Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Lagu MBG dan Ritual Komunikasi Instan

Hanif • Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:29 WIB
Dr. Amalia Irfani, M.Si
Dr. Amalia Irfani, M.Si

 

Oleh: Dr.  Amalia Irfani,  M. Si*

FENOMENA viralnya lagu MBG yang belakangan mendominasi ruang digital bukan hanya sekadar hiburan. Ia adalah gejala sosial yang memperlihatkan bagaimana masyarakat berkomunikasi, membentuk identitas, dan mengonstruksi makna dalam era algoritma. Dari perspektif sosiologi komunikasi, MBG menjadi simbol kebersamaan semu, yakni sebuah ikatan sosial yang rapuh, cepat muncul, dan cepat pula menghilang.

Namun, di balik kritik, fenomena ini juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana komunikasi publik dapat diarahkan ke jalur yang lebih sehat dan bermakna. Popularitas MBG lahir bukan karena kedalaman pesan, melainkan karena kemampuannya menembus ekosistem media sosial. Potongan lagunya mudah dijadikan latar video pendek, meme, atau tantangan TikTok. Inilah wajah budaya viral: pola komunikasi instan yang berulang, di mana nilai utama bukan pada isi melainkan pada keterjangkauan audiens. Sosiologi komunikasi menyoroti bahwa dalam budaya viral, makna sering kali direduksi menjadi simbol singkat yang bisa diproduksi ulang tanpa henti.

Jika dulu popularitas lagu ditentukan oleh radio dan televisi, kini viralitas MBG lahir dari interaksi horizontal antar pengguna. Setiap orang menjadi produsen sekaligus konsumen konten. Demokratisasi komunikasi memang terjadi, tetapi sekaligus melahirkan homogenisasi : semua orang mengulang tren yang sama, sehingga ruang kreativitas sering kali tereduksi. Inilah wajah baru komunikasi massa yang tidak lagi dikendalikan institusi besar, melainkan jutaan interaksi kecil yang saling menular.

Lagu MBG juga menjadi simbol identitas kolektif. Dengan ikut menyanyikan atau membuat konten terkait lagu ini, individu merasa menjadi bagian dari komunitas global. Namun, identitas kolektif yang terbentuk bersifat cair dan temporer. Begitu tren bergeser, ikatan sosial yang dibangun melalui lagu tersebut pun memudar. Kritik sosiologis di sini jelas, masyarakat semakin terjebak dalam siklus identitas instan yang dangkal dan rapuh.

 

Lagu MBG dan Fenomena Sosial

Tak bisa diabaikan dari dimensi ekonomi,  lagu MBG menjadikannya komoditas yang diperebutkan oleh platform, kreator, dan brand untuk menarik klik, tayangan, dan interaksi. Musik bukan lagi sekadar ekspresi seni, melainkan instrumen kapitalisasi atensi. Masyarakat diarahkan untuk mengonsumsi konten bukan karena kebutuhan makna, melainkan karena dorongan algoritmik yang mengejar keuntungan.

Meski begitu, MBG juga menghadirkan resonansi sosial. Lagu ini menembus batas geografis dan sosial, menciptakan ruang percakapan bersama lintas kelas dan usia. Namun, resonansi ini sering kali dangkal: percakapan berhenti pada level hiburan, jarang berkembang menjadi diskusi kritis tentang isi atau pesan lagu. Di sinilah letak kritik sosiologis, komunikasi publik kehilangan kedalaman, digantikan oleh interaksi superfisial.

Namun, fenomena MBG tidak harus berhenti pada kritik. Sosiologi komunikasi memberikan pandangan agar budaya viral tidak sekadar melahirkan kebersamaan semu, melainkan bisa menjadi ruang komunikasi yang lebih reflektif dan bermakna.

Pertama, pendidikan literasi digital menjadi kunci. Masyarakat perlu dibekali dengan kemampuan membaca fenomena viral secara kritis. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis menggunakan media sosial, tetapi juga kesadaran untuk menilai makna, dampak, dan tujuan dari konten yang dikonsumsi. Dengan literasi yang baik, masyarakat tidak mudah terjebak dalam siklus viralitas dangkal.

Kedua, penguatan komunitas lokal dapat menjadi solusi. Viralitas bisa diarahkan untuk memperkuat ikatan sosial nyata. Lagu atau tren digital dapat dijadikan medium untuk membangun solidaritas komunitas lokal, misalnya dengan mengaitkan tren dengan isu sosial, budaya, atau lingkungan yang relevan. Dengan begitu, identitas kolektif tidak hanya cair dan temporer, tetapi juga berakar pada realitas sosial.

Ketiga, etika komunikasi digital harus diperkuat. Kreator maupun pengguna harus memahami bahwa setiap konten yang mereka sebarkan memiliki dampak sosial. Etika komunikasi digital menuntut agar viralitas tidak hanya mengejar sensasi, tetapi juga memberi ruang bagi pesan yang membangun.

Keempat, dialog kritis harus menjadi bagian dari budaya digital. Viralitas bisa dijadikan pintu masuk untuk percakapan yang lebih dalam. Lagu MBG, misalnya, dapat menjadi bahan diskusi tentang budaya populer, identitas generasi, atau logika algoritma. Dengan menggeser percakapan dari hiburan ke refleksi, masyarakat dapat memanfaatkan viralitas sebagai momentum untuk memperkuat komunikasi publik yang kritis.

Dari penjabaran tersebut, dapat kita simpulkan viralitas MBG adalah potret masyarakat digital yang hidup dalam logika algoritma, ekonomi perhatian, dan identitas kolektif instan. Dari perspektif sosiologi komunikasi, fenomena ini menegaskan bahwa masyarakat kini lebih sibuk memburu sensasi ketimbang substansi. Kita berharap budaya viral tidak lagi sekadar melahirkan kebersamaan semu, tetapi bisa menjadi ruang komunikasi yang reflektif, kritis, dan bermakna.**

 

*Penulis adalah Kaprodi Studi Agama-Agama FUSHA IAIN/Sekretaris LPP PWM Kalbar.

Editor : Hanif
#lagu MBG #media sosial #viral #kebersamaan #budaya digital