Oleh: Feira Budiarsyah Arief
FASE pemulangan jemaah haji Indonesia tahun 1447 H/2026 M telah dimulai. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci, satu per satu kelompok terbang kembali ke Indonesia membawa sejuta kenangan, pengalaman spiritual, dan tentu saja oleh-oleh untuk keluarga tercinta di rumah.
Sesuai jadwal yang telah ditetapkan, pemulangan jemaah haji Indonesia dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dipulangkan melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, mulai 1 Juni hingga 15 Juni 2026. Sementara gelombang kedua terlebih dahulu diberangkatkan ke Madinah sebelum kembali ke Tanah Air melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, dengan masa pemulangan berlangsung dari 16 Juni hingga 30 Juni 2026. Kloter terakhir dijadwalkan tiba di Indonesia pada 1 Juli 2026.
Namun, sebagaimana musim-musim haji sebelumnya, menjelang kepulangan selalu ada satu "ritual" yang tidak tertulis dalam buku manasik haji.
Namanya adalah urusan oleh-oleh.
Jika saat keberangkatan jemaah berangkat dengan koper yang masih menyisakan ruang kosong, maka saat kepulangan kondisinya sering kali berubah drastis.
Koper yang semula terasa lapang mendadak penuh sesak.
Timbangan yang sebelumnya aman berubah menjadi sesuatu yang cukup menegangkan.
Dan yang paling sering menjadi bahan pembicaraan di lobi hotel adalah satu pertanyaan klasik:
"Berat kopernya berapa sekarang?"
Aturan sebenarnya cukup jelas.
Setiap jemaah memperoleh jatah satu koper bagasi dengan berat maksimal 32 kilogram, satu koper kabin maksimal 7 kilogram, serta satu tas kecil atau tas selempang untuk kebutuhan pribadi selama perjalanan.
Namun praktik di lapangan sering kali memiliki cerita tersendiri.
Tas tambahan muncul dari berbagai arah.
Ada yang membawa kantong plastik besar.
Ada yang membawa tas belanja.
Ada pula yang membawa kardus kecil yang entah dari mana asalnya.
Semua tampak berusaha ikut "naik pesawat" bersama pemiliknya.
Maka tidak mengherankan apabila menjelang keberangkatan menuju bandara, suasana kamar hotel sering berubah menjadi arena bongkar muat barang.
Ada yang menimbang koper berkali-kali.
Ada yang memindahkan isi koper dari kanan ke kiri.
Ada yang memasukkan barang ke tas kabin.
Ada pula yang mencoba berbagai strategi agar seluruh oleh-oleh tetap bisa ikut pulang ke Indonesia.
Di tengah beragam jenis oleh-oleh tersebut, ada satu benda yang tampaknya selalu menjadi primadona dari tahun ke tahun.
Benda itu bukan emas.
Bukan pula parfum mahal.
Bukan kurma premium.
Melainkan boneka unta.
Entah sejak kapan tradisi ini dimulai, namun hampir setiap musim haji selalu terlihat pemandangan yang sama.
Di ruang tunggu bandara, di dalam bus, di hotel, bahkan saat antre boarding, boneka-boneka unta hadir dalam berbagai ukuran.
Ada yang kecil.
Ada yang sedang.
Ada pula yang ukurannya cukup besar hingga sulit dimasukkan ke dalam koper.
Seolah-olah belum lengkap perjalanan haji tanpa membawa pulang seekor "unta" untuk anak, cucu, keponakan, atau keluarga di rumah.
Lucunya, kadang harga boneka unta tersebut tidak terlalu mahal, tetapi ruang yang dibutuhkan di koper justru sangat besar.
Akibatnya, boneka unta sering menjadi "tersangka utama" penyebab kelebihan bagasi.
Meski demikian, para jemaah tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya.
Sebab mereka memahami bahwa oleh-oleh bukan sekadar barang.
Di balik setiap bungkus kurma, tasbih, sajadah, air zamzam, parfum, atau boneka unta, tersimpan rasa rindu kepada keluarga yang telah menunggu kepulangan mereka selama berpuluh-puluh hari.
Oleh-oleh menjadi simbol bahwa perjalanan spiritual yang luar biasa itu ingin dibagikan kepada orang-orang tercinta di rumah.
Namun sesungguhnya, jika direnungkan lebih dalam, oleh-oleh terpenting dari perjalanan haji bukanlah yang tersimpan di dalam koper.
Bukan pula yang dibungkus rapi dalam tas belanja.
Bukan yang ditimbang saat check-in ataupun diperiksa saat boarding.
Oleh-oleh terbesar dari Tanah Suci adalah perubahan diri.
Kesabaran yang lebih baik.
Kejujuran yang lebih kuat.
Kepedulian yang lebih tinggi.
Kedisiplinan yang lebih terjaga.
Serta hati yang semakin dekat kepada Allah SWT.
Sebab kurma pada akhirnya akan habis dimakan.
Parfum akan habis dipakai.
Sajadah akan menua.
Bahkan boneka unta yang begitu digemari anak-anak suatu saat akan usang.
Tetapi nilai-nilai yang dipelajari selama menjalankan ibadah haji akan terus hidup sepanjang usia.
Karena itu, ketika para jemaah mulai bersiap meninggalkan Makkah dan Madinah, sesungguhnya mereka tidak hanya sedang membawa pulang oleh-oleh untuk keluarga.
Mereka sedang membawa pulang pelajaran hidup yang diperoleh dari perjalanan spiritual terbesar dalam kehidupan seorang Muslim.
Dan semoga, di antara berbagai barang yang memenuhi koper dan tas bawaan itu, terdapat satu oleh-oleh yang paling berharga: haji yang mabrur.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro