Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Muharram di Era Algoritma

Hanif • Rabu, 17 Juni 2026 | 09:30 WIB
Syamsul Kurniawan
Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan*

PADA Senin malam, 15 Juni 2026, matahari akan kembali tenggelam seperti biasanya. Langit perlahan berubah dari biru menjadi tembaga, lalu larut ke dalam warna yang tak pernah benar-benar memiliki nama. Pada saat itulah kalender Hijriah berganti. Tahun 1447 H berakhir, dan tahun 1448 H dimulai. Namun tak ada yang sungguh-sungguh berhenti. Waktu tetap mengalir sebagaimana sungai yang tak pernah menunggu siapa pun. Begitulah adanya. Pergantian tahun hanyalah penanda yang dibuat manusia untuk mengingat bahwa hidup terus bergerak, sementara hari-hari tetap berjalan dengan caranya sendiri.

Keesokan harinya, Selasa, 16 Juni 2026, ditetapkan sebagai hari libur nasional. Orang-orang menyebutnya Tahun Baru Islam. Sebagian akan mengikuti pawai obor yang bergerak perlahan di jalan-jalan kampung. Sebagian mendengarkan ceramah di masjid atau surau. Sebagian lainnya mungkin hanya menikmati hari libur bersama keluarga, jauh dari keramaian dan seremoni.

Namun seperti setiap pergantian tahun, pertanyaan yang sesungguhnya penting bukanlah tanggal berapa kita berada. Kalender hanya mencatat perpindahan angka. Yang lebih penting adalah menanyakan ke mana kita sedang menuju.

Pertanyaannya adalah: ke mana kita sedang bergerak? Muharram selalu mengingatkan kita pada sebuah perjalanan. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Ia adalah perpindahan cara pandang. Perpindahan kesadaran. Perpindahan dari ketakutan menuju harapan, dari keterpecahan menuju persaudaraan, dari kekacauan menuju tata kehidupan yang lebih adil.

Karena itu, setiap Muharram seharusnya tidak hanya mengajak manusia menghitung usia kalender. Muharram mengajak manusia menghitung arah sejarahnya sendiri. Dan barangkali tidak pernah ada masa yang lebih membutuhkan perhitungan semacam itu selain masa sekarang.

Kita hidup di zaman yang aneh. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan mampu menulis puisi, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu mengambil keputusan. Jarak geografis kehilangan maknanya. Informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahaminya.

Tetapi pada saat yang sama, dunia justru tampak semakin mudah terpecah. Media sosial yang diciptakan untuk menghubungkan manusia sering kali berubah menjadi arena permusuhan. Algoritma yang dirancang untuk mempertemukan orang dengan informasi justru kerap mempertemukan mereka dengan kemarahan. Semakin banyak orang berbicara, semakin sedikit yang mendengarkan.

Kita menyaksikan paradoks itu setiap hari. Orang dapat mengetahui peristiwa di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik, tetapi gagal memahami tetangganya sendiri. Orang dapat mengakses jutaan halaman pengetahuan, tetapi semakin sulit membedakan fakta dan prasangka. Orang dapat terhubung dengan ribuan akun, tetapi merasa semakin terasing.

Di tengah situasi semacam itu, agama sering ikut terseret ke dalam pusaran yang tidak selalu sehat. Agama yang semestinya menjadi sumber kebijaksanaan kadang berubah menjadi identitas politik. Ia dipakai sebagai penanda kawan dan lawan. Sebagai alat mobilisasi. Sebagai bendera untuk membelah masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling mencurigai.

Padahal, Indonesia dibangun bukan di atas keseragaman. Indonesia lahir justru karena keberagaman. Lebih dari tujuh belas ribu pulau. Ratusan bahasa. Ratusan kelompok etnis. Berbagai agama dan tradisi. Sejarah Indonesia adalah sejarah tentang bagaimana perbedaan belajar hidup bersama.

Karena itu, ketika politik identitas mengeras, ketika intoleransi menemukan ruangnya, ketika radikalisme tumbuh dalam berbagai bentuknya, yang sedang terancam sesungguhnya bukan hanya harmoni sosial. Yang terancam adalah fondasi kebangsaan itu sendiri.

Di titik inilah gagasan moderasi beragama memperoleh relevansinya. Moderasi sering disalahpahami sebagai upaya mengurangi kadar keberagamaan seseorang. Seolah-olah menjadi moderat berarti menjadi kurang taat.

Padahal yang dimaksud bukan itu. Moderasi tidak mengubah agama. Yang diubah adalah cara manusia memperlakukan agamanya dalam ruang sosial. Seseorang dapat memegang keyakinannya dengan teguh tanpa harus membenci mereka yang berbeda. Seseorang dapat meyakini kebenaran agamanya tanpa harus meniadakan kemanusiaan orang lain.

Dalam tradisi Islam, gagasan ini dikenal melalui konsep wasathiyah. Jalan tengah. Sikap yang adil. Seimbang. Tidak berlebihan. Jalan tengah bukan posisi yang nyaman. Ia justru posisi yang sulit.

Ekstremisme selalu menawarkan kesederhanaan. Dunia dibagi menjadi hitam dan putih. Kawan dan lawan. Surga dan neraka.

Moderasi menawarkan sesuatu yang lebih rumit: memahami bahwa manusia hidup di tengah keragaman pengalaman, sejarah, dan pengetahuan. Karena itu, moderasi bukan kelemahan. Moderasi adalah kecerdasan moral. Dan Indonesia sesungguhnya memiliki warisan panjang mengenai hal tersebut.

Islam berkembang di Nusantara bukan melalui pedang. Ia tumbuh melalui percakapan. Melalui perdagangan. Melalui seni. Melalui budaya. Para ulama terdahulu memahami bahwa dakwah tidak harus menghancurkan tradisi untuk menghadirkan iman.

Mereka memilih jalan dialog. Mungkin karena itu Islam dapat berakar begitu kuat di kepulauan ini tanpa harus menghapus warna lokal yang telah lebih dahulu hidup. Namun warisan sejarah tidak otomatis bertahan. Setiap generasi harus merawatnya kembali. Dan di era algoritma, tugas itu menjadi jauh lebih berat.

Algoritma tidak memiliki kebijaksanaan. Ia hanya mengenali pola. Jika kemarahan menghasilkan klik lebih banyak daripada ketenangan, maka kemarahan akan disebarkan lebih luas. Jika kebencian menghasilkan interaksi lebih tinggi daripada dialog, maka kebencian memperoleh panggung yang lebih besar.

Akibatnya, ruang digital sering bekerja seperti cermin yang memperbesar sisi paling emosional dalam diri manusia. Kita tidak hanya hidup bersama algoritma. Kita sedang dididik oleh algoritma. Itulah sebabnya persoalan utama abad ini pada akhirnya kembali menjadi persoalan pendidikan.

Bukan semata pendidikan formal yang berlangsung di ruang kelas. Tetapi pendidikan dalam arti paling luas: bagaimana suatu masyarakat membentuk cara berpikir generasinya.

 

Belajar dari Luka Afrika

Di sinilah sejarah Afrika memberi pelajaran yang sering luput dari perhatian kita.

Selama berabad-abad, benua itu mengalami kolonialisme yang panjang. Kekayaan alamnya dieksploitasi. Manusianya diperlakukan sebagai tenaga kerja murah. Struktur sosialnya dibentuk untuk melayani kepentingan kekuatan-kekuatan luar.

Ketika gelombang kemerdekaan datang setelah Perang Dunia II, terutama setelah menguatnya solidaritas pasca Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955, harapan besar muncul di seluruh benua. Tetapi kemerdekaan ternyata tidak serta-merta menyelesaikan persoalan.

Banyak negara mewarisi luka yang sangat dalam. Ketimpangan ekonomi tetap bertahan. Konflik identitas tetap hidup. Kelembagaan politik belum kokoh. Kemiskinan dan ketergantungan ekonomi sulit diatasi.

Afrika Selatan memberikan contoh yang paling jelas. Apartheid bukan sekadar kebijakan politik. Ia adalah sistem yang mengajarkan manusia untuk melihat manusia lain sebagai warga kelas dua. Ia adalah pendidikan diskriminasi yang dilembagakan. Dan seperti semua bentuk pendidikan yang buruk, dampaknya bertahan jauh lebih lama daripada rezim yang menciptakannya.

Ketika apartheid runtuh, tantangan terbesar bukan hanya mengganti pemerintah. Tantangan terbesarnya adalah mengubah kesadaran. Bagaimana masyarakat yang telah lama hidup dalam segregasi dapat belajar kembali hidup bersama? Bagaimana dendam sejarah tidak berubah menjadi dendam masa depan? Bagaimana luka dapat diubah menjadi rekonsiliasi?

Di situlah kepemimpinan Nelson Mandela menjadi penting. Ia memahami bahwa kemenangan politik saja tidak cukup. Sebuah bangsa tidak dibangun hanya dengan mengganti penguasa. Sebuah bangsa dibangun dengan mengubah cara warga memandang sesamanya.

Pelajaran Afrika sebenarnya sederhana tetapi mendalam. Kemerdekaan politik tanpa pembangunan manusia hanya menghasilkan kebebasan yang rapuh. Pembangunan ekonomi tanpa pendidikan karakter hanya menghasilkan kemajuan yang mudah retak. Dan keberagaman tanpa kesadaran hidup bersama dapat berubah menjadi konflik yang berkepanjangan.

Pelajaran itu relevan bagi Indonesia. Kita memang tidak mengalami apartheid. Tetapi kita mengenal prasangka. Kita mengenal stereotip. Kita mengenal kecenderungan untuk menganggap kelompok sendiri lebih utama daripada kelompok lain.

Dalam bentuk yang berbeda, benih-benih perpecahan selalu ada. Karena itu, pertanyaan terbesar Indonesia bukanlah bagaimana menjadi bangsa yang lebih besar. Pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana tetap menjadi bangsa yang utuh.

Jawabannya kembali mengarah pada pendidikan. Tetapi pendidikan yang dibutuhkan abad ini berbeda dari masa lalu. Dulu sekolah dianggap sebagai gudang pengetahuan. Hari ini pengetahuan tersedia di mana-mana. Dulu guru menjadi satu-satunya sumber informasi. Hari ini informasi datang dari layar yang berada di genggaman setiap siswa.

Perubahan ini sering menimbulkan kecemasan. Apakah teknologi akan menggantikan guru? Apakah kecerdasan buatan akan menggantikan sekolah? Mungkin pertanyaan itu keliru sejak awal. Teknologi memang dapat menyampaikan informasi lebih cepat daripada manusia. Tetapi teknologi tidak dapat menggantikan keteladanan. Ia tidak dapat menggantikan empati. Ia tidak dapat menggantikan kebijaksanaan. Ia tidak dapat menggantikan kemampuan seorang guru untuk melihat kegelisahan di wajah muridnya.

Karena itu, masa depan pendidikan bukanlah pertarungan antara manusia dan teknologi. Masa depan pendidikan adalah kemampuan menyatukan keduanya. Pendidikan harus memanfaatkan teknologi tanpa menyerahkan kemanusiaannya kepada teknologi. Ia harus mengajarkan literasi digital sekaligus literasi moral. Ia harus menghasilkan generasi yang cerdas menggunakan perangkat digital sekaligus cerdas mengelola dirinya sendiri.

Bagi pendidikan Islam, tantangan itu bahkan lebih besar. Ia dituntut tetap menjaga identitas keagamaannya sekaligus mampu menjawab kebutuhan zaman. Ia tidak cukup mengajarkan apa yang harus diketahui. Ia juga harus mengajarkan bagaimana hidup bersama. Ia tidak cukup menghasilkan lulusan yang saleh secara ritual. Ia harus menghasilkan manusia yang adil, toleran, kreatif, kritis, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.

Karena itu, pendidikan Islam masa depan tidak dapat hanya berorientasi pada hafalan. Ia harus bergerak menuju pembelajaran aktif, dialogis, kolaboratif, dan berbasis pemecahan masalah. Ia harus memanfaatkan teknologi digital, tetapi tetap menjadikan akhlak sebagai pusat gravitasinya. Ia harus menyiapkan generasi yang mampu hidup di era kecerdasan buatan tanpa kehilangan kecerdasan nuraninya. Dan mungkin di situlah makna Muharram menjadi terasa kembali.

Hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat. Kadang hijrah berarti berpindah cara berpikir. Berpindah dari fanatisme menuju dialog. Berpindah dari prasangka menuju pemahaman. Berpindah dari sekadar menguasai teknologi menuju kemampuan menggunakan teknologi secara bijaksana. Berpindah dari pendidikan yang hanya mencetak lulusan menuju pendidikan yang membentuk manusia.

Pada malam pergantian tahun Hijriah nanti, jutaan orang akan memanjatkan doa. Mereka berharap tahun yang baru membawa kehidupan yang lebih baik. Harapan itu tentu penting. Tetapi sejarah mengajarkan bahwa masa depan tidak dibangun hanya oleh harapan. Ia dibangun oleh keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini. Keputusan untuk mendidik daripada menghasut. Keputusan untuk berdialog daripada memusuhi. Keputusan untuk belajar daripada merasa paling tahu. Keputusan untuk merawat keberagaman daripada mengeksploitasinya.

Muharram 1448 H datang ketika manusia hidup di bawah bayang-bayang algoritma yang semakin canggih. Namun secanggih apa pun algoritma, ia tidak dapat menentukan arah moral sebuah bangsa. Tugas itu tetap berada di tangan manusia. Dan mungkin itulah pesan yang paling layak dibawa memasuki tahun baru ini: bahwa peradaban pada akhirnya tidak ditentukan oleh teknologi yang kita miliki, melainkan oleh kebijaksanaan yang kita gunakan untuk mengarahkannya.

Sebab sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa bangsa yang mampu bertahan bukanlah bangsa yang paling kuat, melainkan bangsa yang paling mampu belajar dari luka, merawat keberagaman, dan mendidik generasi berikutnya untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada dirinya sendiri.**

 

*Penulis adalah Ketua Komisi Pendidikan Keagamaan, Dewan Pendidikan Kalimantan Barat.

Editor : Hanif
#1 muharram 1448 H #pendidikan #momentum #Moderasi Beragama #digital