Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tiga Kluster Manusia dalam Merespon Pergantian Tahun

Hanif • Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:36 WIB
Ma
Ma'ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

CATATAN takdir kadang memaksa seseorang untuk berhadapan dengan kerasnya kehidupan dan persaingan dari tahun ke tahun. Banyak yang berhasil, tapi tidak sedikit yang gagal dan terjatuh. Ada yang bangkit lagi atau tenggelam selamanya. Di tengah kurs mata uang dolar yang menguat, dan inflasi tinggi. Sehingga mata uang rupiah melemah di kalangan mata uang dunia.

Banyak hal yang harus diperbaiki diantaranya ialah cara merespon keadaan, menyikapi waktu, menanggapi hari ini dan besok dengan perisai akhlak. Tanpa akhlak, kita tidak akan pernah bersyukur terhadap limpah-curah rahmat yang datang dari Allah. Tidak bersabar terhadap musibah yang mendera. Dan tidak mau

mencari solusi tepat guna.

Ketahuilah, Tuhan tidak marah terhadap dosa manusia, bila itu bagian dari takdir baginya yang sudah tercatat untuk dijalani. Tapi Tuhan sangat marah jika seseorang betah malah menikmati  dosa, lalu tidak mau atau menunda tobat. Tuhan tidak bosan menurunkan rezeki. Namun Tuhan marah jika rezeki dari-Nya tidak disyukuri. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw mengkategorisasi manusia ke dalam tiga nilai keadaan (kemaren dan hari ini) dengan tiga kualitas.

Pertama, orang yang hari ini, lebih baik daripada hari kemaren. Siapa yang menjalani hari ini (tahun ini), lebih baik daripada hari kemaren (tahun kemaren), Nabi Muhammad Saw menyebut mereka orang yang beruntung (rabih). Karena menghargai perubahan dan pergantian waktu dengan mengasah diri ke arah yang lebih baik. Buktinya, semakin akhir kehidupan seseorang di dunia, semakin menciri dekat kepada ujung kehidupan pada grafik meningkat secara ilmu, iman dan ihsan (husnulkhatimah).

Mencontoh umat yang terbaik adalah mereka yang beriman, berjihad, berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Momen ini diraih oleh kaum Muhajirin yang menolong agama Allah SWT. Kemudian disusul oleh kaum Anshar yang menolong kaum Muhajirin sebagai jemputan kasih dan jembatan sayang. Datang generasi ketiga ialah mereka yang hidup pasca Muhajirin dan Anshar yang mendapat anugerah dengan doa mereka.

"Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan (Muhajirin dan Anshar). Dan janganlah engkau tanamkan kedengkian di dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (Al-Hasyr:10)."

Orang yang beriman dan bertakwa selalu beruntung. Karena versi kehidupan mereka selalu diperbarui. Kesediaan untuk mengevaluasi diri secara terus-menerus. Tidak stagnasi pada suatu kondisi jiwa yang malas. Namun, terus meningkat setapak demi setapak menuju Tuhan. Terus mencari ilmu dan berilmu, membaca, belajar dan mengajar. Bertindak untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Kedua, orang yang hari ini lebih buruk daripada hari kemaren. Siapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemaren. Pekan, bulan dan tahun ini lebih buruk daripada pekan, bulan dan tahun kemaren, sungguh ia terkutuk (mal'un). Betapa tidak, setelah diperlihatkan ayat-ayat Tuhan tentang ampunan, rahmat dan surga, mengapa mereka tidak tidak tertarik, apakah mereka tidak berpikir? Setelah ayat-ayat Tuhan tentang neraka dibentang, mengapa mereka belum juga tiba waktunya untuk kembali kepada Allah, apakah mereka tidak merenung? Apakah belum cukup peringatan dari-Nya, sehingga mereka lalai? Mereka sadar, namun memilih jalan keburukan

daripada kebaikan. Sebuah keputusan yang didasarkan atas kesadaran bebas tanpa paksaan, serta sudah mengerti resiko yang akan ditanggung.

Pilihan surga dan neraka merupakan putusan yang sengaja mereka ambil. Namun tipe ini, memilih neraka daripada surga. Mereka memilih kegelapan daripada cahaya, memilih buta daripada melihat, memilih tuli daripada mendengar, memilih yang buruk daripada yang baik. Mereka itulah orang-orang yang dengan sengaja melampaui batas, sangat jahat dan selalu mendurhakai Tuhan.

Timbul pertanyaan yang paling mendasar, ketika manusia sanggup melihat, mengapa masih dikatakan buta? Lalu, kepada siapa selama ini mereka melihat, dengan siapa dan untuk siapa? Bila ini belum terjawab, selamanya mereka buta di dunia dan di akhirat. Tiadalah mereka sanggup merubah diri, meskipun hari, pekan, bulan dan tahun sudah berubah. Malah dari waktu ke waktu semakin buruk akhlak dan rusak budi bahasa.

Ketika manusia merasa kuat, disinilah letak lemahnya. Sebab merasa kuat pemantik kesombongan. Merasa melihat pada hakikatnya buta. Kecuali manusia merasa

kuat karena dikuatkan oleh Allah Swt. Merasa melihat karena diperlihatkan oleh An-Nur Allah SWT. Semula alam semesta gelap kecuali setelah datang cahaya-Nya.

Orang yang sombong menciri versi terburuk dari waktu ke waktu, versi terjahat dari ruang ke ruang. Sombong identik dengan kebodohan dan kebohongan. Bodoh tapi mengaku pintar, buta  mengaku melihat, tuli mengaku mendengar.

Bohong mengaku pintar, padahal diri penuh kekurangan. Karena esensi yang mendengar adalah Allah SWT  yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Singkap tabir "katarak batin."

Ternyata, manusia dapat melihat karena dikuasakan Tuhan untuk melihat. Manusia dapat mendengar karena dikuasakan Tuhan untuk mendengar. Manusia dapat berbicara karena dikuasakan Tuhan sanggup berbicara. Asal mulanya, manusia buta, tuli dan bisu. Kemudian Allah Swt memberi petunjuk dengan ilmu-Nya yang maha meliputi semesta. Menganugerahkan kehidupan kepada manusia dari-Nya yang maha hidup. Melimpahkan kuasa-Nya kepada manusia untuk memimpin atas nama-Nya.

Ketiga, orang yang hari ini sama dengan hari kemaren. Kualitas manusia ditentukan oleh perubahan dan pergerakan ke arah positif. Parameter ini yang menandakan kehidupan seseorang dihitung sehingga bermakna. Bahwa manusia ialah makhluk yang berpikir. Jika tidak ada perubahan, tipe stagnan, sungguh ia akan merugi (khasir).

Tidak berguna baginya ketika Allah memutar malam menjadi siang, dan memutar siang menjadi malam. Malam dan siang ialah tanda-tanda kekuasaan-Nya agar manusia tunduk. Orang yang beranggapan semua hari, pekan, bulan dan tahun adalah sama saja, berarti gagal paham untuk memetik hikmah dari pergantian waktu dan peralihan masa.

"Sesungguhnya orang-orang yang ingkar, keadaan mereka sama saja, engkau (Muhammad) memberi peringatan atau tidak memberi peringatan, mereka tetap tidak beriman. (Al-Baqarah:6)."

Akhirnya, semoga literasi ini bermanfaat untuk semua kalangan. Terlebih menghadapi tahun depan yang lebih banyak tantangan dan cobaan. Optimis, semangat, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sangat penting. Disamping berbagi, dan berhati pemurah di hari-hari yang serba payah. Semoga Allah memudahkan yang sulit, dan memberi rezeki yang berkah dari arah yang tidak diduga. Selamat tahun baru, 1448 Hijriah.**

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#Tahun Baru Hijriah #preubahan diri #perspektif islam #refleksi