dalamnya.
Pendidikan juga memiliki peran yang penting dalam membangun minat generasi muda terhadap pertanian. Selama ini banyak anak muda yang mengenal pertanian hanya sebatas kegiatan menanam dan memanen. Padahal, sektor agribisnis mencakup berbagai peluang usaha, mulai dari produksi, pengolahan hasil pertanian, pemasaran digital, hingga ekspor produk pertanian. Karena itu, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan perlu lebih aktif memperkenalkan potensi tersebut kepada generasi muda.
Dalam hal ini, pemerintah memegang peran yang sangat penting. Salah satu tantangan yang sering dihadapi petani muda adalah keterbatasan modal, akses lahan, dan ketidakpastian harga hasil panen. Oleh sebab itu, pemerintah perlu memberikan dukungan melalui program pembiayaan, pelatihan, pendampingan usaha, serta kemudahan akses terhadap teknologi pertanian. Program seperti Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian dapat menjadi salah satu contoh upaya untuk mendorong lahirnya wirausaha muda di sektor pertanian.
Di samping itu, pemerintah juga perlu menciptakan kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Selama pendapatan petani masih dianggap rendah dan tidak menentu, akan sulit bagi generasi muda untuk menjadikan pertanian sebagai pilihan karier. Karena itu, stabilitas harga hasil pertanian, perlindungan terhadap petani, serta penguatan akses pasar perlu menjadi perhatian utama. Dengan adanya jaminan usaha yang lebih baik, sektor pertanian dapat dipandang sebagai profesi yang memiliki masa depan yang jelas.
Regenerasi petani bukan hanya tanggung jawab petani atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Jika pertanian mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memberikan peluang yang menjanjikan, generasi muda tidak akan lagi melihat pertanian sebagai pekerjaan yang tertinggal. Sebaliknya, pertanian dapat menjadi sektor strategis yang mampu menarik minat anak muda sekaligus menjaga ketahanan pangan Indonesia di masa depan.
Menariknya, rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian bukan berarti mereka sepenuhnya meninggalkan dunia pertanian. Saat ini banyak anak muda justru mulai tertarik pada komoditas tertentu yang dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar yang menjanjikan. Salah satu komoditas yang cukup diminati adalah kopi. Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya budaya minum kopi dan berkembangnya bisnis coffee shop di berbagai daerah telah membuka peluang baru bagi generasi muda untuk terlibat dalam agribisnis kopi. Ketertarikan tersebut tidak hanya terbatas pada kegiatan budidaya, tetapi juga mencakup pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan merek produk kopi lokal.
Selain kopi, komoditas hortikultura seperti sayuran hidroponik, cabai, tomat, dan melon premium juga mulai banyak diminati oleh generasi muda. Komoditas-komoditas tersebut dianggap lebih fleksibel untuk dikembangkan karena memiliki nilai jual yang relatif tinggi dan didukung oleh permintaan pasar yang cukup stabil. Di beberapa daerah, usaha tanaman hias dan urban farming juga berkembang pesat karena dapat dijalankan di lahan yang terbatas serta memanfaatkan teknologi modern dalam proses produksinya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya masih memiliki ketertarikan terhadap sektor pertanian. Namun, mereka cenderung memilih usaha tani yang lebih inovatif, berorientasi pasar, dan memiliki nilai tambah yang jelas. Dengan kata lain, anak muda tidak menolak pertanian, tetapi mereka menginginkan sektor pertanian yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan memberikan peluang ekonomi yang lebih menjanjikan.
Oleh karena itu, sawah, kebun, dan ladang yang selama ini menjadi sumber pangan bangsa tidak dapat terus bergantung pada generasi petani yang semakin menua. Kehadiran petani muda menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi. Regenerasi petani harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia. Ketika generasi muda mulai melihat pertanian sebagai sektor yang modern, inovatif, dan menjanjikan, maka harapan untuk menjaga ketahanan pangan nasional akan tetap terbuka. Sebab pada akhirnya, masa depan pertanian Indonesia sangat bergantung pada siapa yang bersedia melanjutkan perjuangan para petani hari ini.**
*Penulis adalah mahasiswa prodi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Editor : Hanif