Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Antara Dominasi PTN dan Keteguhan Kampus Swasta

Hanif • Jumat, 19 Juni 2026 | 08:30 WIB
Jayadi, S.Pd., M.Or.
Jayadi, S.Pd., M.Or.

Oleh: Jayadi, S.Pd., M.Or*

POPULARNYA daya tarik perguruan tinggi negeri (PTN) telah merombaknya arah kompetisi dalam perguruan tinggi di Indonesia semakin berkembang. Selain dukungan setiap anggaran fasilitas untuk pembangunan sarana dan prasarana, Biaya Oprasional Perguruan Tinggi negeri (BOPTN) sebanyak Rp9,4 triliun terhadap 201 PTN, dan lembaga di tahun 2026 saat ini. Beberapa alokasi anggaran meliputi revitalisasi sebanyak Rp553 miliar, dan sarana prasarana dengan jumlah Rp2.314 triliun.

Belum lagi suatu nilai prestise akannya pencitraan atau pengaruh dari pada akreditasi unggul terhadap kampus bersangkutan, sehingga menjadikan perhatian khusus di setiap mata calon mahasiswa baru yang memandangnya. Sekedar usulan dan saran kenapa tidak ada di kampus PTS diberikan biaya oprasional perguruan tinggi swasta (BOPTS) agar memegang teguh asas keadilan.  Tidak perlu mengeluarkan dana yang banyak dalam menarik simpati para calon pendaftar Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) atau Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) mereka akan datang dengan sendirinya. PTN kian mengendalikan komunitas pendidikan tinggi berbasis nasional.

Lonjakan minat untuk keperguruan tinggi negeri pada tahun sebelumnya 2025 yang berjumlah 829.790 peserta sedangkan pada tahun ini SNBT 2026 mencapai 871.496 peserta, artinya peningkatan terjadi 1,22 persen peminat. Namun pada tahun ini hanya 256.369 peserta yang diterima dalam persentase sebesar 29,42 persen. Artinya, selebihnya dari itu akan mengarah pada sasaran kampus swasta itu kemungkinan barang kali atau bisa ia dan tidak melanjutkan, karena tidak ada data yang dapat menjelaskan setiap hasil seleksi berapa banyak yang mendaftar di kampus swasta setelah pilihan pertamanya pupus ditengah jalan.

Bagaimana reaksi dari kampus perguruan tinggi swasta dalam mengambil kesempatan ini. Apakah semakin tetap eksistensi dalam keberadaannya atau hanya berdiam diri ditengah penghujung jurang.  Bagaimana mempertahankan masa depan atas keberlangsungan dalam pembiayaan segalanya untuk kehidupannya. Mungkin negara ini hanya menguji dengan cara menghembuskan napas sebentar terhadap kampus PTS, apakah benar-benar mampu bertahan atas kekuatan berdirinya atau mungkin terjatuh dan tak akan mampu berdiri lagi hanya tinggal kenangan.

Banyak hal yang menunjukan betapa sangat membantunya kampus swasta sebelum berdirinya kampus-kampus negeri, barang kali selama puluhan tahun telah menjadikan suatu penggagas perguruan tinggi negeri di negara ini. Berapa banyak kampus swasta menerima dan menampung calon mahasiswa yang dinyatakan tidak lulus oleh kampus negeri karena sangat terbatas dengan kuota jumlah dan fasilitasnya. Kampus swasta hadir menjadi media dalam menuntun meraih cita-cita anak bangsa dalam memperoleh pendidikan tinggi. Banyak yang berpandangan kampus swasta hanya tambahan atas buangan dari ketidak lulusnya di kampus negeri, hal ini hanya kesalahan persepsi dari ekspektasi sebelumnya akan tujuan awal yang tak terwujud.

Mungkin dominasi PTN sangat baik untuk suatu rival terhadap PTS dalam peningkatan mutu terhadap tantangan terbaru sekarang ini. Dengan adanya pertarungan ini setidaknya kedua perguruan tinggi negeri dan swasta dapat bersaing mendapatkan calon mahasiswa baru akan semakin sangat ketat, belum lagi antara kampus-kampus swasta yang berdekatan disuatu wilayahnya. Bagaimana kampus swasta dapat menyakinkan akan setiap anggapan atas ketimpangan terhadap mentalitas dari korban ekspektasi pelarian dari harapan sebelumnya, sehingga menyadari ini bukan akhir dalam mewujudkan cita-cita sesungguhnya dan ini adalah jalan Tuhan. Tantangan ini merupakan tekanan dalam suatu momentum perubahan untuk suatu yang sangat besar sebagai acuan dasar dari pilihan kedua dari kemauan telah lalu.

Telah banyak berdirinya kampus PTS di berbagai daerah sehingga terbuka peluang beradaptasi akan realitanya keperluar kebutuhan masing-masing. Walaupun telah banyak berdirnya PTN akan tetapi hanya terletak di setiap kota-kota besar. Kampus swasta mampu membawa dirinya dalam membaur dan bersinggungan langsung terhadap masyarakat ditingkat bawah, sehingga membuat dirinya memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Barang kali PTN lebih agak sulit terhadap birokrasi, mungkin tawaran menarik di kampus swasata lebih sedikit gesit dan cepat untuk membaca peluang dengan membuka prodi yang baru sesuai keinginan pasar setempat. Barang kali hal ini yang menjadikan kampus swasta di daerah masih bertahan terhadap kampus negeri.

Hakikatnya pendidikan tinggi setidaknya bukan tempat arena dalam pertarungan antara kampus negeri dan swasta, sebaliknya merupakan ruang untuk kolaborasi memberikan suatu sumber daya manusia memiliki unggul. Tatkala PTN menerima pencapaian berbagai privilese, sementara bagaimana dengan kampus swasta yang berjuang mati-matian kesendiriannya, menghadapi segala keterbatasan dari sumber daya, apa yang akan terjadi hanya persaingan tidak sehat menimbulkan kesenjangan mendalam semakin sangat melebar sulit untuk disatukan.

Seberapa tangguh kampus swasta dalam melanjutkan keeksistensinya terhadap keberadaan dalam bertahan hidup ditengah-tengah dominasi PTN. Apa yang dilakukan oleh setiap PTS akan terus mendidik, melakukan pembaruan, selalu memberikan hal terbaik sesuai permintaan masyarakat demi merealisasikan mimpi-mimpi dari cita-cita anak daerah walaupun sedikit dengan keterbatasan. Mungkin banyak kampus PTS yang berdiri berdasarkan idealisme dan keteguhan atas pengabdian, bukan atas bisnis dan kekayaan untuk yayasan belaka, nilai ini akan selalu terjaga dalam bingkai kebersamaan demi memajuan mencerdaskan anak bangsa.

Pada kesimpulannya, tidak dapat dipungkiri keterlibatan suatu negaraterhadap kualitas dunia perguruan tinggi melaui PTN, namun bagaimana seharusnya keteguhan kampus PTS tidak dapat untuk diremehkan dalam pembangunan pendidikan di negeri ini. Sinergitas antara PTN dan PTS harus menjadi mitra yang strategis bukan untuk saling menggugurkan. Bukan kah kemajuan bangsa ini hanya dibangun atas sedikitnya terhadap kampus berakreditasi Unggul melalinkan keseluruhan dari berbagai institusi perguruan tinggi dalam bekerjasama untuk mencerdaskan dalam berkehidupan dan berbangsa.**

 

*Penulis adalah Kaprodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

Editor : Hanif
#kampus swasta #SNBT #dominasi #pemerataan pendidikan #ptn